CEPA Dinilai Pintu Baru Pasar Perusahaan Indonesia-Eropa

  • 29 Sep 2025 12:18 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Pakar penetrasi dan ekspansi pasar di Asia Tenggara, Pendiri Business Hub Asia, Michal Wasserbauer menyambut baik adanya IEU CEPA. Ia menilai, CEPA menjadi pintu gerbang menuju salah satu pasar terbesar di dunia.

Indonesia dan Uni Eropa resmi menandatangani Kesepakatan Subtanstif Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif (IEU CEPA), Selasa (23/9/2025), di Badung, Bali. Kedua pihak menandatangani perjanjian kemitraan setelah hampir satu dekade negosiasi.

“Ini lebih dari sekadar tonggak diplomatik, ini merupakan pintu gerbang menuju salah satu pasar terbesar dan tercanggih di dunia. Perjanjian ini akan menghapus tarif secara bertahap, lebih dari 98 persen lini tarif dan meliberalisasi hampir seluruh volume perdagangan,” kata Michal dalam keterangannya kepada RRI, Senin (29/9/2025).

Hal ini, diakuinya pula, menjadikan Indonesia negara ASEAN ketiga, setelah Vietnam dan Singapura. Yakni, pihak yang menandatangani perjanjian perdagangan dan investasi komprehensif tersebut dengan Uni Eropa.

“Hal ini membuka akses langsung ke pasar Uni Eropa. Dihuni oleh 450 juta konsumen dengan daya beli tinggi," ucapnya.

Michal menilai, CEPA mewakili sejumlah hal terkait peningkatan ekspor untuk komoditas. Yakni, seperti minyak sawit, tekstil, alas kaki, furnitur, produk perikanan, kopi, kakao, dan elektronik.

"Kemudian, kepastian hukum yang lebih baik bagi investor dan eksportir Indonesia. Dalam menghadapi peraturan Uni Eropa yang kompleks," ujarnya.

Selain itu, menurutnya, CEPA juga penting bagi Indonesia sebab adanya pengakuan sebagai mitra global tepercaya. Terutama, di saat rantai pasokan global bergeser akibat ketegangan AS-Tiongkok.

"Termasuk, peluang dalam keberlanjutan, perusahaan-perusahaan Uni Eropa mencari mitra andal untuk teknologi hijau. Energi terbarukan, dan bahan baku penting yang menjadi keunggulan Indonesia," katanya.

“Bagi Indonesia, CEPA bukan hanya tentang tarif. Ini tentang kredibilitas, daya saing, dan integrasi ke dalam rantai nilai global pada tingkat yang lebih tinggi."

Meski demikian, Michal meningingatkan, Indonesia untuk memperhatikan sejumlah tantangan. Utamanya, terkait persyaratan yang lebih ketat.

“Pelaporan Environmental, Social, Governance (ESG) dan kewajiban keberlanjutan. Kemudian, kebutuhan akan Research and Development (R&D), inovasi, dan transparansi rantai pasok yang lebih kuat,” ujarnya.

Michal menyebutkan, berbagai tantangan itu dapat menjadi peluang, dengan meningkatkan kapabilitas. “Bisnis Indonesia dapat mengamankan posisi yang lebih kuat, tidak hanya di Eropa tetapi juga secara global,” katanya.

Adanya IEU CEPA selain membuka pintu kerja sama yang lebih luas. Namun, perusahaan-perushaaan Indonesia diharapkan mempersiapkan diri.

“Mereka mempersiapkan diri sekarang dengan meningkatkan standar, membangun kemitraan. Dan berpikir jangka panjang akan menjadi pihak yang paling diuntungkan,” ucapnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....