Pemerintah Diminta Perhatian Pada Industri Gim di Sumatera

  • 24 Jun 2024 16:41 WIB
  •  Batam

KBRN, Batam: Insan Gim Indonesia mengharapkan adanya perhatian penuh pada industri permainan berbasis peranti digital atau industri game yang berada di diluar pulau jawa. Sebab beberapa pulau terbesar yang memiliki prospek menjanjikan justru memiliki pengembang gim yang minim.


CEO Game Changer Studio, Riris Marpaung kepada RRI mengatakan, pulau Sumatera yang besar dan dipadati banyak provinsi dan kota ternyata justru hanya memiliki dua kota yang memiliki game developer, yakni Batam dan Lampung. Itupun kurang tersorot oleh pemerintah pusat yang masih memberikan perhatian lebih untuk game developer di pulau Jawa.


“Sekedar info aja, untuk kota kota besar kayak Medan, Padang itu engga ada game developernya, adanya Cuma batam sama lampung di sumatera itu, jadi harus diperhatikanlah, menurut saya yang mengelola asosiasi game Indonesia harus ga boleh lupain developer yang sedang berkembang ini apalagi gamenya yang sudah meluncur dan masuk pasar global harus dikasih spotlight untuk sumatera,” Ucap Riris Marpaung, Senin (24/6/2024).


CEO Gamechanger Studio, Riris Marpaung (Kiri) dan CEO 4happy Game Studio asal Batam, Ervin saat konferensi pers AMD Ryzen (Foto:Rivai/RRI)


Riris mengatakan bukan tidak mungkin jika game developer asal Batam dan Lampung mampu mengulang sukses gim bergenre horror Dreadhout yang meluncur pada 2013 lalu. Apalagi zaman sudah semakin modern dan terhitung sudah menginjak belasan tahun semenjak industry game dimulai pada 2008 lalu.


“harus dikasih spotlight untuk sumatera ini baru dua ini aja padahal ini sudah 2024, industry game Indonesia sudah dimulai di 2008 – 2009 sudah ada studio game kayak dreadhout itu meluncurnya 2013 sangat popular, sudah ada filmnya di Netflix, dan 20 tahun kemudian adaloh developer game dari sumatera itu di batam dan di lampung.” Tutup Riris Marpaung.


Suasana Konpers AMD dan Developer Game di Batam (Foto: Istimewa)


Saat ini, Industri gim telah menjadi salah satu sektor konten terbesar di dunia, dengan pendapatan global yang melampaui angka 3.000 triliun. Namun, industri gim Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan yang membatasi potensinya.


Salah satu tantangan utamanya adalah keterbatasan pengembang lokal yang hanya memegang pangsa pasar sekitar 0,5 persen di dalam negeri. Fenomena ini disebabkan oleh berbagai faktor, di antaranya adalah kurangnya standar kualitas dalam talenta pengembang yang tersedia.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....