Kekeringan Merajalela, Pemprov Banten Kaji Status Darurat Bencana

  • 31 Jul 2026 16:53 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • BPBD Provinsi Banten melakukan kajian dan evaluasi kondisi kedaruratan untuk meningkatkan status siaga bencana kekeringan dan kebakaran.
  • Peningkatan status siaga darurat bencana dilakukan sebagai antisipasi perluasan dampak krisis air bersih dan kebakaran hutan-lahan akibat kemarau ekstrem.
  • Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Banten, Lutfi Mujahidin, menekankan perlunya rapat untuk menentukan status peningkatan siaga bencana di Banten.

Sementara, sebanyak 8.135 Kepala Keluarga (KK) di Kabupaten Tangerang, Banten dilanda kekeringan hingga mengakibatkan krisis air bersih. Bencana dampak kemarau ekstrem ini terjadi pada 41 titik yang tersebar pada 12 kecamatan.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang, Achmad Taufik mengatakan pihaknya mencatat cakupan wilayah yang dilanda kekeringan hingga mengakibatkan krisis air bersih. Saat ini meluas hingga ke 12 kecamatan dengan total 8.135 KK terdampak.

"Total ada 12 kecamatan dengan total jumlah yang terdampak kurang lebih 8.135 KK. Ini berdasarkan laporan yang diterima," ujarnya.

Taufik membeberkan luasan dampak kekeringan di 12 kecamatan ini meliputi 41 titik dengan 31 desa/kelurahan yang ada di Kabupaten Tangerang. "Jadi satu desa ada yang dua, ada yang empat, ada yang satu begitu," kata dia.

Dia merinci untuk wilayah yang terdampak meliputi Kecamatan Legok, Tigaraksa, Panongan, Rajeg, Kronjo, Curug, Kelapa Dua, Cikupa, Sukadiri, Balaraja, Mekar Baru dan Kecamatan Pagedangan. Pihaknya saat ini tengah menyiapkan penetapan status siaga bencana kekeringan.

Langkah tersebut, lanjutnya, dinilai penting untuk memperkuat koordinasi penanganan sekaligus membuka keterlibatan berbagai pemangku kepentingan, termasuk sektor swasta. Sementara, pemerintah daerah terus berkoordinasi dengan Perumdam Tirta Kerta Raharja, Dinas Perumahan dan Permukiman serta Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Tangerang guna mendistribusikan bantuan air bersih ke wilayah yang terdampak.

"Sampai sementara ini kita membantu terus untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Tapi melihat ini kondisi hujan belum turun, pasti kami mencari terobosan," ucapnya.

Terpisah, Sekretaris BPBD Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Essa Nugraha mengaku diwilayahnya sebanyak 162 KK membutuhkan pasokan air bersih akibat dampak kekeringan. "Sedangkan jumlah air bersih terdistribusi sekitar 73.100 liter," kata dia.

Ia menjelaskan dari jumlah 162 KK yang terdampak krisis air bersih ini meliputi lingkup permukiman di RT 02/01, RT 04/02, RT 01/02, RT 13/05, RT 03/01, RT 06/02, RT 12/05 dan terakhir RT 05/02.

"Untuk lokasi penanganan ada di RT 001 RW 01, RT 012 RW 05 dan RT 004 RW 02. Ditambah lagi, RT 005 RW 02 serta RT 006 RW 02," ucapnya.

Essa mengaku dengan kondisi tersebut pemerintah daerah segera menurunkan pendistribusian air bersih sebanyak 18.050 liter untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang terdampak. Langkah ini, katanya, mendapat dukungan dari PDAM Tirta Traya Cisadane Serpong, Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane dan PT Sinar Mas Land BSD.

Di mana, kendaraan yang digunakan truck tangki air Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Tangerang Selatan kapasitas 4.000 liter. "Mobil truk tangki air Kemitraan BBWSCC kapasitas 8.000 liter, truk tangki air PT Sinar Mas Land BSD kapasitas 5.000 liter. Ditambah mobil pick up toren PMI Tangerang Selatan berkapasitas 1.050 liter," ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....