Yaman di Persimpangan Jalur Perdagangan Dunia

  • 16 Sep 2026 13:15 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Konflik Yaman yang memanas menempatkan negara dalam pusaran krisis kemanusiaan berkepanjangan dengan dampak kemanusiaan yang luas.
  • Pasukan Houthi memperluas pengaruhnya di sepanjang pesisir Laut Merah dan mendekati Selat Bab el-Mandeb, jalur perdagangan laut strategis dunia.
  • Posisi Yaman di dekat salah satu jalur perdagangan laut paling strategis membuat eskalasi konflik berdampak ekonomi dan logistik global.

Gangguan keamanan yang terjadi sejak 2023 juga mendorong sejumlah perusahaan pelayaran mengalihkan kapal dari Laut Merah dan Terusan Suez. Gangguan tersebut telah membuat keamanan menjadi pertimbangan utama bagi operator pelayaran.

IMO mencatat serangan terhadap kapal komersial di kawasan tersebut terus menjadi persoalan keselamatan internasional. Pada Agustus 2026, sebuah kapal kargo yang berada di lepas pantai Al Mokha, Yaman, terkena proyektil dan menyebabkan sejumlah awak kapal tewas.

IMO menyatakan serangan terhadap pelayaran internasional mengancam rantai pasok global. Risiko tersebut membuat sebagian perusahaan memilih rute alternatif melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan.

Jalur tersebut jauh lebih panjang, tetapi dapat mengurangi paparan kapal terhadap risiko keamanan di Laut Merah. Perubahan rute tersebut bukan sekadar persoalan geografis, namun kemudian menciptakan efek berantai.

Kapal yang memutar Afrika harus menempuh perjalanan lebih jauh, sehingga membutuhkan tambahan waktu, bahan bakar, biaya awak kapal, asuransi, dan biaya operasional lainnya. Sementara itu, kapasitas kapal yang tersedia harus disesuaikan dengan perjalanan yang lebih panjang.

Namun, kondisi pada 2026 menunjukkan bahwa perusahaan pelayaran juga mulai mempertimbangkan kembali penggunaan Terusan Suez. Perusahaan pelayaran Maersk dan Hapag-Lloyd pada September mengumumkan penambahan layanan kapal kontainer melalui Terusan Suez, dikutip dari Reuters.

Keputusan tersebut menunjukkan adanya upaya untuk kembali memanfaatkan jalur Asia-Eropa yang lebih pendek. Meski demikian, kedua perusahaan tetap menegaskan bahwa perkembangan keamanan di Timur Tengah akan menjadi pertimbangan dalam keputusan operasional mereka.

Situasi tersebut memperlihatkan bahwa keamanan Laut Merah tidak hanya memengaruhi negara-negara di sekitarnya. Ketidakpastian di kawasan dapat masuk langsung ke dalam perhitungan perusahaan pelayaran dan rantai pasok internasional.

Dampak gangguan di Bab el-Mandeb juga dapat menjalar ke Terusan Suez. Bagi kapal yang melakukan perjalanan antara Asia dan Eropa, Terusan Suez merupakan rute yang jauh lebih pendek dibandingkan perjalanan mengelilingi Afrika.

Jika kapal menghindari Laut Merah, perjalanan harus melalui Tanjung Harapan. Dampaknya bukan hanya keterlambatan pengiriman, tetapi juga berkurangnya efisiensi armada global.

Situasi tersebut dapat memengaruhi harga pengangkutan dan pada akhirnya meningkatkan biaya distribusi barang. Bagi negara yang sangat bergantung pada perdagangan laut, gangguan di salah satu chokepoint dapat menciptakan risiko terhadap pasokan energi, bahan baku industri, dan barang konsumsi.

Persoalan menjadi semakin rumit ketika gangguan Bab el-Mandeb terjadi bersamaan dengan tekanan terhadap jalur energi lainnya di Timur Tengah. Pada pertengahan September 2026, lalu lintas kapal di Bab el-Mandeb dilaporkan turun dari 28 menjadi 21 transit dalam sehari, dilansir dari Anadolu.

Pada saat yang sama, lalu lintas di Selat Hormuz juga mengalami penurunan tajam akibat eskalasi konflik regional. Kondisi tersebut memperlihatkan betapa rentannya jaringan perdagangan global terhadap gangguan di sejumlah titik sempit.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....