Di Balik Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi dan Taruhan Ketahanan Energi Nasional
- 20 Jun 2026 00:36 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kenaikan harga BBM nonsubsidi menunjukkan bahwa dinamika energi global, mulai dari harga minyak dunia hingga konflik geopolitik, dapat berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat Indonesia.
- Pemerintah mempertahankan harga BBM subsidi untuk menjaga daya beli masyarakat, namun kenaikan Pertamax tetap memunculkan kekhawatiran terhadap tekanan ekonomi terutama bagi kelompok kelas menengah.
- Di tengah gejolak harga energi, pemerintah mulai menyiapkan strategi jangka panjang melalui implementasi B50 sebagai langkah menuju kemandirian dan ketahanan energi nasional.
Tak membutuhkan waktu lama, isu kenaikan BBM kembali bergerak menuju ruang publik. BEM Universitas Indonesia bersama sejumlah elemen mahasiswa menggelar demonstrasi di kawasan Bundaran HI Jakarta.
Mereka membawa berbagai tuntutan kepada pemerintah, mulai dari penurunan harga kebutuhan pokok hingga evaluasi sejumlah program nasional. Ketua BEM UI Yatalayhof Ma'shum memastikan aksi serupa masih akan berlanjut.
Selain Jakarta, aksi serupa juga berlangsung di Bandung, Makassar, hingga Riau. Demonstrasi tersebut menunjukkan bahwa isu energi masih menjadi salah satu persoalan yang cepat mendapatkan respons masyarakat.
Pakar Kebijakan Publik UGM Agustinus Subarsono menilai aksi mahasiswa merupakan bagian dari ruang demokrasi yang wajar. "Demo di berbagai tempat yang menolak kenaikan harga BBM non-subsidi sebagai bentuk kebebasan di ruang demokrasi yang perlu dihormati," ujar Agustinus.
Meski demikian, ia memperkirakan peluang perubahan kebijakan relatif kecil. Ia berpendapat hal ini mengingat tekanan fiskal yang tengah dihadapi pemerintah.
|
Selanjutnya,
Mengapa Pertalite dan Solar Tidak Naik?
|
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....