Yaman di Persimpangan Jalur Perdagangan Dunia

  • 16 Sep 2026 13:15 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Konflik Yaman yang memanas menempatkan negara dalam pusaran krisis kemanusiaan berkepanjangan dengan dampak kemanusiaan yang luas.
  • Pasukan Houthi memperluas pengaruhnya di sepanjang pesisir Laut Merah dan mendekati Selat Bab el-Mandeb, jalur perdagangan laut strategis dunia.
  • Posisi Yaman di dekat salah satu jalur perdagangan laut paling strategis membuat eskalasi konflik berdampak ekonomi dan logistik global.
Bab el-Mandeb, Pintu Laut Merah

KONFLIK yang kembali memanas di Yaman menempatkan negara di ujung selatan Semenanjung Arab itu dalam pusaran krisis kemanusiaan berkepanjangan. Di sisi lain, posisi Yaman di dekat salah satu jalur perdagangan laut paling strategis di dunia membuat eskalasi konflik berdampak lebih luas.

Perkembangan terbaru menunjukkan pasukan Houthi memperluas pengaruhnya di sepanjang pesisir Laut Merah dan mendekati Selat Bab el-Mandeb. Selat tersebut merupakan jalur sempit yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.

Kondisi tersebut kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap keselamatan pelayaran internasional. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut lebih dari 100 ribu warga Yaman telah mengungsi akibat konflik yang kembali meningkat.

Akses bantuan kemanusiaan juga menghadapi hambatan akibat situasi keamanan, kerusakan infrastruktur, gangguan komunikasi, dan pembatasan pergerakan. Di saat yang sama, perkembangan di pesisir Yaman menjadi perhatian negara-negara yang bergantung pada kelancaran perdagangan melalui Laut Merah.

Organisasi Maritim Internasional (IMO) berulang kali memperingatkan bahwa serangan terhadap kapal komersial mengancam keselamatan para pelaut. Serangan tersebut juga berpotensi mengganggu kelancaran rantai pasok global.

Ketika Kapal Memilih Memutar Afrika

Selat Bab el-Mandeb merupakan salah satu titik sempit (chokepoint) penting dalam perdagangan maritim dunia. Selat yang dijuluki “Gerbang Air Mata” karena kondisi pelayarannya yang berbahaya ini berada di antara Yaman di Semenanjung Arab dan Djibouti serta Eritrea di pesisir Afrika.

Melansir dari Reuters, Rabu, 16 September 2026, Bab el-Mandeb memiliki lebar sekitar 18 mil atau 29 kilometer pada titik tersempitnya. Kondisi geografis tersebut membatasi lalu lintas kapal menjadi dua jalur untuk pelayaran masuk dan keluar, yang dipisahkan oleh Pulau Perim.

Posisinya menjadikan Bab el-Mandeb sebagai pintu masuk selatan menuju Laut Merah dari arah Samudra Hindia. Kapal yang melintasi selat tersebut dapat melanjutkan perjalanan menuju Terusan Suez, kemudian Laut Tengah hingga mencapai pasar-pasar di Eropa.

Dengan jalur tersebut, perdagangan antara Asia dan Eropa dapat berlangsung tanpa kapal harus memutar mengelilingi benua Afrika. Oleh karena itu, setiap gangguan di Bab el-Mandeb berpotensi memengaruhi perjalanan kapal, distribusi komoditas, dan rantai pasok internasional.

Bab el-Mandeb berada di sisi berlawanan Semenanjung Arab dengan Selat Hormuz, yang menjadi salah satu titik strategis dalam perdagangan energi dunia. Jika Hormuz menjadi jalur utama keluar-masuk energi dari kawasan Teluk, Bab el-Mandeb menjadi penghubung penting antara Samudra Hindia, Laut Merah, dan Terusan Suez.

Arus kapal yang melintasi Bab el-Mandeb membawa berbagai jenis komoditas, termasuk energi. Jalur tersebut menangani sekitar tujuh persen produksi minyak dunia, sehingga gangguan terhadap pelayaran dapat memberikan dampak lebih luas terhadap perdagangan dan pasar energi.

Bagi perusahaan pelayaran, perubahan rute tersebut bukan sekadar persoalan geografis. Kapal yang memutar Afrika harus menempuh perjalanan lebih jauh, sehingga membutuhkan tambahan waktu, bahan bakar, biaya awak kapal, asuransi, dan biaya operasional lainnya.

Krisis di Daratan Yaman

Gangguan keamanan yang terjadi sejak 2023 juga mendorong sejumlah perusahaan pelayaran mengalihkan kapal dari Laut Merah dan Terusan Suez. Gangguan tersebut telah membuat keamanan menjadi pertimbangan utama bagi operator pelayaran.

IMO mencatat serangan terhadap kapal komersial di kawasan tersebut terus menjadi persoalan keselamatan internasional. Pada Agustus 2026, sebuah kapal kargo yang berada di lepas pantai Al Mokha, Yaman, terkena proyektil dan menyebabkan sejumlah awak kapal tewas.

IMO menyatakan serangan terhadap pelayaran internasional mengancam rantai pasok global. Risiko tersebut membuat sebagian perusahaan memilih rute alternatif melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan.

Jalur tersebut jauh lebih panjang, tetapi dapat mengurangi paparan kapal terhadap risiko keamanan di Laut Merah. Perubahan rute tersebut bukan sekadar persoalan geografis, namun kemudian menciptakan efek berantai.

Kapal yang memutar Afrika harus menempuh perjalanan lebih jauh, sehingga membutuhkan tambahan waktu, bahan bakar, biaya awak kapal, asuransi, dan biaya operasional lainnya. Sementara itu, kapasitas kapal yang tersedia harus disesuaikan dengan perjalanan yang lebih panjang.

Namun, kondisi pada 2026 menunjukkan bahwa perusahaan pelayaran juga mulai mempertimbangkan kembali penggunaan Terusan Suez. Perusahaan pelayaran Maersk dan Hapag-Lloyd pada September mengumumkan penambahan layanan kapal kontainer melalui Terusan Suez, dikutip dari Reuters.

Keputusan tersebut menunjukkan adanya upaya untuk kembali memanfaatkan jalur Asia-Eropa yang lebih pendek. Meski demikian, kedua perusahaan tetap menegaskan bahwa perkembangan keamanan di Timur Tengah akan menjadi pertimbangan dalam keputusan operasional mereka.

Situasi tersebut memperlihatkan bahwa keamanan Laut Merah tidak hanya memengaruhi negara-negara di sekitarnya. Ketidakpastian di kawasan dapat masuk langsung ke dalam perhitungan perusahaan pelayaran dan rantai pasok internasional.

Dampak gangguan di Bab el-Mandeb juga dapat menjalar ke Terusan Suez. Bagi kapal yang melakukan perjalanan antara Asia dan Eropa, Terusan Suez merupakan rute yang jauh lebih pendek dibandingkan perjalanan mengelilingi Afrika.

Jika kapal menghindari Laut Merah, perjalanan harus melalui Tanjung Harapan. Dampaknya bukan hanya keterlambatan pengiriman, tetapi juga berkurangnya efisiensi armada global.

Situasi tersebut dapat memengaruhi harga pengangkutan dan pada akhirnya meningkatkan biaya distribusi barang. Bagi negara yang sangat bergantung pada perdagangan laut, gangguan di salah satu chokepoint dapat menciptakan risiko terhadap pasokan energi, bahan baku industri, dan barang konsumsi.

Persoalan menjadi semakin rumit ketika gangguan Bab el-Mandeb terjadi bersamaan dengan tekanan terhadap jalur energi lainnya di Timur Tengah. Pada pertengahan September 2026, lalu lintas kapal di Bab el-Mandeb dilaporkan turun dari 28 menjadi 21 transit dalam sehari, dilansir dari Anadolu.

Pada saat yang sama, lalu lintas di Selat Hormuz juga mengalami penurunan tajam akibat eskalasi konflik regional. Kondisi tersebut memperlihatkan betapa rentannya jaringan perdagangan global terhadap gangguan di sejumlah titik sempit.

Masa Depan Laut Merah Bergantung pada Masa Depan Yaman

Namun, perhatian terhadap Bab el-Mandeb dan perdagangan dunia tidak boleh mengaburkan persoalan utama di Yaman. Negara tersebut sedang mengalami krisis kemanusiaan yang berlangsung selama bertahun-tahun.

PBB memperkirakan lebih dari 22 juta orang di Yaman membutuhkan bantuan kemanusiaan dan perlindungan pada 2026. Dari jumlah tersebut, sekitar 18,3 juta orang menghadapi kerawanan pangan akut.

Melansir dari laman resmi PBB, lebih dari 2,2 juta anak berusia di bawah lima tahun mengalami malnutrisi akut. Sistem kesehatan juga berada dalam tekanan berat, dengan data PBB menunjukkan hanya sekitar 59,3 persen fasilitas kesehatan yang berfungsi sepenuhnya.

Krisis tersebut diperburuk oleh keruntuhan ekonomi, konflik berkepanjangan, perubahan iklim, dan kerusakan infrastruktur. Krisis tersebut juga diperburuk oleh menurunnya pendanaan bantuan kemanusiaan.

Yaman juga sangat bergantung pada impor pangan. PBB mencatat sekitar 90 persen kebutuhan pangan negara tersebut berasal dari impor, sehingga gangguan terhadap perdagangan dan pelabuhan dapat memiliki konsekuensi langsung terhadap kehidupan masyarakat.

Lebih dari 80 persen penduduk Yaman hidup di bawah garis kemiskinan. Dengan kondisi tersebut, keamanan jalur laut bukan hanya persoalan perusahaan pelayaran atau negara-negara besar.

Bagi masyarakat Yaman, pelabuhan dan jalur perdagangan memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan dasar. Melalui jalur tersebut, makanan, bahan bakar, obat-obatan, dan bantuan kemanusiaan dapat masuk ke negara tersebut.

Yaman yang mengalami salah satu krisis kemanusiaan terberat di dunia berada di sekitar jalur laut yang sangat penting bagi perekonomian global. Ketika keamanan Laut Merah terganggu, dunia memperhitungkan tambahan biaya perdagangan dan risiko terhadap rantai pasok.

Namun bagi warga Yaman, gangguan tersebut hadir di tengah kondisi ekonomi dan kemanusiaan yang sudah sangat rapuh. PBB memperingatkan bahwa krisis Yaman telah berubah menjadi kombinasi persoalan pangan, kesehatan, ekonomi, pengungsian, perubahan iklim, dan keamanan.

Menurut data dari PBB, pada 2026, sekitar 5,2 juta orang diperkirakan menjadi pengungsi internal di dalam negeri. Konflik juga membuat perekonomian Yaman menyusut lebih dari setengah, endapatan per kapita ikut jatuh, sementara layanan dasar terus mengalami tekanan.

Perkembangan di Bab el-Mandeb menunjukkan bahwa stabilitas perdagangan internasional tidak dapat sepenuhnya dipisahkan dari stabilitas politik Yaman. Selama konflik domestik belum terselesaikan, wilayah pesisir dan jalur laut di sekitarnya akan tetap memiliki dimensi keamanan yang tinggi.

Oleh karena itu, persoalan Laut Merah bukan hanya mengenai bagaimana kapal dapat melewati sebuah selat dengan aman. Persoalannya juga menyangkut bagaimana konflik di sebuah negara yang sedang mengalami kehancuran ekonomi dapat menciptakan konsekuensi hingga ke rantai pasok global.

Melansir dari Xinhua, IMO terus menyerukan perlindungan terhadap pelaut dan kebebasan navigasi di Laut Merah. Sementara itu, PBB menegaskan bahwa penyelesaian berkelanjutan bagi Yaman membutuhkan kesepakatan politik yang dinegosiasikan dan melibatkan berbagai kelompok masyarakat Yaman.

Pada akhirnya, Bab el-Mandeb memperlihatkan hubungan erat antara keamanan lokal dan ekonomi global. Di satu sisi, dunia membutuhkan Laut Merah sebagai jalur perdagangan antara Asia dan Eropa.

Di sisi lain, masyarakat Yaman membutuhkan berakhirnya konflik yang telah menggerus ekonomi, layanan dasar, dan ketahanan pangan mereka. Selama keduanya belum selesai, Yaman akan tetap berada di persimpangan: antara menjadi medan konflik domestik dan menjadi titik yang menentukan bagi keamanan perdagangan dunia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....