Mengembalikan Sentuhan Horor Klasik lewat 'Juminten Edan'

  • 23 Jul 2026 14:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Film Juminten Edan menandai pergeseran signifikan dalam tren horor Indonesia dari ketergantungan pada jump scare menuju pendekatan horor klasik yang lebih mendalam.
  • Horor klasik dibangun melalui kombinasi atmosfer mencekam, dinamika emosi yang kompleks, dan konflik cerita yang kuat daripada bergantung pada efek kejutan instan.
  • Film ini akan tayang pada 23 Juli 2026 dan merepresentasikan evolusi genre horor lokal menuju formula yang lebih sophisticated dan menggali elemen psikologis penonton.

RRI.CO.ID, Jakarta — Tren film horor di Tanah Air memasuki babak baru yang tidak lagi sekadar mengandalkan formula kejutan instan (jump scare). Lewaat rilisan terbarunya yang tayang mulai 23 Juli 2026, film Juminten Edan mencoba membawa penonton kembali ke era kejayaan horor klasik.

Horor klasik sendiri merupakan sebuah era di mana ketakutan dibangun lewat atmosfer mencekam, dinamika emosi. Bahkan disertai konflik cerita yang solid.

Pendekatan sinematik ini menjadi penawar rindu bagi pencinta genre horor yang mendambakan kedalaman cerita. Memadukan unsur misteri desa, keterbatasan komunikasi, hingga konflik interpersonal, film ini mengemas nuansa lama menggunakan teknologi pengambilan gambar modern.

Kolaborasi Debut Sutradara dan Koreografer Laga

Daya tarik visual Juminten Edan tak lepas dari tangan dingin sutradara debutan Mercy yang berkolaborasi dengan pengarah koreografi aksi ternama, Jonathan Ozo. Kombinasi ini melahirkan estetika adegan yang tidak hanya menegangkan dari sisi supranatural, tetapi juga memanjakan mata lewat adegan fisik yang diperhitungkan secara presisi.

Aktor Dimas Aditya, yang memerankan tokoh Manto mengatakan, gaya penceritaan film ini secara sengaja dirancang untuk membangkitkan ingatan penonton pada karakteristik horor era terdahulu. Di mana kaya akan nuansa lokal.

"Gaya penceritaannya seperti kembali ke era film horor klasik. Tetapi dipadukan dengan teknologi modern sehingga visual dan gambarnya terasa lebih segar serta matang," ucap Dimas Aditya dalam sesi siaran di Pro Siniar RRI Pro 3 Jakarta, dilansir Kamis, 23 Juli 2026.

Menurutnya, kekuatan utama film terletak pada lapisan drama yang dibangun secara bertahap sebelum ketegangan horor. Kemudian menuju puncaknya yang menghadirkan porsi aksi laga meledak di layar.

Eksplorasi Karakter dan Tekanan Psikologis

Juminten Edan menonjolkan perjuangan psikologis dan fisik tokoh utamanya yakni Juminten yang diperankan Meisya Amira. Keterbatasan wicara yang dimiliki sang karakter justru memperkuat tekanan isolasi sosial yang dialaminya di tengah stigma masyarakat desa.

Tekanan psikologis yang dihadapi karakter Juminten dialirkan lewat gestur tubuh, tatapan mata. Kemudian, ekspresi emosi yang intens tanpa banyak kata.

"Tantangan terbesarnya adalah bagaimana menaruh emosi dan rasa ke dalam setiap gerakan tubuh serta bahasa isyarat. Sehingga pesan perjuangan karakter ini sampai ke penonton," kata Amira seraya menceritakan proses penjiwaan perannya.

Sentuhan Realisme di Pesisir Jawa

Pengambilan gambar di kawasan Pacitan, Demak, hingga Gunungkidul memberikan kontribusi besar pada pembentukan tekstur visual yang mentah dan realistis. Lanskap alam pedesaan dan lanskap pantai selatan Jawa dimanfaatkan untuk mempertegas nuansa keterasingan yang dialami para tokohnya.

Dengan klasifikasi usia 17 tahun ke atas, Juminten Edan berupaya membuktikan bahwa genre horor Indonesia mampu menyajikan narasi yang matang, estetis. Sekaligus menghibur tanpa harus kehilangan identitas lokalnya.

Penasaran dengan keseruan diskusi penuh dan cerita di balik layar pembuatan film Juminten Edan? Simak wawancara selengkapnya bersama para pemeran di kanal YouTube Pro Siniar RRI Pro 3.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....