Rupiah Melemah, Tahu dan Tempe Hadapi Tekanan Harga

  • 10 Jun 2026 05:05 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Perajin tahu di Bogor, Ade, mengaku kenaikan harga kedelai menekan omzet dan meningkatkan kebutuhan modal usaha.
  • Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengakui pelemahan rupiah mulai menggerus keuntungan pelaku usaha tahu dan tempe.
  • Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan prioritas pemerintah adalah menjaga stabilitas pasokan kedelai impor.

TEMPE dan tahu menjadi sumber protein terjangkau bagi jutaan masyarakat Indonesia. Kedua pangan tersebut hadir dalam konsumsi harian berbagai lapisan masyarakat.

Di balik harganya yang relatif murah, industri tahu dan tempe bergantung pada kedelai impor. Sebagian besar kebutuhan bahan baku nasional masih didatangkan dari luar negeri.

Ketergantungan tersebut membuat perajin rentan terhadap gejolak nilai tukar rupiah. Ketika rupiah melemah, harga kedelai impor biasanya ikut mengalami kenaikan.

Kondisi itu berdampak langsung terhadap biaya produksi para perajin tahu dan tempe. Mereka harus mengeluarkan modal lebih besar untuk mempertahankan kegiatan usahanya.

Pemerintah mulai memberikan perhatian terhadap perkembangan harga kedelai impor. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga di pasaran.

Berbagai kebijakan disiapkan guna mengurangi tekanan terhadap pelaku usaha kecil. Salah satunya melalui pemberian subsidi kedelai dan pengawasan pasokan impor.

Persoalan ini menunjukkan dampak pelemahan rupiah tidak hanya dirasakan sektor keuangan. Gejolak kurs juga memengaruhi harga pangan dan keberlangsungan usaha masyarakat.

Di tengah ketergantungan impor yang masih tinggi, ketahanan pangan menjadi perhatian penting. Upaya menjaga stabilitas bahan baku diperlukan untuk melindungi perajin dan konsumen.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....