Kekeringan Merajalela, Pemprov Banten Kaji Status Darurat Bencana
- 31 Jul 2026 16:53 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- BPBD Provinsi Banten melakukan kajian dan evaluasi kondisi kedaruratan untuk meningkatkan status siaga bencana kekeringan dan kebakaran.
- Peningkatan status siaga darurat bencana dilakukan sebagai antisipasi perluasan dampak krisis air bersih dan kebakaran hutan-lahan akibat kemarau ekstrem.
- Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Banten, Lutfi Mujahidin, menekankan perlunya rapat untuk menentukan status peningkatan siaga bencana di Banten.
276 Desa/Kelurahan di Banten Belum Terjangkau Bantuan Air Bersih
BADAN Penanggulangan Bencana Derah (BPBD) Provinsi Banten melakukan kajian dan evaluasi kondisi kedaruratan. Hal ini dilakukan guna meningkatkan status siaga bencana kekeringan dan kebakaran dampak kemarau ekstrem.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Banten, Lutfi Mujahidin mengatakan peningkatan status siaga darurat bencana sebagai antisipasi perluasan dampak krisis air bersih dan kebakaran hutan-lahan. "Ini kami harus rapat sebetulnya, untuk penentuan status peningkatan di Banten sebagai siaga bencana," ujarnya, Kamis 31 Juli 2026.
Lutfi mengaku penetapan kebijakan dalam meningkatkan status kedaruratan ini penting dilakukannya. Tujuannya agar aspek legalitas serta penanganan kebencanaan bisa dilakukan secara bersama dan menyeluruh.
"Provinsi Banten menghadapi ancaman kekeringan terpanjang dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir akibat dampak El Nino hidrometeorologi. Puncak musim kering ini diprediksi akan terjadi pada Agustus mendatang," ucapnya.
Lutfi mengungkapkan untuk situasi bencana kekeringan di Provinsi Banten saat ini sudah mulai berdampak dan dirasakan masyarakat. Dampak itu sudah terjadi sejak Maret dan April.
Berdasarkan pemetaan wilayah, hampir seluruh kabupaten dan kota di Provinsi Banten masuk dalam zona rawan kekeringan. Kecuali Kota Tangerang yang dinilai masih aman berkat cakupan layanan PDAM yang memadai.
Selain krisis air bersih, musim kemarau panjang juga memicu lonjakan kasus kebakaran lahan dan ilalang. Di Kabupaten Tangerang, insiden kebakaran lahan sempat tercatat mencapai 20 kali dalam sehari.
Gubernur Banten, Andra Soni menuturkan bila musim kemarau ekstrem mulai memukul sejumlah wilayah di Banten. Sebanyak 140 titik yang tersebar di empat kabupaten/kota dilaporkan mengalami krisis air bersih parah akibat kekeringan yang kian meluas.
Andra mengungkapkan sejauh ini hampir seluruh wilayah kabupaten/kota di Banten sudah merasakan dampak kekeringan, dengan pengecualian Kota Tangerang yang belum mencatatkan data krisis air. Memasuki musim kemarau saat ini diprediksi sebagai yang terpanjang dalam beberapa tahun terakhir, sehingga memicu potensi kekeringan yang sangat besar.
Menurut dia, di Provinsi Banten yang mencakup empat kota dan kabupaten secara merata mulai mengalami krisis air bersih. Hanya saja, ada satu wilayah yakni Kota Tangerang belum dilaporkan mengalami dampak dari kemarau tersebut.
"Tapi yang pasti saat ini di daerah, kami sudah melakukan beberapa upaya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Seperti contoh di Tigaraksa, Kabupaten Tangerang sudah berikan bantuan," kata dia.
Krisis Air Bersih Melanda 8.297 KK di Tangerang-Tangsel
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Banten, Lutfi Mujahidin menyatakan sebanyak 415 desa/kelurahan yang tersebar pada 105 kecamatan di Provinsi Banten dipetakan berpotensi mengalami kekeringan dampak kemarau ekstrem. Hingga saat ini, penyaluran bantuan air bersih baru menjangkau 139 desa/kelurahan.
"Berdasarkan hasil pemetaan yang dilakukan, sekitar 105 kecamatan atau 415 desa/kelurahan kesulitan air bersih. Dari jumlah itu sekitar 275 desa/kelurahan belum terhangkau penyaluran air bersih," ujarnya.
Lutfi memperkirakan, musim kemarau tahun ini akan berlangsung lebih panjang. Karena itu, penanganan dampak kekeringan dinilai memerlukan keterlibatan berbagai pihak.
Untuk kebutuhan mendesak, katanya, distribusi air bersih menggunakan mobil tangki masih menjadi langkah yang ditempuh. Namun, pemerintah juga menyiapkan solusi jangka panjang agar masyarakat tidak lagi kesulitan mendapatkan akses air bersih saat musim kemarau.
"Pemprov Banten sedang melakukan kajian teknis mengukur kedalaman sumber air yang bisa dioptimalkan untuk kepentingan bersama. Termasuk melibatkan pemerintah daerah setempat yang membutuhkan," kata dia.
Hal yang sama disampaikan Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Banten, Ari James Faraddy. Pihaknya telah menerjunkan petugas ke sejumlah wilayah yang berpotensi terdampak kekeringan.
Mereka ditugaskan mencari sumber air yang nantinya akan dimanfaatkan melalui pembangunan sumur bor. Setelah sumber air ditemukan, pemerintah akan melanjutkan pemasangan mesin, pembangunan tempat penampungan, hingga jaringan penyaluran air bersih.
"Sumur bor gratis ini untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, mandi, hingga pengairan lahan pertanian. Setelah kajian teknisnya keluar, baru kita akan menyerahkannya ke Dinas PUPR untuk pekerjaan teknis fisiknya," kata dia.
Harga Bahan Pangan Ikut Terdampak Alami Kenaikan
Sementara, sebanyak 8.135 Kepala Keluarga (KK) di Kabupaten Tangerang, Banten dilanda kekeringan hingga mengakibatkan krisis air bersih. Bencana dampak kemarau ekstrem ini terjadi pada 41 titik yang tersebar pada 12 kecamatan.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang, Achmad Taufik mengatakan pihaknya mencatat cakupan wilayah yang dilanda kekeringan hingga mengakibatkan krisis air bersih. Saat ini meluas hingga ke 12 kecamatan dengan total 8.135 KK terdampak.
"Total ada 12 kecamatan dengan total jumlah yang terdampak kurang lebih 8.135 KK. Ini berdasarkan laporan yang diterima," ujarnya.
Taufik membeberkan luasan dampak kekeringan di 12 kecamatan ini meliputi 41 titik dengan 31 desa/kelurahan yang ada di Kabupaten Tangerang. "Jadi satu desa ada yang dua, ada yang empat, ada yang satu begitu," kata dia.
Dia merinci untuk wilayah yang terdampak meliputi Kecamatan Legok, Tigaraksa, Panongan, Rajeg, Kronjo, Curug, Kelapa Dua, Cikupa, Sukadiri, Balaraja, Mekar Baru dan Kecamatan Pagedangan. Pihaknya saat ini tengah menyiapkan penetapan status siaga bencana kekeringan.
Langkah tersebut, lanjutnya, dinilai penting untuk memperkuat koordinasi penanganan sekaligus membuka keterlibatan berbagai pemangku kepentingan, termasuk sektor swasta. Sementara, pemerintah daerah terus berkoordinasi dengan Perumdam Tirta Kerta Raharja, Dinas Perumahan dan Permukiman serta Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Tangerang guna mendistribusikan bantuan air bersih ke wilayah yang terdampak.
"Sampai sementara ini kita membantu terus untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Tapi melihat ini kondisi hujan belum turun, pasti kami mencari terobosan," ucapnya.
Terpisah, Sekretaris BPBD Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Essa Nugraha mengaku diwilayahnya sebanyak 162 KK membutuhkan pasokan air bersih akibat dampak kekeringan. "Sedangkan jumlah air bersih terdistribusi sekitar 73.100 liter," kata dia.
Ia menjelaskan dari jumlah 162 KK yang terdampak krisis air bersih ini meliputi lingkup permukiman di RT 02/01, RT 04/02, RT 01/02, RT 13/05, RT 03/01, RT 06/02, RT 12/05 dan terakhir RT 05/02.
"Untuk lokasi penanganan ada di RT 001 RW 01, RT 012 RW 05 dan RT 004 RW 02. Ditambah lagi, RT 005 RW 02 serta RT 006 RW 02," ucapnya.
Essa mengaku dengan kondisi tersebut pemerintah daerah segera menurunkan pendistribusian air bersih sebanyak 18.050 liter untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang terdampak. Langkah ini, katanya, mendapat dukungan dari PDAM Tirta Traya Cisadane Serpong, Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane dan PT Sinar Mas Land BSD.
Di mana, kendaraan yang digunakan truck tangki air Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Tangerang Selatan kapasitas 4.000 liter. "Mobil truk tangki air Kemitraan BBWSCC kapasitas 8.000 liter, truk tangki air PT Sinar Mas Land BSD kapasitas 5.000 liter. Ditambah mobil pick up toren PMI Tangerang Selatan berkapasitas 1.050 liter," ujarnya.
BMKG Siapkan Strategi Tekan Dampak Kekeringan
Harga pangan disejumlah pasar tradisional yang ada diwilayah Tangerang mengalami lonjakan. Hal itu lantaran dampak kekeringan akibat kemarau ekstrem.
Pantauan rri.co.id, sejumlah komoditas mengalami kenaikan, terutama kelompok cabai merah dan protein hewani. Sementara harga bawang justru mengalami tren penurunan.
Salah satu penjual beras di Pasar Anyar Kota Tangerang, Agus mengatakan beras kualitas bawah II naik 0,34 persen menjadi Rp14.600 per kilogram. "Biasanya Rp11-12 ribu per kilogram, kini menjadi Rp14.600 per kilogramnya," ujarnya.
Dia juga mengaku minyak goreng kemasan bermerek I naik 0,21 persen menjadi Rp24.350 per liter. Sedangkan minyak goreng kemasan bermerek II tetap di Rp23.450 per liter.
Salah satu pembeli di Pasar Anyar Kota Tangerang, Nuryani menuturkan, pada kelompok protein hewani, harga daging sapi kualitas I naik 0,07 persen menjadi Rp151.050 per kilogram. Selain itu, harga daging ayam ras segar naik 1,92 persen menjadi Rp39.850 per kilogram.
"Harga telur ayam ras segar naik tipis 0,17 persen menjadi Rp29.650 per kilogram. Kenaikan terutama terjadi pada kelompok cabai merah dan protein hewani, ucapnya.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyiapkan strategi untuk menekan dampak kemarau panjang yang terjadi diwilayah Jabodetabek. Salah satunya melalui operasi modifikasi cuaca (OMC) atau hujan buatan.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani mengatakan pelaksanaan OMC di Jakarta dan sekitarnya bersifat situasional. OMC dilakukan jika kemarau terus berkepanjangan.
"Kalau di Jakarta situasional ya, jadi BMKG bekerjasama dengan BPBD DKI Jakarta itu secara situasional melihat situasi yang ada di Jakarta. Jadi ketika memang kondisinya sudah hari tanpa hujan cukup panjang, maka dilakukan operasi modifikasi cuaca," ujarnya.
Menurutnya, keberadaan awan menjadi syarat utama pelaksanaan modifikasi cuaca. Tanpa awan, hujan buatan tidak bisa dilakukan.
"Dengan catatan ketika awan masih ada ya. Karena kalau tanpa awan kita tidak bisa memodifikasi, sehingga nantinya bisa membuat Jakarta lebih adem," ucapnya.
Selain memanfaatkan OMC, BMKG juga telah memasang Ground Based Generator (GBG) di sejumlah gedung tinggi di Jakarta. Teknologi ini digunakan untuk membantu memicu hujan ketika terdapat awan yang dinilai berpotensi menghasilkan hujan.
"Karena begini, di beberapa gedung tinggi di Jakarta, bekerjasama BMKG juga dengan BPBD DKI Jakarta. Itu kita juga memasang namanya Ground Based Generator," kata dia.
"Jadi ketika nanti ada awan yang kira-kira sehat untuk menghujankan Jakarta. Maka akan dilepaskan uap air atau flare untuk kemudian terjadi hujan," lanjutnya.
Faisal mengaku langkah tersebut juga menjadi upaya menjaga kualitas udara saat kemarau berkepanjangan. Sebab, kualitas udara di Jakarta umumnya memburuk apabila hujan tidak turun selama dua hingga tiga pekan.
"Ini biasanya kalau dalam 2-3 minggu tanpa hujan sama sekali, kualitas udara di Jakarta juga menurun. Jadi salah satu upayanya adalah dengan melakukan hujan pada saat kondisinya memungkinkan di Jakarta," ujarnya.
Sementara Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah II, Hartantomemprediksi musim kemarau di wilayah Tangerang Raya akan berlangsung hingga Oktober 2026. Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus dengan potensi kekeringan yang meningkat.
Hartanto mengaku berdasarkan hasil pemantauan, salah satu wilayah terdampak adalah Tangerang Raya. Kondisi musim kering diperkirakan bertahan selama beberapa bulan ke depan.
"Berdasarkan informasi yang kami pantau, prediksi musim kemarau untuk wilayah Tangerang Raya berlangsung kurang lebih hingga Oktober 2026. Dengan puncak musim kemarau diprediksi pada Agustus," kata Hartanto.
Ia menjelaskan menguatnya musim kemarau tahun ini dipengaruhi oleh fenomena El Nino yang aktif. Sehingga meningkatkan potensi kekeringan dibandingkan kondisi normal.
"Musim kemarau memang lazim terjadi pada Juli hingga Oktober. Namun, intensitas kekeringan tahun ini dipengaruhi oleh fenomena El Nino yang aktif," ucapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....