BI Rate Turun, Bagaimana Ekonomi Gorontalo
- 03 Sep 2025 15:03 WIB
- Gorontalo
KBRN, Gorontalo : Bank Indonesia Kantor Perwakilan Provinsi Gorontalo menggelar Focus Group Discussion (FGD) bersama akademisi dari berbagai perguruan tinggi dan sejumlah pemangku kepentingan daerah, Selasa (02/09/25), bertempat di Ruang Otanaha, BI Gorontalo. Diskusi tersebut menyoroti kebijakan pemangkasan BI Rate dari 5,25% menjadi 5%, yang diumumkan pada Agustus 2025.
Dalam forum tersebut, para akademisi menilai kebijakan moneter terbaru ini sebagai langkah berani dan strategis untuk menggeser fokus dari stabilitas semata menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan merata, khususnya di daerah seperti Gorontalo.
Peluang Bagi Sektor Riil dan UMKM
Ekonom Universitas Negeri Gorontalo, Dr. Herwin Mopangga, menyebut penurunan suku bunga acuan memberi ruang bagi ekspansi sektor riil melalui pembiayaan yang lebih murah. Hal ini menjadi momentum penting bagi Gorontalo yang tengah menikmati pertumbuhan ekonomi positif.
“Data BPS menunjukkan ekonomi Gorontalo tumbuh 6,07% pada triwulan I 2025 dan 5,14% di triwulan II. Momentum ini harus dijaga dengan mendorong kredit produktif, khususnya di sektor pertanian, kelapa, perikanan, serta industri kreatif seperti Karawo,” jelas Herwin.
Menurutnya, sektor-sektor tersebut tidak hanya menyerap tenaga kerja lokal, tetapi juga memiliki potensi besar dalam transformasi ekonomi daerah berbasis kearifan lokal dan sumber daya alam berkelanjutan. FGD juga menyoroti pentingnya stabilitas sosial dan politik sebagai fondasi bagi keberhasilan kebijakan moneter. Apalagi, dalam beberapa pekan terakhir, Gorontalo sempat mengalami gejolak sosial akibat aksi demonstrasi besar yang terjadi sejak akhir Agustus hingga awal September.
“Kebijakan pro-growth seperti penurunan BI Rate tidak akan efektif jika stabilitas terganggu. Kondisi sosial yang kondusif adalah prasyarat mutlak agar manfaat kebijakan dirasakan masyarakat bawah,” tambahnya
Selain stabilitas, forum juga membahas pentingnya strategi jangka panjang untuk mendorong transformasi ekonomi Gorontalo. Salah satunya melalui digitalisasi pembiayaan ekspor UMKM, yang memungkinkan produk lokal menembus pasar internasional. Selain itu, green investment berbasis energi terbarukan seperti surya, angin, dan mikrohidro disebut sebagai peluang strategis untuk mendukung produksi berkelanjutan dan menarik investasi global.
“Transformasi ekonomi daerah harus mulai mengarah ke sektor yang lebih ramah lingkungan dan digital. Dua hal ini menjadi standar global yang harus kita siapkan dari sekarang,” terang Herwin
Menurutnya, meski peluang terbuka lebar, tantangan di tingkat lokal tetap nyata. Daya beli rumah tangga di Gorontalo masih sangat sensitif terhadap fluktuasi harga pangan. Kenaikan harga beras, barito (bawang, rica, tomat), dan ikan dapat memangkas konsumsi masyarakat dan memperlemah permintaan domestik.
Selain itu, ketergantungan terhadap transfer dana pusat dan ekspor komoditas mentah masih menjadi kelemahan struktural yang membuat ekonomi Gorontalo rentan terhadap guncangan eksternal.
Penurunan BI Rate dinilai sebagai langkah awal. Efektivitas kebijakan ini sangat bergantung pada sinergi antara perbankan, pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat. Jika strategi transformasi dilaksanakan secara konsisten, Gorontalo memiliki peluang besar untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan tahan terhadap ketidakpastian global. (RA)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....