Akademisi UNG: Dampak Gozilla El Nino Ancam Ketahanan Pangan di Gorontalo

  • 31 Mar 2026 08:16 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID, Gorontalo, Akademisi Fakultas Pertanian Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Mohamad Ikbal Bahua, mengingatkan potensi dampak serius fenomena El Nino terhadap sektor pertanian di Gorontalo, terutama dalam hal produksi, distribusi, hingga stabilitas harga pangan.

Menurutnya, fenomena yang kerap disebut sebagai “Godzilla El Nino” tersebut dapat mengubah kondisi suatu daerah dari yang semula cukup pangan menjadi rawan pangan akibat dampak yang ditimbulkan.

“Gejala El Nino ini sangat ekstrem dampaknya. Produksi pertanian bisa menurun, distribusi terganggu, dan harga pangan ikut naik,” ujar Ikbal.

Ia menjelaskan, kondisi tersebut juga berpengaruh terhadap aktivitas petani. Ketidakpastian hasil panen akibat cuaca ekstrem membuat sebagian petani enggan mengolah lahan, bahkan beralih ke sektor lain.

“Kalau petani merasa tidak ada hasil, mereka cenderung tidak turun ke lahan. Bahkan ada yang beralih profesi,” jelasnya.

Ikbal juga mengingatkan pengalaman pada periode 2015–2016, di mana sebagian masyarakat terpaksa mengonsumsi pangan alternatif seperti umbi-umbian lokal akibat keterbatasan bahan pangan utama.

Dampak El Nino, lanjutnya, tidak hanya dirasakan pada sektor ekonomi, tetapi juga berimbas pada kesehatan masyarakat. Perubahan pola konsumsi akibat keterbatasan pangan dapat menurunkan asupan gizi, terutama protein dan karbohidrat.

“Kalau asupan gizi menurun, tentu berdampak pada kesehatan masyarakat. Ini yang harus diantisipasi sejak awal,” ujarnya.

Selain itu, kondisi lingkungan juga berpotensi terganggu, seperti meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan akibat kekeringan berkepanjangan.

Untuk menghadapi kondisi tersebut, Ikbal menekankan pentingnya sejumlah langkah antisipatif. Salah satunya adalah penerapan prinsip hemat air sebagai langkah utama dalam menghadapi musim kering.

“Prinsip utama saat menghadapi El Nino adalah hemat air. Ini yang paling penting,” tegasnya.

Ia juga menyarankan petani untuk menanam komoditas yang tahan terhadap kekeringan serta melakukan diversifikasi pangan guna mengurangi ketergantungan pada satu jenis komoditas.

Selain itu, keberadaan lumbung pangan dinilai penting sebagai cadangan untuk menghadapi kondisi darurat. Pemerintah juga dapat mempertimbangkan pasokan pangan dari daerah lain, meski berpotensi berdampak pada kenaikan harga.

Ke depan, Ikbal berharap upaya mitigasi dapat difokuskan pada pengembangan komoditas yang mudah dibudidayakan oleh petani, seperti singkong dan cabai dalam skala kecil.

“Intinya, kita harus siap sejak awal. Kalau tidak, risiko rawan pangan bisa terjadi dan berdampak luas, termasuk pada peningkatan kemiskinan,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....