Apa Dampak untuk Indonesia jika Selat Hormuz Ditutup? Ini Bocorannya

  • 04 Mar 2026 11:38 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Selat Hormuz di Iran, ternyata memiliki peran penting untuk perdagangan minyak dan gas dunia, termasuk untuk Indonesia. Namun saat ini, seluruh negara di dunia sedang ikat pinggang kencang-kencang, setelah Iran mengancam menutup Selat Hormuz.

Apa saja dampak bagi Indonesia jika Selat Hormuz benar-benar ditutup total oleh Iran?. Untuk mendapatkan jawabannya, simak artikel sampai selesai.

Sekilas Tentang Selat Hormuz di Iran

Dikutip dari berbagai sumber, Selat Hormuz adalah selat yang memisahkan Iran dengan Uni Emirat Arab. Selat Hormuz terletak di antara Teluk Oman dan Teluk Persia.

Selat Hormuz dalam bahasa Arab disebit مضيق هرمز—Madīq Hurmuz. Sedangkan dalam bahasa Persia, disebut تنگه هرمز—Tangeh-ye Hormoz.

Pada titik tersempit, lebar Selat Hormuz hanya mencapai 54 km. Selat Hormuz ini merupakan satu-satunya jalur untuk mengirim minyak keluar Teluk Persia.

Menurut keterangan 'U.S. Energy Information Administration', setiap hari terdapat 15 kapal tanker melewati Selat Hormuz. Kapal tanker itu, membawa 16.5 hingga 17 juta barel minyak bumi melewati selat ini.

Selat Hormuz memiliki peran yang sangat krusial, diperkirakan sekitar seperlima dari total pasokan minyak dunia melewati jalur ini. Artinya, gangguan kecil sekalipun di kawasan ini dapat menyebabkan lonjakan harga minyak global.

Dampak Penutupan Selat Hormuz untuk Indonesia

Menanggapi penutupan Selat Hormuz itu, Pengamat Ekonomi, Sutardjo Tui menegaskan, kondisi tersebut akan mempengaruhi harga minyak dunia. Menurutnya, Selat Hormuz merupakan jalur dari 20 persen perdagangan minyak dunia termasuk import Indonesia.

"Selat Hormuz itu ya, di situ adalah salah satu pusat perdagangan BBM untuk kebutuhan dunia, utamanya untuk Indonesia. Kalau itu tidak ada transaksi, berarti kan dampaknya BBM akan naik," kata Sutardjo dalam keterangannya kepada RRI, Minggu, 1 Maret 2026.

Kenaikan harga minyak dunia, menurut Sutardjo, akan melemahkan nilai tukar Rupiah terhadap dollar Amerika. Nilai tukar rupiah yang anjlok terhadap dollar akan menambah beban fiskal dimana APBN Indonesia saat ini defisit.

"BBM naik, mungkin minggu-minggu depan ini terjadi gejolak luar biasa tentang kita punya Rupiah pasti akan melemah. Saya memprediksinya di atas 17.000, ditambah lagi dengan kita punya APBN defisit hampir 3 persen lebih" ucap Sutardjo.

Meski terjadi gejolak, Sutardjo menuturkan, fundamental ekonomi Indonesia saat ini masih cukup untuk memitigasi dampak lebih luas. Cadangan Devisa yang saat ini mencapai 156, 5 milliar dollar masih cukup untuk impor namun sulit memperkuat posisi tawar rupiah.

"Devisa kan kita kuat, besar ya, bisa itu hari kan menurut Bank Indonesia adalah bisa membiayai 6 bulan impor. Tetapi tidak akan mampu menahan gejolak Rupiah, tidak akan mampu dia," ujar Sutardjo.

Sementara, Direktur Eksekutif Reforminer Institute, Komaidi Notonegoro mengakui, sebagaian besar kebutuhan minyak Indonesia itu berasal dari luar negeri. Karena, di dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan minyak dalam negeri.

"Kemampuan produksi kita diangka 600 ribu barel per hari, itupun kita dapatnya cuma diangka 480 an ribu barel per hari. Terakhir produksi kita tidak sampai 600 ribu barel perhari, dan kita harus impor sekitar 1,2 juta barel per hari," kata Komaidi dalam keterangannya kepada RRI, Selasa, 3 Maret 2026.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....