Sistem Arsip Terbatas, Menbud Sebut Banyak Film 1950-an yang Rusak
- 01 Apr 2026 19:05 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Fadli Zon menyoroti banyak film era 1950-an mengalami kerusakan karena sistem arsip yang belum memadai.
- Pemerintah berkomitmen memperbaiki film lama dengan teknologi modern untuk menjaga nilai historis perfilman nasional.
- Selain peran Lembaga Sensor Film, sineas Joko Anwar menilai pasar domestik yang besar menjadi peluang pengembangan industri film Indonesia.
RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Kebudayaan (Menbud), Fadli Zon menegaskan komitmennya dalam menyelamatkan film-film lama Indonesia yang mengalami kerusakan. Menurutnya, film lama yang mengalami kerusakan diakibatkan karena keterbatasan sistem penyimpanan di masa lalu.
Ia mengatakan bahwa banyak film Indonesia era 1950-an yang kondisinya sudah tidak optimal. Maka, dalam hal ini, pihaknya ingin menyelamatkan film-film lama untuk menjaga warisan sejarah perfilman nasional.
"Film-film tahun 1950-an itu banyak yang rusak karena penyimpanan belum sesuai standar. Bahkan ada bagian yang hilang dan kualitas suara yang tidak konsisten," ujarnya kepada wartawan usai acara Nobar Film: Darah dan Doa dalam acara Literasi Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri, CGV Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu, 1 April 2026.
Meski demikian, ia menegaskan karya-karya tersebut masih memiliki nilai historis tinggi. Dan tetap dapat diperbaiki melalui proses restorasi.
"Kita akan selamatkan dulu film-film yang ada. Dengan teknologi saat ini, masih sangat mungkin untuk diperbaiki," ujarnya, lagi.
Selain upaya pelestarian, ia juga menekankan pentingnya penguatan ekosistem perfilman nasional, termasuk peran Lembaga Sensor Film. Ia menilai gerakan budaya sensor mandiri menjadi langkah penting dalam membangun tanggung jawab bersama.
Ke depan, pemerintah berharap ekosistem perfilman nasional semakin kokoh, dengan dukungan berbagai pihak. Termasuk Lembaga Sensor Film sebagai bagian akhir dalam proses penilaian sebuah karya sinema.
"Budaya sensor mandiri adalah bentuk tanggung jawab kita bersama. Agar tontonan sesuai dengan usia dan kapasitas penonton," ucapnya.
Sementara itu, sineas Indonesia, Joko Anwar, menilai industri perfilman nasional memiliki potensi besar untuk terus berkembang. Hal itu didukung oleh pasar domestik yang luas.
Menurutnya, Indonesia merupakan salah satu pasar film terbesar di Asia Tenggara. Yaitu dengan jumlah penduduk yang mencapai lebih dari 270 juta.
Ia menegaskan, kondisi ini membuka peluang besar bagi film-film lokal untuk berkembang dan menjangkau penonton yang lebih luas. "Pasar film Indonesia sangat besar, dan itu menjadi potensi besar untuk pertumbuhan perfilman nasional," katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....