Jejak Sejarah Kapur Tulis

  • 19 Des 2024 23:01 WIB
  •  Sabang

KBRN, Sabang - Pada era 90-an, kapur tulis menjadi salah satu peralatan yang pasti ada di setiap kelas. Bunyi gesekan kapur saat menulis di papan tulis hitam adalah kenangan yang tidak terlupakan. Naumn, seiring perkembangan zaman, spidol semakin populer dan perlahan menggeser keberadaan kapur tulis.

Kapur tulis yang terlihat sederhana ternyata memiliki sejarah panjang dan menarik. Dikutip dari Bobo.grid.id, kapur tulis dibuat dari fosil hewan, lho! Hewan-hewan kecil bernama foraminifera yang menghuni dasar laut, kerangkanya itu terbuat dari kapur. Setelah hewan kecil ini mati, cangkangnya mengendap di dasar laut kemudian menjadi padat dan menjadi kapur lunak yang kemudian dapat diolah menjadi kapur tulis.

Kapur tulis dibuat dari bubuk kapur yang dicampur air dan tanah liat sebagai perekat kemudian ditambahkan pewarna. Adonan kapur tersebut kemudian digulung-gulung membentik silinder dan dikeringkan hingga keras. Selain untuk menulis, bahan-bahan ini juga bisa dijadikan campuran cat, dempul, obat, atau pasta gigi.

Meskipun tidak ada catatan sejarah yang pasti, para ahli sejarah berpendapat bahwa kapur telah digunakan manusia sejak zaman prasejarah. Berdasarkan temuan arkeologi, ditemukan gambar-gambar yang ditulis dengan kapur di idnding-dinding gua. Hal ini mengindikasikan bahwa kapur telah menjadi bagian dari kehidupan manusia sejak ribuan tahun yang lalu.

Berdasarkan laman Lokasoka.com, pada masa lalu, khususnya di abad pertengahan, kapur menjadi alat tulis yang sangat populer di sekolah-sekolah di Eropa. Saat itu, siswa-siswa menulis di papan tulis hitam menggunakan kapur. Kapur dipiliha karena dianggap praktis dan mudah dihapus. Namun, seiring berjalannya waktu, kapur mulai digantikan oleh spidol yang dianggap lebih bersih dan efisien

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....