Dubes Kim: Kode Etik LCS Tidak Boleh Abaikan Kepentingan AS

  • 24 Jul 2026 14:36 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Amerika Serikat (AS) menghormati keputusan ASEAN untuk melanjutkan negoasiasi mengenai Kode Etik (CoC) Laut Cina Selatan (LCS) dengan Tiongkok.
  • Namun, dari sudut pandang AS, hasil akhir negosiasi tidak boleh mengabaikan kepentingan negara itu.
  • Hal itu telah ditegaskan Menlu Marco Rubio, bahwa AS akan terus berlayar di perairan internasional.

RRI.CO.ID, Jakarta - Amerika Serikat (AS) menghormati keputusan ASEAN untuk melanjutkan negoasiasi mengenai Kode Etik (CoC) Laut Cina Selatan (LCS) dengan Tiongkok. Kata Duta Besar AS untuk ASEAN Kevin Kim dalam konferensi pers secara daring, Jumat, 24 Juli 2026.

“Mengenai negosiasi CoC di LCS, seperti yang saya sampaikan sebelumnya, AS menghormati ASEAN sebagai organisasi yang mengambil keputusan berdasarkan konsensus. Kami menghormati keputusan ASEAN untuk melanjutkan pembahasan dengan Cina mengenai CoC, yang telah berlangsung selama bertahun-tahun,” ujar Kim menjelaskan.

Menurut Kim, AS turut memahami negosiasi Kode Etik di LCS merupakan isu penting bagi ASEAN dan Tiongkok. “Kami memahami bahwa isu ini sangat penting, baik bagi Tiongkok maupun seluruh negara anggota ASEAN,” ucapnya.

Meski demikian, Kim menekankan bahwa hasil negosiasi Kode Etik tersebut tidak boleh mengabaikan kepentingan AS. Sebab, Kim menyebut AS juga memiliki kepentingan di Laut Cina Selatan.

“Dari sudut pandang AS, hasil akhir negosiasi tidak boleh mengabaikan kepentingan AS. Karena, AS juga memiliki kepentingan yang penting di Laut Cina Selatan,” kata Dubes Kim menekankan.

Kim menjelaskan, hal itu telah ditegaskan Menlu Marco Rubio, bahwa AS akan terus berlayar di perairan internasional. Kemudian, memastikan AS tetap memenuhi kewajiban berdasarkan perjanjian pertahanan dengan Filipina.

“Serta terus menjunjung prinsip-prinsip hukum internasional. Termasuk, Konvensi Hukum Laut PBB (UNCLOS) dan putusan Mahkamah Arbitrase 2016 mengenai Laut Cina Selatan,” ujarnya menegaskan.

Secara khusus Dubes Kim mengungkapkan, AS juga memiliki kewajiban berdasarkan perjanjian pertahanan dengan Filipina. Menlu Rubio dalam kunjungannya ke Manila pekan ini turut mengumumkan tambahan USD60 juta untuk bantuan hibah militer bagi Filipina.

“Karena itu, dalam kunjungan Menlu Rubio kami mengumumkan tambahan USD60 juta sehingga total bantuan hibah militer bagi Filipina menjadi USD100 juta. Bantuan ini ditujukan agar Filipina dapat mempertahankan kedaulatannya serta mencegah terjadinya konflik,” kata Dubes Kim memaparkan.

“Bantuan tersebut tentunya melengkapi berbagai bentuk kerja sama keamanan rutin antara AS dan Filipina. Pada akhirnya, yang terpenting adalah setiap sengketa di LCS harus menghormati kedaulatan wilayah Filipina, sebagaimana telah berulang kali ditegaskan AS.”

Sementara, Indonesia menyatakan pembahasan CoC LCS antara ASEAN dan Tiongkok menunjukkan perkembangan positif. Meski belum mencapai kesimpulan dalam Pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN (AMM) ke-59, negosiasi dinilai terus bergerak maju dengan target penyelesaian pada tahun ini.

Dalam forum tersebut, Menlu RI kembali menegaskan pentingnya ASEAN menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus menjaga perdamaian dan stabilitas regional. Adapun ASEAN dan Tiongkok di bawah Keketuaan Filipina menargetkan penyelesaian CoC LCS pada 2026.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....