ASN Muda Didorong Jadi Pendobrak Birokrasi Profesional dan Adaptif

  • 17 Agt 2026 16:59 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

Jakarta – Komposisi aparatur sipil negara (ASN) muda yang saat ini mencapai sekitar 20–25 persen menjadi kekuatan strategis dalam mendorong perubahan birokrasi agar semakin profesional, adaptif, dan mampu menjawab tuntutan masyarakat. Dengan karakter generasi yang lebih melek teknologi dan terbuka terhadap perubahan, ASN muda diharapkan tidak sekadar mengikuti arus birokrasi, tetapi tampil sebagai pendobrak sekaligus agen perubahan di instansinya masing-masing. Hal tersebut disampaikan Deputi Bidang Transformasi Pembelajaran ASN Lembaga Administrasi Negara (LAN) Dr. Tr. Erna Irawati, M.Pol. ADM pada kegiatan Gema Talenta ASN, di Aula Prof. Agus Dwiyanto, pada Kamis (13/8).

Menurutnya, berbagai tuntutan perubahan di sektor publik menempatkan sumber daya manusia, khususnya ASN, sebagai faktor penting dalam menentukan kemampuan pemerintah merespons dinamika lingkungan strategis dan meningkatnya ekspektasi publik. “ASN muda memiliki peran yang sangat penting. Mereka adalah generasi yang melek teknologi dan diharapkan mampu mendobrak postur birokrasi menjadi lebih profesional serta sesuai dengan tuntutan perubahan,” ujarnya.

Erna menegaskan, persentase ASN muda yang jumlahnya sedikit ini tidak boleh hanya menunggu, sebaliknya, mereka diharapkan mampu menjadi contoh dan agen perubahan yang dapat mendorong seluruh ASN untuk terus memperbaiki serta menyesuaikan kinerja pemerintah dengan kebutuhan masyarakat.

“Profesionalisme adalah pilihan. Ketika kita masuk ke sebuah instansi yang mungkin sulit melakukan perubahan dan lambat merespons perubahan, pertanyaannya adalah apakah kita akan mengikuti arus atau menjadi pendobrak untuk tetap menjadi profesional?” katanya.

Ia melanjutkan, ASN muda berkumpul saat ini adalah para ASN yang memiliki prestasi dan potensi yang perlu terus dikembangkan agar mampu membawa perubahan di lingkungan kerjanya. Keberadaan talenta ASN diharapkan tidak berhenti pada pencapaian individu, melainkan berkembang menjadi kekuatan kolektif yang memberikan dampak lebih besar bagi organisasi, masyarakat, dan bangsa.

Erna menyadari bahwa dalam mewujudkan birokrasi yang profesional, terdapat sejumlah tantangan yang harus dihadapi ASN. Tantangan pertama adalah bagaimana menyesuaikan kebutuhan masyarakat dengan kinerja pemerintah. Pemerintah dituntut tidak hanya menjalankan proses administrasi, tetapi memastikan setiap kebijakan dan layanan memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat.

Tantangan selanjutnya adalah perkembangan teknologi yang berlangsung secara eksponensial. Kehadiran kecerdasan artifisial (AI) mulai mengubah cara ASN bekerja, berkolaborasi, hingga mengambil keputusan. Pada saat yang sama, ekspektasi masyarakat terhadap pemerintah semakin tinggi, sementara persoalan pembangunan semakin kompleks dan saling berkaitan.

Kita membutuhkan ASN yang bukan hanya mampu bekerja, tetapi juga mampu membaca masa depan; bukan hanya menjadi pelaksana kebijakan, tetapi juga menjadi penggerak perubahan, Dalam konteks tersebut, talenta ASN memiliki posisi yang sangat strategis sebagai pegawai yang tidak hanya memiliki kinerja tinggi atau kompetensi unggul, tetapi mereka yang memiliki potensi untuk memberikan dampak yang lebih besar bagi organisasi, masyarakat, dan bangsa.

Tantangan lainnya adalah branding ASN dan organisasi pemerintah. Selama ini, persepsi publik terhadap ASN terkadang lebih banyak terbentuk dari pengalaman atas kinerja yang belum optimal. Karena itu, ASN muda perlu memiliki kapasitas untuk membangun citra positif organisasi melalui kinerja dan karya yang dapat diketahui serta dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. “Branding harus disertai dengan bukti dan dampak nyata yang dirasakan masyarakat. Kita tidak cukup hanya mengatakan bahwa ASN bekerja dengan baik, tetapi harus menunjukkan hasil dan manfaatnya,” jelasnya.

Untuk itu, Erna mengungkapkan, diperlukan strategi yang tepat dalam membangun branding ASN. Kinerja, inovasi, kompetensi, serta karya ASN perlu dikomunikasikan secara efektif agar publik dapat melihat perubahan yang dilakukan pemerintah. Dengan demikian, branding tidak menjadi sekadar upaya membangun citra, melainkan menjadi bagian dari proses membangun kepercayaan publik melalui kinerja yang nyata.

“Melalui Gema Talenta ASN, LAN mendorong para ASN muda berprestasi untuk terus mengembangkan kapasitas, keberanian berinovasi, serta kemampuan membaca perubahan. Mereka diharapkan menjadi pendobrak di tengah birokrasi, sekaligus menjadi bibit unggul yang mampu menggerakkan perubahan dan menghadirkan birokrasi yang semakin profesional, adaptif, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat,” tutupnya.

Kegiatan ini menghadirkan 3 peserta Reformer Academy dan pelatihan dasar terbaik tahun 2025, di antaranya Ali Akbar Medina (Pemerintah Provinsi Gorontalo), Muhammad Kemal Akbar (Sekretaris Jenderal Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus) dan Yuzakki Gilang Fajar Bagaskara (LPP RRI Manado). Selain itu juga mengundang pembahas di antaranya, Kepala DPMPTSP Provinsi DKI Jakarta, Stefanus Mufrisno, Kepala Kebijakan Publik Pijar Foundation, Anthony Marwan Dermawan dan Steering Committee GNIK, Dasep Suryanto.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....