Pameran IWA #4 Jadi Wadah Seniman Perempuan Lintas Generasi

  • 10 Apr 2026 06:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Pameran menghadirkan seniman perempuan dari generasi senior hingga muda, menegaskan kesinambungan dalam perkembangan seni.
  • Tingginya respons masyarakat membuat pameran terus berlanjut sejak pertama kali digelar pada 2007 hingga edisi keempat.
  • Keterbatasan ruang di masa lalu menegaskan perlunya dukungan dan langkah afirmatif agar karya perempuan lebih diakui dan terekspos.

RRI.CO.ID, Jakarta - Pameran Indonesian Women Artists (IWA) keempat kembali digelar sebagai kelanjutan dari rangkaian panjang penguatan ruang bagi seniman perempuan. Kepala Cemara 6 Galeri, Inda Citraninda Noerhadi mengatakan pameran ini menegaskan pentingnya kesinambungan lintas generasi dalam perkembangan seni.

"Indonesian Women Artists ini sejak awal menjadi platform untuk melihat pendalaman artistik. Dan pencapaian proses kreatif perempuan, dari generasi senior hingga yang muda," katanya saat ditemui wartawan usai pameran Indonesian Woman Artist #4: On The Map, Galeri Nasional Indonesia, Jakarta Pusat, Kamis, 9 April 2026.

Ia menjelaskan, setelah IWA pertama pada 2007, pameran kedua baru kembali digelar pada 2019. Hal ini karena pada periode tersebut kegiatan seni rupa perempuan dinilai belum banyak berkembang.

Kemudian IWA ketiga digelar pada 2022 dengan menghadirkan seniman perempuan yang konsisten berkarya selama lebih dari dua dekade. Ia menilai, tingginya antusiasme publik terhadap pameran sebelumnya menjadi alasan kuat digelarnya IWA keempat tahun ini.

"Dukungan dan respons publik sangat besar, sehingga Indonesian Women Artists ini terus berlanjut hingga sekarang," ucapnya. Ia menambahkan, IWA menjadi wadah kolaborasi lintas generasi, mulai dari seniman muda hingga senior dengan pendekatan karya yang semakin kontemporer.

Menurutnya, pameran ini juga sejalan dengan misi Cemara 6 Galeri sejak berdiri pada 1993. Yang konsisten memberikan ruang bagi karya dan isu perempuan.

Sejak awal berdiri, galeri tersebut telah aktif mengangkat tema perempuan, termasuk isu sosial dan kekerasan terhadap perempuan. Ia menyebut, perkembangan IWA juga tidak terlepas dari perjalanan sejarah seni rupa perempuan di Indonesia sejak era reformasi.

Di sisi lain, Wakil Menteri PPPA, Veronica Tan, menyoroti keterbatasan ruang bagi perempuan untuk berkarya pada masa lalu. Ia menyebut, dunia seni pada era sebelumnya didominasi oleh laki-laki sehingga karya perempuan kerap kurang mendapat perhatian.

Ia mencontohkan sosok Clara Schumann yang memperjuangkan karya suaminya, Robert Schumann, hingga dikenal luas. Menurutnya, hal tersebut menunjukkan pentingnya upaya aktif dalam memperjuangkan karya agar mendapat pengakuan publik.

Ia menegaskan, tanpa langkah afirmatif, perempuan akan terus menghadapi hambatan dalam memperoleh ruang berekspresi. "Selama tidak ada afirmatif action untuk memberikan ruang kepada perempuan, maka karya-karya mereka akan sulit terekspos," ujarnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....