Yaman di Persimpangan Jalur Perdagangan Dunia

  • 16 Sep 2026 13:15 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Konflik Yaman yang memanas menempatkan negara dalam pusaran krisis kemanusiaan berkepanjangan dengan dampak kemanusiaan yang luas.
  • Pasukan Houthi memperluas pengaruhnya di sepanjang pesisir Laut Merah dan mendekati Selat Bab el-Mandeb, jalur perdagangan laut strategis dunia.
  • Posisi Yaman di dekat salah satu jalur perdagangan laut paling strategis membuat eskalasi konflik berdampak ekonomi dan logistik global.

Namun, perhatian terhadap Bab el-Mandeb dan perdagangan dunia tidak boleh mengaburkan persoalan utama di Yaman. Negara tersebut sedang mengalami krisis kemanusiaan yang berlangsung selama bertahun-tahun.

PBB memperkirakan lebih dari 22 juta orang di Yaman membutuhkan bantuan kemanusiaan dan perlindungan pada 2026. Dari jumlah tersebut, sekitar 18,3 juta orang menghadapi kerawanan pangan akut.

Melansir dari laman resmi PBB, lebih dari 2,2 juta anak berusia di bawah lima tahun mengalami malnutrisi akut. Sistem kesehatan juga berada dalam tekanan berat, dengan data PBB menunjukkan hanya sekitar 59,3 persen fasilitas kesehatan yang berfungsi sepenuhnya.

Krisis tersebut diperburuk oleh keruntuhan ekonomi, konflik berkepanjangan, perubahan iklim, dan kerusakan infrastruktur. Krisis tersebut juga diperburuk oleh menurunnya pendanaan bantuan kemanusiaan.

Yaman juga sangat bergantung pada impor pangan. PBB mencatat sekitar 90 persen kebutuhan pangan negara tersebut berasal dari impor, sehingga gangguan terhadap perdagangan dan pelabuhan dapat memiliki konsekuensi langsung terhadap kehidupan masyarakat.

Lebih dari 80 persen penduduk Yaman hidup di bawah garis kemiskinan. Dengan kondisi tersebut, keamanan jalur laut bukan hanya persoalan perusahaan pelayaran atau negara-negara besar.

Bagi masyarakat Yaman, pelabuhan dan jalur perdagangan memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan dasar. Melalui jalur tersebut, makanan, bahan bakar, obat-obatan, dan bantuan kemanusiaan dapat masuk ke negara tersebut.

Yaman yang mengalami salah satu krisis kemanusiaan terberat di dunia berada di sekitar jalur laut yang sangat penting bagi perekonomian global. Ketika keamanan Laut Merah terganggu, dunia memperhitungkan tambahan biaya perdagangan dan risiko terhadap rantai pasok.

Namun bagi warga Yaman, gangguan tersebut hadir di tengah kondisi ekonomi dan kemanusiaan yang sudah sangat rapuh. PBB memperingatkan bahwa krisis Yaman telah berubah menjadi kombinasi persoalan pangan, kesehatan, ekonomi, pengungsian, perubahan iklim, dan keamanan.

Menurut data dari PBB, pada 2026, sekitar 5,2 juta orang diperkirakan menjadi pengungsi internal di dalam negeri. Konflik juga membuat perekonomian Yaman menyusut lebih dari setengah, endapatan per kapita ikut jatuh, sementara layanan dasar terus mengalami tekanan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....