Perang Iran Dorong Tiongkok Dekati Negara Asia Tenggara
- 28 Mar 2026 13:05 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memicu lonjakan harga bahan bakar di Asia Tenggara setelah terganggunya aliran energi melalui Selat Hormuz.
- Negara-negara Asia Tenggara merespons dengan subsidi, penghematan energi, serta mencari pasokan alternatif, sementara Tiongkok menawarkan kerja sama dan mendorong diplomasi untuk meredakan krisis.
- Dalam jangka panjang, krisis ini dinilai dapat memperkuat peran Tiongkok di kawasan, terutama dalam mendorong transisi energi terbarukan dan mengurangi ketergantungan pada minyak Timur Tengah.
RRI.CO.ID, Beijing — Perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memicu lonjakan harga bahan bakar di Asia Tenggara. Situasi ini memberi peluang bagi Tiongkok untuk menampilkan diri sebagai mitra yang lebih stabil dibandingkan Washington.
Pertempuran yang berlangsung berminggu-minggu telah mengganggu aliran minyak dan gas melalui Selat Hormuz. Hal tersebut menyebabkan negara-negara Asia Tenggara bergegas mengamankan pasokan energi mereka, dilansir dari Deutsche Welle, Sabtu, 28 Maret 2026.
Beijing kemudian menawarkan koordinasi dan kerja sama terkait keamanan energi. Beijing juga menyatakan siap bekerja sama dengan negara-negara di kawasan untuk menghadapi krisis tersebut.
Dampak krisis mendorong pemerintah Asia Tenggara menerapkan kebijakan penghematan bahan bakar dan meningkatkan subsidi guna meredam kenaikan harga. Sementara itu, negara seperti Malaysia dan Brunei tetap terdampak meski merupakan eksportir energi.
Filipina menetapkan keadaan darurat energi nasional selama satu tahun. Pemerintah juga mengubah jam kerja menjadi empat hari, memerintahkan pengurangan konsumsi energi, serta memberikan bantuan tunai bagi pekerja transportasi.
Vietnam menggunakan dana stabilisasi harga bahan bakar dan meminta maskapai bersiap mengurangi operasional. Indonesia akan menambah subsidi melalui anggaran negara, sementara Thailand mempertimbangkan bantuan baru akibat lonjakan harga diesel yang mengancam sektor perikanan.
Malaysia juga meningkatkan pengeluaran subsidi untuk menjaga harga tetap stabil. Di tengah situasi ini, negara-negara Asia mencari pasokan alternatif di luar kawasan Teluk, termasuk impor bahan bakar Rusia.
Tiongkok memanfaatkan momentum dengan menyerukan de-eskalasi konflik di Timur Tengah dan menekankan diplomasi. Beijing juga mendorong pembukaan kembali Selat Hormuz sambil berhati-hati agar tidak terseret langsung ke konflik.
Krisis ini memperkuat narasi Beijing sebagai pendukung perdamaian, terutama karena intervensi militer AS-Israel dinilai tidak populer di Asia Tenggara. Kenaikan harga energi juga memperburuk citra Amerika Serikat di kawasan.
Dalam jangka panjang, krisis ini dinilai dapat memperkuat peran Tiongkok di Asia Tenggara. Hal tersebut terutama terkait dorongan transisi menuju energi terbarukan dan pengurangan ketergantungan kawasan pada minyak Timur Tengah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....