Memoar Lengger Narsih, Abadikan Perjalanan Seni Narsihati

  • 27 Sep 2025 12:39 WIB
  •  Purwokerto

KBRN, Banyumas: Kiprah Narsihati atau yang akrab disapa Narsih, sebagai pegiat seni tradisi lengger selama lebih dari lima dekade akan diabadikan dalam sebuah pertunjukan tari bertajuk Memoar Lengger Narsih: Ritus Baritan. Acara ini akan digelar pada Selasa, 30 September 2025, pukul 19.30 WIB, di Hetero Space Purwokerto.

Pertunjukan ini merupakan bagian dari program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan (FPK) Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah X yang didukung oleh Yayasan Singa Tirta Mas, Patikraja, Banyumas. Ketua Yayasan Singa Tirta Mas, Suchedi, menjelaskan bahwa Narsih merupakan sosok sentral dalam tradisi lengger Banyumas.

Ia mulai menari sejak usia tujuh tahun pada 1972 dan kini dikenal sebagai penjaga tradisi sekaligus pelaku aktif dalam berbagai ritus budaya, terutama yang terkait dengan upacara ritus kesuburan. Salah satu ritus yang akan diangkat pada pertunjukan ini adalah Baritan, sebuah tradisi tolak bala yang pernah umum dilakukan oleh masyarakat agraris di Banyumas.

“Pertunjukan ini akan mengisahkan pengalaman hidup Narsih sebagai lengger yang kehadirannya sangat penting dalam pelaksanaan upacara ritus kesuburan,” ujar Suchedi.

Abdul Aziz Rasjid, selaku sutradara pertunjukan, menyampaikan bahwa panggung akan dirancang menyerupai suasana upacara Baritan pada masa lampau, yaitu berupa gubuk tanpa dinding dengan tiang-tiang pancang dari bambu yang dihiasi elemen-elemen simbolik, seperti janur kuning, kelapa gading, batang pisang raja, tebu, dan daun beringin. Ia menjelaskan bahwa rancangan tersebut terinspirasi dari buku Lengger: Tradisi & Transformasi karya Sunaryadi.

“Gambaran tentang ritus baritan ini dirujuk dari buku buku Lengger Tradisi & Transformasi (Yayasan Untuk Indonesia & Lembaga Penelitian Institut Seni Indonesia Yogyakarta. 2000) karya Sunaryadi.” kata Aziz.

Lebih dari sekadar pementasan, Memoar Lengger Narsih: Ritus Baritan juga ingin menegaskan posisi Narsih sebagai wali atau penjaga warisan lengger. Selama ini ia aktif mengelola sanggar Ngudi Luwesing Salira dan mendirikan grup calung berbasis perempuan di desa tempat tinggalnya, Desa Pegalongan, Banyumas.

Pertunjukan akan dibagi ke dalam empat babak sesuai pakem lengger klasik, di antaranya klenengan, lenggeran, badhutan, dan baladewan. Narsih akan menjadi penari utama, diiringi oleh penayagan calung yang sebagian besar beranggotakan perempuan untuk menegaskan semangat kesetaraan dan keterlibatan aktif perempuan dalam kesenian tradisional.

“Pertunjukan akan terbagi dalam empat babak sesuai pakem lengger klasik yakni klenengan, lenggeran, badhutan dan baladewan. Narsih akan menjadi penari lengger utama diiringi dengan penayagan calung yang mayoritas beranggota perempuan sebagai simbolisasi keterlibatan aktif perempuan,” ujar Aziz.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....