Tulisan Tangan Bisa Ungkap Penurunan Kognitif
- 28 Jun 2026 19:46 WIB
- Gorontalo
Poin Utama
- Kecepatan, goresan, jeda, dan ukuran huruf menjadi indikator penting dalam studi.
- Tulisan tangan dapat memberi petunjuk awal penurunan kognitif pada lansia.
- Tugas dikte menunjukkan perbedaan paling jelas pada peserta dengan gangguan kognitif.
RRI.CO.ID, Gorontalo - Tulisan tangan ternyata bisa menyimpan sinyal penting tentang kesehatan otak. Peneliti menemukan perubahan kecil pada tulisan dapat menunjukkan penurunan kognitif.
Menulis dengan tangan terlihat sederhana. Namun, aktivitas ini melibatkan gerakan, koordinasi, memori, bahasa, dan fungsi eksekutif otak.
Temuan itu muncul dalam studi yang terbit di Frontiers in Human Neuroscience pada 20 Mei 2026. Studi ini meneliti tulisan tangan lansia dengan dan tanpa gangguan kognitif.
Peneliti merekrut 58 orang lanjut usia di Portugal. Mereka terdiri atas 20 orang sehat kognitif dan 38 orang dengan gangguan kognitif.
| Baca juga: Bahaya Tidur Kurang Dari 6 Jam |
Peserta berusia antara 62 hingga 99 tahun. Seluruh peserta tinggal di fasilitas perawatan lansia saat penelitian dilakukan.
Peneliti menggunakan tablet digital dan pena khusus. Alat itu merekam kecepatan, jeda, tekanan, jumlah goresan, dan ukuran tulisan.
Peserta lebih dulu menjalani tugas kontrol pena. Mereka menggambar garis horizontal dan membuat titik dalam waktu 20 detik.
Hasil awal tidak menunjukkan perbedaan besar antara dua kelompok. Artinya, kontrol motorik dasar masih dapat bertahan meski kognisi menurun.
| Baca juga: Waspadai Tanda Awal Gangguan Ginjal |
Perbedaan mulai tampak saat peserta diminta menulis dari dikte. Tugas ini menuntut otak bekerja lebih berat secara bersamaan.
Ana Rita Matias, penulis senior studi, menjelaskan tantangan tersebut. Ia mengatakan dikte “membutuhkan otak untuk melakukan banyak hal sekaligus: mendengarkan, memproses bahasa, mengubah suara menjadi bentuk tertulis, dan mengoordinasikan gerakan.”
Kelompok dengan gangguan kognitif menulis lebih lama. Mereka juga memakai lebih banyak goresan pena saat menyelesaikan tugas dikte.
Peneliti juga melihat tanda lain pada tulisan. Peserta dengan gangguan kognitif cenderung memulai lebih lambat dan menulis huruf lebih tinggi.
Studi tersebut menyebut pola itu terkait perencanaan motorik dan kontrol eksekutif. Fungsi ini sering melemah pada gangguan kognitif ringan dan demensia awal.
Matias menegaskan bahwa tulisan bukan hanya aktivitas motorik. “Writing is not just a motor activity, it’s a window into the brain,” katanya.
Peneliti menilai analisis tulisan tangan dapat menjadi alat skrining yang murah dan non-invasif. Namun, studi lanjutan tetap diperlukan karena jumlah peserta masih terbatas.
Masyarakat tidak perlu mendiagnosis diri hanya dari tulisan tangan. Pemeriksaan dokter tetap penting saat muncul perubahan memori, perilaku, tidur, atau aktivitas harian.
Berita ini diolah dan disunting dengan melibatkan teknologi AI.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....