Menlu Lazaro Soroti Peran Strategis Media di Keketuaan Filipina ASEAN
- 29 Jul 2026 14:30 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Menlu Filipina Maria Theresa Lazaro menilai, media memegang peran strategis dalam memastikan berbagai kebijakan dan agenda ASEAN dapat dipahami masyarakat luas selama Keketuaan Filipina.
- Dalam pidatonya pada ASEAN Media Forum (AMF) ke-10, Lazaro mengatakan media bukan sekadar melaporkan jalannya pertemuan para pemimpin dan menteri, tetapi juga menerjemahkan bahasa diplomasi menjadi informasi yang relevan bagi masyarakat.
- Lazaro juga menilai penyelenggaraan Forum Media ASEAN memiliki makna khusus karena pertama kali digelar pada 2017, ketika Filipina terakhir kali menjadi Ketua ASEAN.
RRI.CO.ID, Manila - Media dinilai memegang peran strategis dalam memastikan berbagai kebijakan dan agenda ASEAN dapat dipahami masyarakat luas selama Keketuaan Filipina. Kata Menlu Filipina Maria Theresa Lazaro, yang turut menambahkan setiap hasil perundingan ASEAN baru akan memiliki arti apabila mampu menjangkau publik melalui pemberitaan yang akurat dan mudah dipahami.
Dalam pidatonya pada ASEAN Media Forum (AMF) ke-10, Lazaro mengatakan media bukan sekadar melaporkan jalannya pertemuan para pemimpin dan menteri, tetapi juga menerjemahkan bahasa diplomasi menjadi informasi yang relevan bagi masyarakat. Menurut dia, pemberitaan media membuat keputusan ASEAN dipahami sebagai kebijakan yang berdampak langsung terhadap kehidupan hampir 700 juta penduduk di kawasan.
"Setiap deklarasi yang kita adopsi, setiap pernyataan yang kita keluarkan, setiap perjanjian yang kita capai, dan setiap konsensus yang kita bangun dengan penuh kesabaran di meja perundingan. Hanya akan memiliki makna ketika semuanya sampai kepada masyarakat kita," ujar Lazaro saat menghadiri forum yang berlangsung Rabu, 28 Juli 2026 di Manila
Ia menambahkan, Filipina selalu memandang media sebagai mitra dalam mengomunikasikan tujuan Keketuaan ASEAN. "Melalui kesabaran dan ketelitian Anda dalam menelaah setiap halaman dokumen-dokumen penting, serta komitmen Anda dalam menerjemahkan bahasa diplomasi menjadi kisah-kisah yang dapat dipahami oleh masyarakat, pekerjaan ASEAN menjadi bermakna," ujarnya.
Lazaro juga menilai penyelenggaraan Forum Media ASEAN memiliki makna khusus karena pertama kali digelar pada 2017, ketika Filipina terakhir kali menjadi Ketua ASEAN. Kini, satu dekade kemudian, Filipina kembali memimpin ASEAN dan memperbarui komitmennya untuk memperkuat dialog dengan komunitas media di kawasan.
Menurut dia, selama tujuh bulan Keketuaan Filipina, media telah melaporkan berbagai isu strategis yang menjadi perhatian kawasan. Mulai dari krisis di Myanmar, ketegangan di perbatasan Thailand-Kamboja, perkembangan di Timur Tengah, hingga pembahasan Kode Etik di Laut Cina Selatan.
Berbagai isu tersebut, kata Lazaro, mencerminkan situasi yang ditandai oleh "tiga U", yakni upheaval (gejolak), uncertainty (ketidakpastian), dan unpredictability (ketidak-terdugaan). Di tengah tantangan tersebut, Filipina terus mendorong berbagai agenda prioritas ASEAN.
Termasuk implementasi Visi Komunitas ASEAN 2045, penguatan ketahanan pangan, ketahanan energi dan keselamatan warga negara ASEAN. Kemudian, kerja sama maritim, serta peningkatan hubungan dengan para mitra eksternal.
"Oleh karena itu, kami mengandalkan kemitraan Anda yang berkelanjutan dalam memastikan bahwa kerja ASEAN disampaikan dengan akurat, adil, dan mendalam, bukan hanya untuk memberikan informasi. Tetapi, juga untuk memperkuat pemahaman publik mengenai pentingnya kerja sama regional, terutama ketika kita memasuki lima bulan terakhir masa Keketuaan kami," ujar Lazaro menekankan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....