Sekjen PBB Peringatkan Risiko Pasca Berakhirnya New START

  • 05 Feb 2026 15:07 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jenewa — Sekretaris Jenderal PBB António Guterres memperingatkan tentang berakhirnya perjanjian New START antara Amerika Serikat dan Rusia. Ia menyebut hal ini menandai “momen genting” bagi perdamaian dunia, dilansir dari UN News, Kamis, 5 Februari 2026.

Dengan berakhirnya perjanjian ini, batasan hukum terhadap senjata nuklir strategis kedua negara kini hilang, sementara ketegangan global terus meningkat. Guterres mengatakan, dunia kini memasuki wilayah yang belum pernah dijelajahi dalam hal kontrol nuklir.

Hal ini terjadi karena AS dan Rusia bersama-sama memegang sebagian besar senjata nuklir di dunia. Guterres menekankan ini adalah pertama kalinya dalam setengah abad tidak ada batasan yang mengikat pada arsenal nuklir strategis kedua negara.

Perjanjian New START, secara resmi dikenal sebagai Treaty on Measures for the Further Reduction and Limitation of Strategic Offensive Arms. Perjanjian tersebut ditandatangani pada 2010 dan mulai berlaku pada 2011.

Perjanjian ini membatasi jumlah hulu ledak nuklir strategis masing-masing pihak hingga 1.550 unit. Selain itu, perjanjian ini juga menetapkan batasan pada sistem peluncuran, seperti rudal balistik antarbenua dan pembom berat.

Mekanisme verifikasi yang tercakup dalam perjanjian termasuk pertukaran data dan inspeksi di lokasi. Mekanisme ini dirancang untuk mengurangi ketidakpercayaan antara kedua negara sekaligus mencegah salah perhitungan yang berbahaya.

Guterres menekankan bahwa pengendalian senjata nuklir selama puluhan tahun, dari era Perang Dingin hingga New START, memiliki peran penting. Langkah-langkah ini membantu mencegah bencana nuklir sekaligus membangun stabilitas internasional.

Namun, runtuhnya sistem pembatasan ini terjadi pada saat yang sangat berbahaya. Risiko penggunaan senjata nuklir kini berada pada level tertinggi dalam beberapa dekade.

Meski demikian, Guterres menyebut momen ini sebagai peluang penting. Kesempatan ini memungkinkan pengendalian senjata dibayangkan kembali sesuai dengan kondisi keamanan global yang berubah.

Presiden AS dan Rusia telah mengakui bahaya perlombaan senjata nuklir baru. Sementara itu, Guterres menyerukan kedua negara untuk menerjemahkan kata-kata menjadi tindakan nyata.

Ia mendesak agar negosiasi baru dilakukan tanpa penundaan. Tujuannya adalah menciptakan kerangka pengganti yang dapat diverifikasi.

Kerangka baru ini juga diharapkan dapat mengurangi risiko penggunaan senjata nuklir dan memperkuat keamanan global. Dunia kini menunggu langkah konkret dari AS dan Rusia, yang akan menentukan arah stabilitas nuklir internasional.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....