Mengatasi Masalah Energi, Tiongkok Siap Bekerja Sama dengan Asia Tenggara

  • 20 Mar 2026 19:25 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Tiongkok menyatakan kesiapan bekerja sama dengan negara-negara Asia Tenggara untuk menghadapi krisis keamanan energi akibat konflik di Timur Tengah.
  • Ketegangan geopolitik berdampak pada pasokan energi dan pupuk global, termasuk gangguan distribusi melalui Selat Hormuz.
  • Perserikatan Bangsa-Bangsa memperingatkan potensi krisis pangan global, sementara Tiongkok berkomitmen menjaga ekspor pupuk di tengah tekanan harga dan konflik.

RRI.CO.ID, Beijing — Tiongkok menyatakan kesiapan untuk bekerja sama dengan negara-negara Asia Tenggara. Kerja sama ini ditujukan untuk menghadapi tantangan keamanan energi di tengah meningkatnya konflik di Timur Tengah.

Ketegangan geopolitik yang terus berlangsung dinilai telah memberikan dampak signifikan terhadap pasokan minyak dan gas global. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Lin Jian, menegaskan pentingnya kerja sama regional dalam menghadapi situasi tersebut.

Ia menyebut Tiongkok siap memperkuat koordinasi dengan negara-negara Asia Tenggara guna mengatasi krisis energi secara bersama-sama. Selain itu, Lin juga menyerukan penghentian konflik dan meminta negara-negara terkait untuk segera menghentikan operasi militer.

“Tiongkok siap memperkuat kerja sama dan koordinasi dengan negara-negara Asia Tenggara serta bersama-sama mengatasi masalah keamanan energi,” kata Lin, dikutip dari South China Morning Post, Jumat, 20 Maret 2026.

Menurutnya, konflik yang berkepanjangan berpotensi mengganggu stabilitas kawasan dan menghambat pertumbuhan ekonomi global. Dampak konflik tidak hanya dirasakan di sektor energi, tetapi juga pada industri pupuk global.

Kawasan Teluk yang menjadi pusat produksi pupuk penting kini menghadapi ancaman gangguan distribusi, terutama akibat ketegangan di Selat Hormuz. Jalur tersebut diketahui menyumbang hampir sepertiga perdagangan pupuk dunia.

Di tengah kekhawatiran tersebut, Filipina menyatakan telah menerima jaminan dari Tiongkok terkait kelangsungan pasokan pupuk. Sebelumnya, muncul laporan bahwa Beijing akan memperketat pembatasan ekspor, namun hal ini dibantah oleh pemerintah Tiongkok.

Pemerintah Tiongkok menegaskan akan tetap mengekspor sebagian pupuk ke pasar internasional sambil memastikan kebutuhan domestik tetap terpenuhi. Namun, kenaikan harga gas alam sebagai bahan utama produksi pupuk turut menambah tekanan pada sektor ini.

Perserikatan Bangsa-Bangsa memperingatkan bahwa gangguan produksi dan distribusi telah menghambat jutaan ton perdagangan pupuk setiap bulan. PBB juga mengingatkan bahwa dampak lanjutan dari konflik berpotensi mendorong puluhan juta orang ke dalam kondisi kelaparan akut.

Seiring eskalasi konflik, infrastruktur energi turut menjadi sasaran serangan, memperburuk situasi global. Kondisi ini semakin menegaskan pentingnya kerja sama internasional untuk menjaga stabilitas pasokan energi dan pangan di tengah ketidakpastian.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....