MADANI Rilis 'Suara Tanah Kita', Ajak Masyarakat Cintai Lingkungan dan Alam

  • 01 Agt 2026 08:20 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • MADANI luncurkan lagu "Suara Tanah Kita" sebagai kampanye keadilan iklim dan perlindungan lingkungan melalui kolaborasi seniman serta budayawan masyarakat adat.
  • Lagu terinspirasi perjuangan masyarakat Dayak Kayan mempertahankan tanah leluhur dari tekanan kepentingan ekonomi, sekaligus mengajak memperkuat solidaritas menjaga lingkungan.
  • Tradisi lisan Telima yang dibawakan Ine Martha Haran mengangkat doa, rasa syukur kepada Tuhan, serta pesan leluhur untuk menjaga budaya, alam, dan tanah warisan bagi generasi penerus.

RRI.CO.ID, Jakarta - Yayasan Madani Berkelanjutan (MADANI) meluncurkan karya musik kolaboratif 'Suara Tanah Kita' untuk menyuarakan keadilan iklim dan perlindungan lingkungan. Kolaborasi melibatkan musisi Asteriska, penutur sastra lisan Dayak Kayan Ine Martha Haran, dan budayawan Kapuas Hulu Dominikus Uyub.

Ia mengungkapkan lagu itu lahir setelah berdiskusi bersama produser Adai yang dekat dengan masyarakat adat Dayak Kayan Kalimantan Utara. Cerita mengenai perjuangan mempertahankan tanah leluhur kemudian menjadi inspirasi utama dalam menyusun lirik serta pesan kuat lagu tersebut.

Menurutnya, Adai menggambarkan kondisi ketika tanah adat mulai dibeli pihak yang memiliki berbagai kepentingan ekonomi dan bisnis. Masyarakat adat tetap berupaya mempertahankan tanah kelahiran mereka, meski menghadapi tekanan besar dari berbagai pihak yang berkepentingan.

"Bang Adai bercerita mengenai kondisi Kalimantan saat itu, ketika tanah mulai dibeli oleh orang-orang yang memiliki kepentingan tertentu," ujarnya dalam konferensi pers Sehari Rasa Kapuas: Suara Tanah Kita, Dialogue Artspace, Jakarta Selatan, Jumat malam, 31 Juli 2026. Ia menilai persoalan terbesar bukan hanya tekanan dari luar, tetapi juga tantangan membangun kekompakan masyarakat menjaga tanah warisan.

Ia mengatakan sebagian warga masih berjuang mempertahankan tanah, sementara sebagian lainnya memilih menjual lahan karena kebutuhan ekonomi. Melalui 'Suara Tanah Kita', MADANI berharap kesadaran menjaga lingkungan serta solidaritas masyarakat terus menguat demi melindungi alam Indonesia.

Sementara itu, penutus sastra lisan Dayak Kayan, Ine Martha Haran, turut memperkaya lagu kolaboratif "Suara Tanah Kita". Ia membawakan Telima, sastra lisan yang berisi doa serta ungkapan syukur kepada Tuhan sebagai warisan budaya leluhur.

Ia menjelaskan Telima menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Dayak Kayan karena sarat dengan nilai spiritual. Tradisi tersebut juga mengajarkan rasa syukur sekaligus mengingatkan manusia untuk menjaga hubungan harmonis dengan alam.

"Telima itu adalah tradisi lisan yang dimiliki Suku Dayak Kayan. Di dalamnya berisikan doa dan ucapan rasa syukur kepada Tuhan," ucapnya.

Menurutnya, pesan itu diwariskan turun-temurun sebagai pedoman hidup bagi setiap generasi penerus masyarakat adat. Ia mengatakan para leluhur selalu berpesan agar generasi sekarang menjaga seluruh warisan yang telah dititipkan dengan penuh tanggung jawab.

Nilai tersebut tidak hanya berkaitan dengan budaya, tetapi juga mencakup pelestarian alam yang menjadi sumber kehidupan masyarakat adat. Melalui pesan dalam Telima, ia berharap generasi penerus mampu melanjutkan amanah leluhur untuk menjaga budaya, dan tanah kelahiran.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....