Menbud: Banyak Film Indonesia Belum Dapat Kuota Layar Bioskop

  • 20 Apr 2026 21:50 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, menyebut jumlah layar bioskop di Indonesia masih jauh dari kebutuhan, yakni baru sekitar 2.500 dari estimasi 10 ribu layar.
  • Keterbatasan layar membuat banyak film nasional, terutama karya sineas independen, tidak memperoleh waktu tayang yang memadai dan sulit menjangkau penonton luas.
  • Selain itu, industri perfilman juga menghadapi tantangan distribusi, termasuk minimnya peran distributor, sehingga rumah produksi harus menanggung beban ganda antara produksi dan pemasaran.

RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Kebudayaan (Menbud), Fadli Zon, mengungkapkan masih banyak film Indonesia yang belum memperoleh kuota layar di bioskop. Keterbatasan jumlah layar, kata dia, dinilai menjadi kendala utama bagi distribusi film nasional.

"Saat ini jumlah layar bioskop di Indonesia masih jauh dari kebutuhan. Dari estimasi kebutuhan sekitar 10 ribu layar, jumlah yang tersedia baru sekitar 2.500 layar," katanya kepada wartawan usai menghadiri acara Penghargaan Kompetisi Skenario SINEMA 2026, Gedung Kemendikdasmen, Jakarta Selatan, Senin, 20 April 2026.

Ia menjelaskan bahwa kondisi tersebut menyebabkan banyak film, terutama produksi dalam negeri, tidak mendapatkan waktu tayang yang memadai. Akibatnya, sejumlah karya film, khususnya dari sineas independen kesulitan menjangkau penonton secara luas.

Ia mengatakan bahwa masalah ini harus menjadi perhatian khusus melalui berbagai program afirmasi guna mendukung keberlanjutan karya mereka. Dalam mengatasinya, pihaknya telah menyiapkan sejumlah program dukungan, seperti bantuan perjalanan (travel grant) untuk mengikuti festival film internasional.

"Beberapa di antaranya adalah partisipasi dalam International Film Festival Rotterdam, dan Clermont-Ferrand International Short Film Festival. Adapun Sundance Film Festival, serta festival lainnya seperti Cannes dan Busan," ucapnya.

Menurutnya, film merupakan medium yang efektif untuk memperkenalkan budaya Indonesia ke dunia. Beragam unsur budaya, seperti seni peran, musik, bahasa, tradisi lisan, hingga kuliner, dapat terepresentasi dalam sebuah karya film.

Ia menegaskan, penguatan ekosistem perfilman nasional menjadi bagian penting dalam membangun kedaulatan narasi budaya di tengah arus konten global. "Film harus kita tempatkan sebagai infrastruktur budaya yang pokok," ujarnya menambahkan.

Deputi Bidang Kreativitas Media KemenEKRAF, Agustini Rahayu menyebutkan, industri perfilman nasional saat ini masih menghadapi sejumlah tantangan serius. Tantangan itu khususnya di bidang distribusi, membuat industri ini belum bisa menangkap potensi pasar secara optimal.

Salah satu tantangannya yaitu absennya distributor film di indonesia. Ia mengatakan, unsur distributor sejatinya penting, sehingga pemasaran dan distribusi film semakin luas.

"Tantangan utamanya adalah saat ini ada beban ganda yang ditanggung oleh production house dengan keterbatasan distributor. Jadi, saat ini PH kita memikul beban ganda mereka harus fokus produksi, sekaligus jualan," ucapnya, menjelaskan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....