Pengunduran Diri Gubernur BI Dinilai Berisiko Ganggu Kepercayaan Pasar
- 30 Jul 2026 16:32 WIB
- Gorontalo
RRI.CO.ID, Gorontalo – Pengunduran diri Perry Warjiyo dari posisi Gubernur Bank Indonesia (BI) menjadi perhatian kalangan akademisi dan ekonom. Langkah tersebut dinilai berpotensi menimbulkan ketidakpastian di tengah upaya pemerintah dan BI menjaga stabilitas nilai tukar rupiah serta kepercayaan pasar keuangan.
Kabar pengunduran diri Gubernur BI dua periode tersebut cukup mengejutkan dan berpotensi memunculkan berbagai spekulasi di tengah masyarakat. Situasi tersebut menjadi perhatian karena muncul di tengah kondisi perekonomian global yang masih menghadapi ketidakpastian.
Penegasan ini disampaikan Akademisi Universitas Negeri Gorontalo (UNG) sekaligus Ekonom Kementerian Keuangan, Dr. Herwin Mopangga, disela-sela mengikuti kegiatan Focus Group Discussion (FGD) mengenai stance kebijakan Bank Indonesia yang dilaksanakan oleh Departemen Komunikasi Bank Indonesia, yanv berlangsung pada 30–31 Juli 2026 di Yogyakarta, yang melibatkan sedikitnya 50 akademisi dan peneliti dari berbagai lembaga riset nasional maupun internasional.
“Beberapa hari terakhir terkait berita perekonomian nasional, kita cukup dikejutkan oleh berita pengunduran diri Bapak Perry Warjiyo selaku Gubernur Bank Indonesia. Tentu saja gonjang-ganjing pengunduran diri Gubernur BI ini menimbulkan berbagai kecurigaan dan prasangka dari publik,” ujar Herwin
Ia menilia Stabilitas rupiah dan kepercayaan pasar menjadi dua hal penting yang perlu dijaga agar tekanan terhadap perekonomian nasional tidak semakin besar. Dengan adanya persepsi mengenai intervensi pemerintah maupun tekanan terhadap independensi Bank Indonesia dapat memberikan dampak negatif terhadap perekonomian Indonesia.
“Saya melihat bahwa kondisi yang terjadi saat ini jelas cukup merugikan bagi bangsa Indonesia, terutama di tengah upaya untuk menjaga kestabilan nilai rupiah sekaligus bagaimana upaya untuk mendongkrak nilainya di pasar keuangan dunia,” katanya.
Ia menambahkan, pelaku pasar internasional pada dasarnya tidak hanya melihat sosok individu yang memimpin Bank Indonesia. Mereka lebih mempertimbangkan seberapa kuat sistem moneter dibangun serta sejauh mana bank sentral mampu menjalankan kebijakan secara kredibel dan independen.
Menurut Herwin, apabila proses penentuan Gubernur BI definitif ke depan menimbulkan keraguan terhadap independensi bank sentral, kondisi tersebut dapat memengaruhi persepsi investor dan memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
“Pelaku pasar internasional tentu saja tidak tergantung kepada figur tertentu, tetapi lebih percaya kepada bagaimana sistem moneter itu dibangun oleh figur-figur yang memiliki kapasitas dan independensi,” ucapnya.
Herwin mengatakan, pelaku ekonomi saat ini masih menunggu perkembangan terkait komposisi pimpinan Bank Indonesia ke depan. Ketidakpastian mengenai sosok dan arah kepemimpinan BI dinilai menjadi salah satu faktor yang akan terus diperhatikan oleh pasar.
“Ketika pelaku pasar keuangan internasional sangat meragukan independensi dari tokoh-tokoh yang sudah beredar di berbagai media, maka tentu saja ini akan berdampak langsung terhadap bagaimana pelemahan rupiah ke depan,” tambah Herwin.
Karena itu, menurutnya, proses penentuan Gubernur Bank Indonesia harus mampu memberikan kepastian kepada pasar sekaligus menjaga kepercayaan terhadap independensi bank sentral. Stabilitas kelembagaan dinilai penting untuk memastikan kebijakan moneter tetap kredibel di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global.
“Sehingga kita dalam hal ini pelaku ekonomi masih lebih banyak bersikap wait and see terhadap bagaimana komposisi dari pimpinan Bank Indonesia ke depan,” pungkasnya. (RA)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....