Cholil ERK Beberkan Makna 'Rimpang' di Madani Film Festival 2026
- 05 Okt 2026 22:40 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Madani Film Festival 2026: RIMPANG melampaui film festival dengan menghadirkan film, musik, sastra, dan pertunjukan dalam satu ruang kreatif.
- Cholil ERK terlibat sebagai co-programmer, membawa karya yang mengangkat ketahanan warga, komunitas, dan keberagaman budaya.
- Film Mambesak menjadi salah satu sorotan, melalui film Muman Minggil dan penampilan musik yang memperkenalkan budaya Papua lebih luas.
RRI.CO.ID, Jakarta - Madani Film Festival 2026: RIMPANG menghadirkan gagasan lintas disiplin melalui film, musik, sastra, dan pertunjukan. Konsep tersebut membuat festival tidak berhenti pada pemutaran film, tetapi membuka pertemuan berbagai bentuk ekspresi seni dan komunitas.
Co-Programmer Madani Film Festival 2026, Cholil Mahmud, mengatakan program berangkat dari semangat warga bertahan, berkarya, dan menemukan cara. Ia menyebut keterlibatan Efek Rumah Kaca sebagai co-programmer menjadi pengalaman berharga karena tema RIMPANG dekat dengan album mereka.
"Kami merasa terhormat terlibat sebagai co-programmer, karena tema RIMPANG memiliki kedekatan dengan album keempat kami dan semangat berkarya. Setelah berdiskusi, kami merasa mampu menjadi co-programmer dalam bidang yang memang kami mengerti, sekaligus memperkaya program festival bersama," katanya dalam konferensi pers Madani Film Internasional Festival 2026: RIMPANG, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Senin, 5 Oktober 2026.
Menurutnya, rimpang menggambarkan jejaring kecil yang terus tumbuh, saling terhubung, dan menghasilkan gerakan baru melalui upaya warga. Semangat itu diterjemahkan melalui pilihan film dan pertunjukan yang memiliki hubungan dengan musik, komunitas, budaya, serta ketahanan hidup.
Program tersebut juga membawa karya yang dinilai dapat memperkaya pengalaman penonton melalui pertemuan film, musik, dan cerita masyarakat. "Kami mencoba melihat gejala warga yang bertahan hidup, melawan keadaan, lalu menemukan cara baru mengembangkan karya mereka sendiri," ucapnya.
Film Muman Minggil mengangkat Mambesak, kolektif musik Papua yang tumbuh sejak dekade 1980-an melalui pertemuan rutin dan rekaman. Kolektif tersebut kemudian menyiarkan lagu-lagu mereka melalui radio Papua hingga memiliki pendengar yang kuat dan dicintai masyarakat setempat.
Ia menilai kisah Mambesak penting dikenalkan lebih luas karena kolektif tersebut menjaga bahasa dan lagu Papua melalui musik.Upaya itu dilengkapi penampilan teman-teman Papua yang menghayati lagu Mambesak dalam rangkaian acara Madani Film Festival yang nantinya.
"Kami berharap Muman Minggil memperkenalkan Mambesak lebih luas, sekaligus mengajak teman-teman Papua menghayati kembali lagu-lagu mereka dalam festival. Kami ingin menghadirkan musik yang berangkat dari karya Imam Besar, kemudian mengolahnya kembali untuk diputar pada delapan Oktober," ujarnya.
Rangkaian co-programming berlangsung 8 hingga 10 Oktober, mencakup pembacaan novel, cerpen, pemutaran film, serta pertunjukan musik dan budaya. Pada 9 Oktober, program menghadirkan film budaya Sunda dan film noise, memperkuat semangat lintas disiplin Madani Festival bersama.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....