Harga Minyak Naik, Negara-Negara Asia Aktifkan Rencana Darurat
- 10 Mar 2026 14:16 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Negara-negara di Asia mulai menyiapkan berbagai rencana darurat setelah konflik di Timur Tengah mendorong kenaikan harga minyak dunia. Harga minyak mentah global telah melampaui USD100 (Rp1,6 juta) per barel akibat perang Amerika Serikat-Israel dan Iran.
Dilansir dari Anadolu, Selasa, 10 Maret 2026, kenaikan harga energi memicu kekhawatiran di Asia terhadap potensi gangguan pasokan minyak. Sejumlah pemerintah di kawasan mulai memantau situasi secara ketat serta menyiapkan langkah darurat untuk mengantisipasi dampak ekonomi.
Pemerintah India menyatakan harga bahan bakar masih tetap stabil untuk saat ini karena mengandalkan sumber pasokan minyak yang beragam. India juga memiliki cadangan minyak strategis dan stok komersial yang cukup memenuhi kebutuhan selama 50 hingga 74 hari.
Sementara itu, Tiongkok sebagai importir minyak terbesar di dunia juga terus memantau perkembangan konflik. Atlantic Council melaporkan, Beijing membangun cadangan minyak mentah dalam jumlah besar dan memiliki produksi minyak domestik yang lebih tinggi.
Di Australia, pemerintah mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembelian bahan bakar secara panik. Menteri Energi Chris Bowen menegaskan bahwa pasokan energi Australia masih berada dalam kondisi kuat dan stabil.
Beberapa negara Asia lainnya bahkan telah mengambil langkah penghematan. Di Pakistan, pemerintah yang dipimpin Perdana Menteri Shehbaz Sharif menyiapkan rencana penghematan energi.
Rencana tersebut mencakup pembelajaran jarak jauh serta kebijakan kerja dari rumah setelah harga bensin dinaikkan. Bangladesh juga memutuskan menutup sementara lembaga pendidikan di seluruh negeri untuk menghemat listrik dan bahan bakar.
Di Malaysia, Perdana Menteri Anwar Ibrahim mengatakan pemerintah akan berupaya menjaga harga bensin agar masyarakat tidak terbebani. Di Indonesia, pemerintah mulai mengalihkan sebagian pembelian minyak ke Amerika Serikat dan pemasok lainnya.
Para pakar industri di Sri Lanka memperingatkan bahwa kenaikan biaya pengiriman dapat memicu lonjakan harga pangan. Mereka juga menyebut pelemahan nilai tukar dapat mendorong harga pangan naik sekitar 5 hingga 10 persen dalam beberapa bulan.
Sementara itu di Korea Selatan, Presiden Lee Jae Myung meminta otoritas setempat segera menerapkan batas harga bahan bakar. Kebijakan tersebut diusulkan untuk mengatasi lonjakan harga energi dan volatilitas nilai tukar.
Ketidakpastian geopolitik dan kenaikan biaya energi juga mengguncang pasar keuangan di Jepang. Indeks saham Nikkei mencatat penurunan tajam di tengah meningkatnya kekhawatiran investor.
Situasi ini menunjukkan bahwa konflik di Timur Tengah tidak hanya berdampak pada kawasan tersebut. Konflik itu juga memicu efek domino terhadap ekonomi dan keamanan energi di berbagai negara Asia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....