Menbud Fadli Soroti Minimnya Layar Bioskop di Indonesia

  • 01 Apr 2026 21:45 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Fadli Zon menyebut Indonesia masih kekurangan layar bioskop, dari kebutuhan sekitar 10.000 layar baru tersedia 2.300–2.500 layar.
  • Potensi industri film dinilai besar didukung jumlah penduduk lebih dari 280 juta serta kekayaan budaya mega-diversity dengan 1.340 suku dan 718 bahasa.
  • Sineas Joko Anwar menilai film penting sebagai instrumen soft power untuk memperkenalkan budaya sekaligus mendorong nilai ekonomi Indonesia di kancah global.

RRI.CO.ID, Jakarta - Indonesia masih kekurangan layar lebar (bioskop) untuk mendukung pertumbuhan industri film nasional. Demikian disampaikan oleh Menteri Kebudayaan (Menbud), Fadli Zon.

Ia mengungkapkan, kebutuhan layar bioskop di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 10.000 layar. Namun, saat ini jumlah yang tersedia baru berkisar 2.300 hingga 2.500 layar.

"Kalau tidak salah kebutuhan layar kita itu adalah 10.000 layar. Tetapi yang kita miliki kurang lebih 2.300-2.500 layar, artinya potensi perfilman kita ini luar biasa ke depan," ujarnya kepada wartawan usai acara Nobar Film: Darah dan Doa dalam acara Literasi Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri, CGV Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu, 1 April 2026.

Menurutnya, dengan jumlah penduduk lebih dari 280 juta jiwa serta kekayaan cerita yang melimpah. Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan industri film.

Ia menekankan bahwa Indonesia merupakan negara dengan tingkat keanekaragaman yang sangat tinggi atau mega-diversity. Baik dari segi budaya, bahasa, maupun suku bangsa.

"Dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote, cerita yang lahir dari keberagaman ini sangat banyak," kata Fadli. Ia menyebutkan, Indonesia memiliki sekitar 1.340 kelompok etnik dan 718 bahasa, atau sekitar 10 persen dari total bahasa di dunia.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kebudayaan tidak hanya mencakup seni, tetapi juga berbagai aspek lain seperti manuskrip. Dalam konteks ini, film menjadi salah satu medium penting untuk memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia ke dunia.

"Di dalam film terdapat berbagai ekspresi budaya, mulai dari akting, musik, tari, sastra, bahasa, fesyen dan kuliner. Semua bisa diperkenalkan melalui film," ucap Menbud Fadli.

Kementerian Kebudayaan, lanjutnya, juga tengah fokus pada pengembangan SDM melalui program manajemen talenta nasional di lima bidang. Yakni seni rupa, film, musik, seni pertunjukan, dan sastra.

Upaya ini diharapkan dapat mendorong kemajuan industri film Indonesia agar semakin berdaya saing di tingkat global. "Kita harapkan tentu bersama-sama dengan para sineas kita ingin memajukan film Indonesia, di tengah peradaban dunia," ujarnya.

Sementara itu, Sineas Indonesia, Joko Anwar menilai pentingnya memperkuat posisi film Indonesia di kancah global. Ia mengatakan, film merupakan salah satu instrumen strategis untuk membangun soft power suatu negara di dunia internasional.

Melalui film, sebuah negara dapat memperkenalkan budaya sekaligus memengaruhi persepsi global. "Kalau kita berbicara soal pop culture, banyak negara yang berhasil mengekspor budayanya, seperti Korea Selatan," ucapnya, menjelaskan.

Menurutnya, ketertarikan terhadap budaya asing tersebut turut mendorong konsumsi produk dan gaya hidup dari negara asal budaya tersebut. Hal ini menunjukkan besarnya dampak ekonomi dari kekuatan budaya populer.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....