Profil Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran

  • 01 Mar 2026 19:15 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel. Otoritas Iran kemudian membenarkan kabar tersebut serta menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari.

Peristiwa itu menandai momen penting bagi Republik Islam Iran di tengah ketegangan kawasan. Selama lebih dari tiga dekade, Khamenei menjadi otoritas politik, militer, dan ideologis tertinggi negara.

Sebagai pemimpin tertinggi, ia memegang kewenangan luas atas angkatan bersenjata dan kebijakan luar negeri. Bahkan, keputusannya kerap mengesampingkan kebijakan presiden dan parlemen.

Berikut adalah profil Ayatollah Ali Khamenei yang berpengaruh dalam perjalanan Republik Islam Iran.

Profil Ayatollah Ali Khamenei

Ayatollah Ali Khamenei dikenal sebagai figur paling berpengaruh dalam politik Iran modern selama lebih dari tiga dekade. Ia memegang otoritas tertinggi atas arah kebijakan politik, militer, dan ideologi Republik Islam Iran.

Sebagai Pemimpin Tertinggi Iran sejak 1989, Khamenei memiliki kewenangan yang melampaui presiden dan parlemen. Keputusannya menentukan arah strategis negara dalam urusan domestik maupun luar negeri.

Khamenei lahir pada 19 April 1939 di Mashhad, Iran timur, dari keluarga religius sederhana. Sejak muda, ia tumbuh dalam lingkungan pendidikan agama yang kuat dan disiplin.

Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, ia melanjutkan studi Islam di seminari Mashhad. Ia kemudian memperdalam pelatihan teologi tingkat lanjut di kota suci Qom.

Selain dikenal sebagai ulama, ia memiliki minat mendalam terhadap puisi dan sastra Persia klasik. Ketertarikan tersebut membentuk sisi intelektualnya di luar aktivitas politik.

Awal Perjuangan dan Revolusi

Pada awal 1960-an, ia bergabung dengan gerakan Ayatollah Ruhollah Khomeini melawan Shah Mohammad Reza Pahlavi. Sejak 1963, ia berulang kali ditangkap dinas intelijen SAVAK karena aktivitas anti-rezim.

Ia juga menjalani beberapa periode pengasingan akibat keterlibatan dalam gerakan revolusioner. Pengalaman itu membentuk pandangan politiknya yang keras terhadap monarki dan Barat.

Saat gelombang protes 1978-1979 melemahkan monarki Iran, para tahanan politik kembali ke ruang publik. Khamenei muncul kembali di Mashhad dan membantu mengorganisir demonstrasi besar.

Ia berperan memobilisasi dukungan luas terhadap agenda revolusioner Khomeini. Setelah revolusi berhasil, posisinya dalam struktur kekuasaan Iran semakin menguat.

Dari Presiden ke Pemimpin Tertinggi

Khamenei kemudian menjabat Presiden Iran pada era Perang Iran-Irak 1980 hingga 1988. Pengalaman perang tersebut memperkuat pandangannya mengenai pentingnya keamanan nasional.

Pada 1989, ia diangkat sebagai Pemimpin Tertinggi Iran menggantikan Khomeini. Sejak saat itu, ia memegang otoritas tertinggi atas angkatan bersenjata dan kebijakan strategis negara.

Di bawah kepemimpinannya, Korps Garda Revolusi Islam berkembang menjadi kekuatan dominan nasional. Pengaruhnya meluas ke sektor militer, politik, dan ekonomi strategis Iran.

Ia juga mengusung konsep ekonomi perlawanan untuk menghadapi sanksi Barat berkepanjangan. Kebijakan tersebut bertujuan menjaga kemandirian ekonomi dan stabilitas negara.

Meski dikenal keras, ia pernah menunjukkan sikap pragmatis dalam kebijakan luar negeri. Ia menyetujui perjanjian nuklir 2015 atau Joint Comprehensive Plan of Action.

Namun, penarikan Amerika Serikat dari kesepakatan tersebut meningkatkan ketegangan regional. Sejak itu, Iran memperkuat jaringan sekutu regional dalam strategi poros perlawanan.

Bagi pendukungnya, Khamenei dipandang simbol keteguhan melawan tekanan Barat dan Israel. Sebaliknya, bagi pengkritik ia dianggap menutup ruang reformasi politik domestik.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....