Sejarah Hari Film Nasional, Tonggak Kebangkitan Perfilman Indonesia

  • 30 Mar 2026 11:54 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Hari Film Nasional diperingati setiap 30 Maret, berawal dari syuting Darah dan Doa karya Usmar Ismail (1950).
  • Film Darah dan Doa menjadi tonggak lahirnya identitas perfilman Indonesia oleh sineas lokal.
  • Penetapan Hari Film Nasional dilakukan pada tahun 1999 untuk mendorong perkembangan industri film nasional melalui Keppres Nomor 25 Tahun 1999.

RRI.CO.ID, Jakarta - Hari Film Nasional diperingati setiap tanggal 30 Maret. Peringatan ini menjadi momen penting untuk mengenang perjalanan panjang serta perkembangan industri film di Indonesia.

Penetapan tanggal tersebut tidak lepas dari peristiwa bersejarah dalam dunia perfilman nasional. Pada 30 Maret 1950, untuk pertama kalinya dilakukan proses pengambilan gambar film 'Darah dan Doa' yang disutradarai oleh Usmar Ismail.

Film ini dianggap sebagai tonggak kebangkitan perfilman Indonesia. Pasalnya, 'Darah dan Doa' diproduksi oleh perusahaan film nasional, Perfini, dan dikerjakan sepenuhnya oleh insan film Indonesia.

Melalui karya tersebut, perfilman Indonesia mulai menunjukkan identitasnya sendiri. Industri film tidak lagi didominasi oleh pihak asing, melainkan berkembang dari kreativitas dan sudut pandang sineas Tanah Air.

Seiring berjalannya waktu, gagasan untuk menetapkan Hari Film Nasional mulai mengemuka. Usulan ini sudah muncul sejak tahun 1962 dalam forum insan perfilman Indonesia.

Namun, penetapan resminya baru terwujud beberapa dekade kemudian. Pemerintah akhirnya menetapkan Hari Film Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 25 Tahun 1999.

Selain untuk meningkatkan apresiasi terhadap perfilman Indonesia dan dedikasi insan film. Penepatan ini juga untuk meningkatkan rasa percaya diri serta semangat berkarya di industri perfilman nasional.

Hari Film Nasional juga diharapkan dapat menjadi pemicu pertumbuhan industri film Indonesia. Dengan adanya peringatan ini, perfilman nasional didorong untuk terus berkembang dan mampu bersaing di tingkat dunia.

Tak hanya itu, peringatan ini juga menjadi ruang refleksi bagi para pelaku industri. Mereka dapat melihat kembali perjalanan perfilman Indonesia sekaligus merancang arah masa depan yang lebih kuat.

Dengan demikian, Hari Film Nasional bukan sekadar peringatan tahunan. Momentum ini menjadi simbol lahirnya identitas perfilman Indonesia sekaligus pengingat akan perjuangan para sineas dalam membangun industri film Tanah Air.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....