Film 'Juminten Edan' Tampilkan Aksi Laga Horor Perempuan

  • 23 Jul 2026 14:55 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Konsep Unik & Inklusif: Film Juminten Edan menggabungkan genre horor, drama, dan aksi laga dengan menghadirkan tokoh utama seorang perempuan difabel (tuna wicara dan rungu) yang berjuang melawan teror serta stigma warga desa.
  • Pendalaman Peran Ekstrem: Aktris M. Amira menjalani latihan bahasa isyarat intensif selama dua minggu serta pelatihan koreografi pertarungan fisik bersama pengarah aksi profesional, Jonathan Ozo, demi adegan laga yang realistis.
  • Target & Lokasi Syuting: Ditujukan bagi penonton usia 17 tahun ke atas karena menyajikan ketegangan tinggi dan slasher, film ini mengambil latar lokasi syuting ekstrem di kawasan Pacitan, Demak, hingga Gunungkidul.

RRI.CO.ID, Jakarta - Film Juminten Edan resmi tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai hari ini, Kamis, 23 Juli 2026. Film ini memadukan genre horor, drama, dan laga melalui kisah perjuangan seorang perempuan difabel menghadapi teror di desanya.

Aktris Meisya Amira memerankan Juminten, gadis desa penyandang tunawicara yang mendadak memiliki kemampuan bela diri untuk melindungi keluarganya. Karakter tersebut harus menghadapi stigma, penolakan warga, hingga ancaman fisik akibat konflik masa lalu.

"Karakter Juminten ini unik karena dia ingin menceritakan yang dilihat. Tetapi memiliki keterbatasan wicara," kata Meisya Amira dalam wawancara di Pro Siniar RRI Pro 3, Kamis, 23 Juli 2026.

Meisya mengatakan, dirinya mempelajari bahasa isyarat selama dua pekan dan menjalani latihan fisik intensif demi mendalami karakter. Persiapan tersebut dilakukan untuk mendukung adegan laga yang menjadi bagian penting dalam film.

Konflik semakin memuncak ketika suami Juminten, Manto, berada dalam dilema antara membela istrinya atau mengikuti tekanan warga desa. Pergulatan keluarga dan upaya bertahan hidup menjadi penggerak utama alur cerita.

Aktor Dimas Aditya, yang memerankan Manto, mengatakan kekuatan film ini terletak pada perpaduan drama dan aksi laga. Menurutnya, sosok perempuan sebagai tokoh utama menjadi pembeda dari film sejenis.

"Pembeda utamanya adalah pemeran utamanya seorang perempuan yang berjuang dengan aksi laga. Jadi ini memang film yang kuat drama dan aksi laganya," ujar Dimas Aditya.

Menurutnya, seluruh adegan pertarungan dikoreografikan oleh pengarah aksi Jonathan Ozo. Langkah itu dilakukan untuk menghadirkan adegan laga yang terasa lebih realistis.

Film ini ditujukan bagi penonton berusia 17 tahun ke atas. Pengambilan gambar dilakukan di sejumlah lokasi, antara lain Pacitan, Demak, dan Gunungkidul.

Juminten Edan menawarkan ketegangan melalui perpaduan horor, drama, dan aksi tanpa bergantung pada efek kejut semata. Film ini diharapkan menambah pilihan tontonan bagi penikmat film horor Indonesia.

Bagi Anda yang ingin menyaksikan obrolan seru dan wawancara lengkap bersama para pemeran film Juminten Edan, tonton tayangan selengkapnya di Pro Siniar RRI Pro 3 YouTube.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....