Mendag Minta Kompetensi ASN Kemendag Mengikuti Kebutuhan Program Perdagangan

  • 02 Sep 2026 16:56 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Menteri Perdagangan Budi Santoso mendorong ASN untuk menguasai kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan program perdagangan nasional.
  • Peluncuran cetak biru pengembangan sumber daya manusia perdagangan menuju Indonesia Emas 2045 menjadi acuan dalam pengembangan kompetensi ASN di sektor perdagangan.
  • Trade Corporate University didirikan sebagai institusi pelatihan yang mereferensikan tiga program Kemendag untuk menentukan kurikulum, materi ajar, dan tenaga pendidik.

RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Perdagangan Budi Santoso mendorong Aparatur Sipil Negara (ASN) menguasai kompetensi sesuai kebutuhan program perdagangan. Ia menjelaskan pengembangan kompetensi perlu mengikuti program yang dijalankan Kementerian Perdagangan.

Budi menyampaikan hal tersebut dalam peluncuran cetak biru pengembangan sumber daya manusia perdagangan menuju Indonesia Emas 2045 dan Trade Corporate University. Menurutnya, tiga program Kemendag dapat menjadi referensi untuk menentukan kompetensi, materi ajar, dan dosen dalam pengembangan SDM.

“Kita ada tiga program di Kementerian Perdagangan. Nah ini nanti mungkin bisa menjadi referensi atau masukan Bapak-Ibu kira-kira kompetensi apa yang diperlukan,” ujar Budi di Jakarta, Rabu, 2 September 2026.

Program pertama Kemendag berkaitan dengan pengamanan pasar dalam negeri. Budi menerangkan program tersebut mencakup pengelolaan kebijakan impor serta penerapan aturan trade remedies sesuai ketentuan World Trade Organization.

“Yang pertama kita mempunyai program namanya pengamanan pasar dalam negeri. Ya jadi bagaimana pasar kita yang besar ini diisi oleh produk-produk kita,” kata Budi

Program kedua adalah perluasan pasar ekspor. Budi menjelaskan akses pasar tidak mudah apabila Indonesia tidak memiliki perjanjian dagang.

“Dan kita sudah mempunyai perjanjian dagang yang implementasi itu 25. Kemudian yang dua sekarang proses ratifikasi, dan yang 13 sekarang sedang proses negosiasi,” ucap Budi.

Budi kemudian menyoroti kebutuhan sumber daya manusia yang baik untuk mendukung perluasan pasar ekspor. Ia menyebut perlunya menciptakan negosiator-negosiator perdagangan yang baik.

Program ketiga mengusung konsep dari lokal untuk global. Salah satu bentuknya adalah memfasilitasi UMKM melakukan ekspor dengan menghubungkannya kepada perwakilan Indonesia di luar negeri.

“Yang pertama UMKM bisa ekspor. Jadi kita memfasilitasi UMKM itu bisa ekspor dengan disambungkan ke perwakilan kita yang di luar negeri ya,” ujar Budi.

Selain UMKM, Kemendag ingin desa juga mampu melakukan ekspor. Budi menyebut upaya tersebut dilakukan melalui pelatihan dan business matching dengan perwakilan Indonesia di luar negeri.

“Yang bisa ekspor tidak hanya dari kota. Tapi dari desa juga harus bisa ekspor,” kata Budi.

Kemendag juga mengembangkan campuspreneur untuk mendorong generasi muda menjadi entrepreneur. Budi mengungkapkan kerja sama tersebut telah melibatkan lebih dari 20 kampus melalui pelatihan dan pencarian buyer.

“Kita sudah kerja sama lebih dari 20 kampus, kita pelatihan dan kemudian kita carikan buyer. Dan sudah ada Pak mahasiswa kita yang sudah ekspor,” ucap Budi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....