Gurun Atacama, Tempat Pembuangan Pakaian Bekas di Dunia
- 09 Jun 2024 14:08 WIB
- Kupang
KBRN,Kupang :Gurun Atacama terletak di Chili utara, adalah gurun terkering di dunia dengan hamparan ngarai dan puncak batu berwarna merah oranye. Tempat yang tandus dan minim polusi cahaya ini membuatnya menjadi tempat paling sempurna untuk dikunjungi para wisatawan dari berbagai belahan dunia yang ingin menikmati pemandangan langit malam yang indah dan menakjubkan.
Tetapi dibalik keindahannya, gurun Atacama juga mendapatkan predikat sebagai salah satu tempat pembuangan pakaian bekas yang berkembang pesat di dunia. Jumlah pakaian bermerek yang tidak laku terjual dari Eropa, Amerika dan Asia bertambah setiap tahun, karena produksi massal pakaian murah yang dikenal sebagai fast fashion.
Produksi pakaian meningkat dua kali lipat sekitar tahun 2000 dan 2014, dimana dari banyaknya pakaian yang dibeli oleh konsumen, hanya setengahnya yang terpakai, dan sisanya berakhir di tempat pembuangan sampah atau insinerator dalam waktu satu tahun produksi. Ini berarti ada sekitar satu truk penuh pakaian bekas yang dibakar setiap detiknya.
Menurut Nationalgeographic, Chili utara dijuluki “tempat sampah fashion yang hebat”, dikarenakan banyaknya tumpukan besar pakaian bekas bermerek yang terbentang sejauh mata memandang di pinggiran Alto Hospicio, kota dengan 120.000 penduduk. Beberapa dari sampah pakaian ini bahkan masih memiliki label harga, seperti jins, kemeja, mantel, tas, sepatu dan lainnya.
Awalnya, tempat ini bukanlah tempat akhir pembuangan produk fast fashion. Namun, negara ini merupakan rumah bagi salah satu pelabuhan bebas bea terbesar di Amerika Selatan, tepatnya di kota Iquique, di tepi barat Atacama.
Adanya pelabuhan bebas bea ini mendorong kegiatan ekonomi, karena barang yang diimpor dan juga diekspor kembali ini tidak dikenakan pajak dan biaya. Hal ini mendorong jutaan ton pakaian datang setiap tahunnya, baik dari Eropa, Asia dan Amerika.
Pelabuhan bebas bea ini didirikan untuk menciptakan lapangan kerja dan menigkatkan perekonomian lokal yang sedang lesu. Dengan demikian membuat Chili menjadi salah satu negara pengimpor pakaian bekas terbesar di dunia.
Penduduk setempat memanfaatkan hal ini dengan mendaur ulang pakaian tersebut, sebagian lagi memisahkannya dari kategori premium hingga kualitas paling buruk. Mereka kembali mengekspornya ke Republik Dominika, Panama, Asia-Afrika, dan bahkan kembali ke Amerika Serikat untuk dijual kembali.
Sementara pakaian yang tidak layak akan berakhir di tempat pembuangan sampah di luar Alto Hospicio. Sebagian lagi disortir kembali dan dijual oleh pedagang kecil di pasar atau jalanan kota.
Berbagai upaya kini tengah digencarkan untuk meminimalisir limbah pakaian bekas di gurun ini, salah satunya dengan cara mendaur ulang menjadi benang mentah yang dapat dipakai untuk memproduksi kembali pakaian. Di tahun 2016, Chili mengesahkan undang-undang terbaru yang mewajibkan produsen dan importir bertanggung jawab atas limbah tekstil yang menjadi sumber pencemaran lingkungan. (JR)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....