Menbud Soroti Rendahnya Minat Film Sejarah, Komedi Masih Dominasi Selera Penonton
- 10 Jul 2026 12:05 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Menbud Fadli menilai minat masyarakat terhadap film sejarah masih rendah, sementara film komedi, horor, dan anak-anak mendominasi jumlah penonton di bioskop Indonesia.
- Kementerian Kebudayaan membuka Program Produksi Film Narasi Kepahlawanan Indonesia 2026 untuk mendorong lahirnya film sejarah berkualitas dengan melibatkan sineas dan sejarawan.
- Pendiri MD Pictures Manoj Punjabi menilai kesuksesan KKN di Desa Penari membuktikan film horor masih menjadi genre yang paling diminati masyarakat Indonesia.
RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Kebudayaan (Menbud), Fadli Zon menyoroti rendahnya minat masyarakat terhadap film Indonesia bertema sejarah saat ini. Menurutnya, pasar perfilman nasional masih didominasi karya komedi, horor, dan anak-anak yang memiliki jumlah penonton lebih besar.
Ia menyebutkan beberapa film populer berhasil mencatat angka penonton tinggi dalam beberapa tahun terakhir di bioskop Indonesia. Film Agak Laen mencapai 10.980.933 penonton, sementara Jumbo memperoleh 10.098.041 penonton secara nasional.
Selain itu, film KKN di Desa Penari juga mencatatkan jumlah penonton mencapai 10.061.033 orang. Capaian tersebut menunjukkan masyarakat masih memiliki ketertarikan besar terhadap film dengan tema hiburan populer.
"Menurut saya, film yang menyangkut sejarah relatif masih perlu dukungan karena persaingan media cukup berat saat ini. Euforia penonton sekarang lebih banyak tertuju kepada film komedi yang memiliki daya tarik pasar sangat besar," katanya dalam peluncuran Program Produksi Film Narasi Kepahlawanan Indonesia Tahun 2026, Senayan Golf Club, Jakarta Selatan, Kamis, 9 Juli 2026.
Ia mengatakan penguatan film sejarah diperlukan untuk menjaga keberagaman karya dalam ekosistem perfilman Indonesia. Ia juga menilai film anak-anak perlu mendapatkan perhatian agar berkembang bersama berbagai genre lainnya.
Pemerintah berharap karya film nasional dapat diputar dalam berbagai kegiatan, khususnya bagi generasi muda Indonesia. Selain itu, kerja sama dengan televisi juga menjadi salah satu upaya memperluas manfaat produksi film tersebut.
Saat ini, Kementerian Kebudayaan membuka sayembara Program Produksi Film Narasi Kepahlawanan Indonesia Tahun 2026. Program ini mendorong lahirnya karya-karya sinema yang mengangkat perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia pada periode 1945-1950.
"Pada intinya, program ini dibuat untuk mendukung ekosistem perfilman kita agar semakin berkembang. Masyarakat yang masih menonton film di bioskop menjadi hal positif yang harus dipertahankan bersama," ujarnya.
Ia menjelaskan kompetisi film dibuat dengan melibatkan sineas, rumah produksi, serta komunitas perfilman Indonesia. Program tersebut bertujuan memberikan ruang kreativitas sekaligus menghasilkan karya berkualitas dengan standar artistik tinggi.
Pemerintah membuka kompetisi secara terbuka dan adil dengan tetap memperhatikan nilai sejarah dalam pembuatan film. Sejarawan akan dilibatkan agar cerita yang disampaikan tidak menyimpang dari fakta maupun konteks peristiwa.
"Film memang memiliki ruang imajinasi dan kreativitas yang luas melalui berbagai perspektif pembuatnya. Namun, konteks sejarah harus tetap benar agar peristiwa penting tidak mengalami kekeliruan dalam penyampaian," ucapnya.
Ia menyampaikan kolaborasi antara sineas dan sejarawan dapat memperkuat kualitas produksi film sejarah nasional. Menurutnya, berbagai latar belakang seperti penulis, wartawan, akademisi, dan arsiparis dapat memberikan kontribusi.
Ia optimistis program kompetisi film tersebut dapat berjalan dengan waktu terbatas melalui prosedur yang terukur. Pengalaman kompetisi sebelumnya menjadi modal untuk menghasilkan karya berkualitas dalam waktu yang telah ditentukan.
Pendiri MD Pictures, Manoj Punjabi, menilai tingginya minat masyarakat terhadap film horor terus bertahan. Menurutnya, keberhasilan berbagai film horor menunjukkan genre tersebut memiliki tempat yang kuat di industri perfilman nasional.
Salah satu contohnya terlihat melalui kesuksesan film 'KKN di Desa Penari' yang mencatatkan jumlah penonton sangat tinggi. Film tersebut diadaptasi dari cerita viral mengenai enam mahasiswa yang menjalani kuliah kerja nyata di desa terpencil.
"Keberhasilan KKN di Desa Penari menjadi bukti masyarakat Indonesia memiliki ketertarikan besar terhadap film-film horor. Cerita yang berkembang di tengah masyarakat mampu menarik perhatian penonton untuk menyaksikan kisah tersebut di bioskop," ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....