Mantan Menlu Soroti Posisi Indonesia di tengah Konflik AS-Iran
- 10 Mar 2026 14:23 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Sejumlah negara dikabarkan turut menawarkan diri untuk menjadi mediator di tengah konflik Timur Tengah yang melibatkan Amerikat Serikat, Isarel dan Iran. Menurut laporan, sekitar 12 negara telah menghubungi Washington untuk menawarkan bantuan mediasi guna menghentikan perang tersebut.
Mantan Menteri Luar Negeri RI periode 2001-2009, Hassan Wirajuda, memberikan respons mengenai posisi Indonesia di tengah konflik tersebut. Menurutnya, Indonesia perlu memposisikan diri secara tepat dalam merespons konflik antar negara tersebut.
“Pertama harus jelas bahwa dalam perang yang kita saksikan sekarang bahwa Iran adalah korban yang dilanggar kedaulatannya dan keutuhan wilayahnya. Peran Indonesia di sini harus ke arah yang melakukan penghentian terhadap konfliknya,” kata Hassan dalam dialog khusus bersama Pro 3 RRI, Selasa, 10 Maret 2026.
Hassan turut menyinggung Indonesia yang menganut prinsip politik bebas aktif. Meski konflik ini tidak berdampak langsung terhadap politik luar negeri, menurutnya Indonesai tetap perlu berperan dalam menyelesaikan konflik.
“Sebagai negara dengan politik luar negeri bebas aktif, kita bisa mengajak negara-negara sehaluan. Mereka yang tidak mendukung dan ingin perang segera dihentikan,” ujarnya.
Ia menilai, cukup banyak negara yang memiliki kepentingan yang sama dalam menghentikan perang. Hassan yakin, setidaknya negara-negara terkait bisa sama-sama turun tangan menyelesaikan konflik tersebut.
“Tadi saya sebut negara-negara Eropa, China, Jepang, bahkan Rusia sekalipun bukan hanya tidak suka perang. Tapi mereka juga sadar bahwa perang yang berkepanjangan pasti akan mempengaruhi mereka,” katanya.
Menurutnya, dukungan dari negara-negara tersebut dapat memperkuat posisi Indonesia dalam mendorong upaya perdamaian. Dengan demikian, peran Indonesia tidak berdiri sendiri dalam menghadapi konflik yang kompleks.
“Jadi di situ aktifnya kita. Bebas aktifnya kita bisa kita mainkan dan terperankan,” ujarnya.
Meski demikian, Hassan mengingatkan bahwa peran mediator memerlukan momentum yang tepat. Saat ini, menurutnya, intensitas konflik masih berada pada fase yang tinggi.
“Pertama sekali, kita harus menemukan momentum yang baik. Kita lihat masa-masa perang saat ini masih sangat tinggi,” ujarnya.
Ia menilai, peluang mediasi biasanya muncul ketika pihak yang bertikai mulai mengalami kelelahan. Kondisi tersebut membuka ruang bagi mediator untuk menawarkan jalan damai.
“Akan ada waktu di masa depan ketika mereka penat, ketika mereka tidak lagi menyangka mereka akan menang. Kemudian di situlah saatnya mediator untuk melakukan yang terbaik,” katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....