Kue Balok, Makanan yang Bertahan dari Zaman Kolonial
- 29 Des 2025 12:03 WIB
- Bandung
KBRN, Bandung: Bandung tak hanya dikenal dengan udara sejuk dan arsitektur kolonialnya, tetapi juga ragam kuliner yang menyimpan cerita panjang. Salah satunya adalah Kue Balok, camilan sederhana yang kini kembali naik daun sebagai jajanan kekinian, namun sejatinya telah hadir sejak era Hindia Belanda.
Berbeda dengan kesan modern yang melekat saat ini, Kue Balok pada awal kemunculannya merupakan menu sarapan favorit warga Belanda yang bermukim di Bandung.
Dikutip dari laman Phinemo, kue bertekstur padat ini mulai dikenal sejak masa kolonial dan mencapai popularitasnya pada dekade 1950-an. Kala itu, Kue Balok dipilih sebagai pengganti roti karena lebih mengenyangkan dan mudah disajikan.
Resep Kue Balok kemudian menyebar ke masyarakat pribumi.
Pada rentang tahun 1952 hingga 1959, kue ini menjadi alternatif sarapan selain bubur hanjeli. Penjual Kue Balok banyak dijumpai di pinggir jalan, menjajakan dagangannya dengan gerobak pikul, lengkap dengan secangkir teh atau kopi sebagai pelengkap.
Kawasan Jalan Astana Anyar, persimpangan Pangarsih, hingga sekitar Tegalega menjadi titik favorit para pedagang kala itu.
Secara tradisional, Kue Balok dibuat dari bahan-bahan sederhana seperti tepung terigu, telur, gula pasir, vanili, susu kental manis, soda kue, dan margarin. Proses memasaknya pun khas, menggunakan cetakan khusus dengan panas dari bara arang kayu.
Teknik pemanggangan perlahan ini menghasilkan kue yang matang merata, dengan aroma bakar yang kuat dan menjadi ciri khas Kue Balok klasik.
Seiring berjalannya waktu, Kue Balok sempat direncanakan berganti nama menjadi “Kue Robur” karena bentuknya menyerupai bus kecil Robur, kendaraan bantuan dari Jerman Timur yang sempat beroperasi di Bandung.
Namun, nama Kue Balok tetap bertahan hingga kini. Modernisasi kemudian membawa wajah baru bagi Kue Balok. Teksturnya kini lebih menyerupai bolu padat dengan beragam varian rasa.
Dari keju, green tea, hingga yang paling digemari, Kue Balok brownies dengan isian lelehan cokelat. Meski tampil lebih modern, cita rasa khasnya tetap dipertahankan.
Kini, Kue Balok tak hanya menjadi nostalgia kuliner, tetapi juga salah satu oleh-oleh khas Bandung yang digemari wisatawan, sejajar dengan peuyeum.
Dari sarapan sederhana di masa kolonial hingga jajanan kekinian yang menggoda, Kue Balok menjadi bukti bahwa rasa tradisional mampu bertahan dan beradaptasi dengan zaman.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....