Yayasan Singa Tirta Mas Pentaskan Kesenian Lengger Baritan
- 01 Okt 2025 15:33 WIB
- Purwokerto
KBRN, Banyumas: Yayasan Singa Tirta Mas menggelar pertunjukkan Kesenian Lengger dengan judul “Memoar Lengger Narsih: Ritus Baritan”. Pagelaran yang difasilitasi oleh Badan Pelestarian Kesenian (BPK) Wilayah X tersebut dilaksanakan di Hetero Space Purwokerto, Selasa (30/9/2025). Acara dimulai pada pukul 20.00 WIB, dengan diawali pertunjukkan gendingan dan kemudian berakhir pada pukul 22.00 WIB
Sutradara pertunjukan Abdul Aziz Rasjid menyampaikan bahwa pementasan kali ini mengangkat pesan luhur yang ingin disampaikan kepada masyarakat luas mengenai makna dari Lengger Baritan tersebut. Menurutnya, lengger memiliki kaitan dengan agriculture ceremonia atau ritus kesuburan.
“Ritus ini sangat terkait dengan bagaimana kita punya keintiman keakraban dengan alam. Makanya yang coba diangkat dari sini kan bagaimana kemudian alam itu selalu terhubung dengan kita dan bagaimana kita punya hubungan yang baik dengan alam. Itu yang ingin kita sampaikan sebenarnya lebih ke arah isu-isu lingkungan,” ujar Abdul kepada RRI, Selasa (30/9/2025).
Abdul juga menyampaikan bahwa persiapan telah dilakukan sejak satu bulan sebelum pertunjukkan dipentaskan. Pihaknya memilih Hetero Space sebagai tempat melaksanakan pementasan karena tempat tersebut dikenal sebagai ruang pertemuan bagi banyak anak muda, juga masyarakat yang bergerak di bidang ekonomi kreatif.
“Kami ingin mendistribusikan pengetahuan Ibu Narsih terkait Lengger dan segala macam ritusnya yang itu sudah banyak dilupakan. Siapa tahu bisa memantik terkait kesadaran isu lingkungan,” tutur Abdul.
Baca juga: Memoar Lengger Narsih, Abadikan Perjalanan Seni Narsihati

Pertunjukan yang dibagi menjadi empat babak tersebut menceritakan tentang ritual tolak bala dalam pertanian agar tidak ada hama yang menyerang dan menggagalkan panen raya. Pementasan dibawakan oleh empat orang penari yang memiliki perannya masing-masing, salah satunya Narsih yang berperan sebagai penjaga budaya lengger itu sendiri.
Baca juga: Lengger Bicara 2025: Wadah Apresiasi dan Kolaborasi Seni
Narsih menyampaikan apresiasi dan rasa syukur dengan diadakannya acara semacam itu. Dalam kesempatan yang sama, ia juga menyampaikan harapannya agar budaya Lengger Banyumasan ini tetap lestari di tengah kemajuan zaman.
“Kalau zaman sekarang itu kan lengger hampir punah. Pesan dari saya yang masih menjalani, tolonglah masyarakat, tolong, terutama keseniannya sendiri, saya minta dukungannya, diuri-uri (dilestarikan), ikut pada nguri-uri, jangan sampai punah, jangan sampai nanti setelah saya selesai jadi penari lengger, tidak ada penerusnya lagi,” ucap Narsih.
Pagelaran Kesenian Lengger menjadi salah satu bentuk pelestarian budaya. Di era modern seperti saat ini, ritual Lengger yang merupakan bentuk rasa syukur mulai dilupakan. Banyak pihak berharap bahwa kesenian Lengger ini dapat terus terjaga dan diwariskan kepada generasi yang akan datang. (Arief Muzakki).
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....