Ekonomi Gorontalo Tumbuh 7,68 Persen, BI Sebut Industri dan Tambang Jadi Motor Baru

  • 01 Agt 2026 18:44 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID, Gorontalo – Pertumbuhan ekonomi Provinsi Gorontalo pada triwulan I 2026 mencapai 7,68 persen secara tahunan (year on year/yoy), jauh melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di angka 5,61 persen. Capaian tersebut menjadi sinyal positif bahwa ekonomi Gorontalo terus menguat dan mendekati tingkat pertumbuhan yang pernah diraih saat masa pemulihan pandemi Covid-19.

Hal itu disampaikan Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Gorontalo, Bambang Satya Permana, pada kegiatan Press Conference ALCo Regional Makro Ekonomi, Keuangan dan Moneter Lo Hulonthalo di Aula Dulohupa Kanwil DJPb Provinsi Gorontalo, Jumat (31/7/2026).

Bambang mengatakan, meskipun struktur perekonomian Gorontalo masih didominasi oleh lapangan usaha pertanian, perdagangan, dan konstruksi, terdapat dua sektor yang kini menjadi sumber pertumbuhan baru, yakni industri pengolahan dan pertambangan.

"Pertumbuhan ekonomi Gorontalo sangat baik, sangat tinggi dibandingkan nasional. Gorontalo tumbuh 7,68 persen secara year on year. Angka ini sudah mendekati pertumbuhan ekonomi Gorontalo pada masa pemulihan Covid-19 yang sempat mencapai 8 persen. Ke depan, sektor pertambangan dan industri pengolahan perlu terus dioptimalkan agar memberikan dampak pengganda yang lebih besar terhadap perekonomian daerah," ujar Bambang.

Ia menjelaskan, pada triwulan I 2026 sektor industri pengolahan tumbuh sebesar 29,34 persen, sedangkan sektor pertambangan mencatat pertumbuhan lebih tinggi, yakni 31,34 persen. Menurutnya, kedua sektor tersebut diproyeksikan akan memberikan kontribusi yang semakin besar terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Gorontalo pada masa mendatang.

Sementara itu, berdasarkan hasil pemantauan dan survei Bank Indonesia, lapangan usaha pertanian pada triwulan II 2026 diperkirakan masih tumbuh positif meski melambat dibandingkan triwulan sebelumnya. Perlambatan tersebut dipengaruhi berakhirnya masa panen raya yang mayoritas terjadi pada triwulan I, serta mulai munculnya dampak musim kemarau di sejumlah wilayah Gorontalo.

"Panen raya memang lebih banyak terjadi pada triwulan pertama. Di triwulan kedua masih ada panen padi pada April di Kabupaten Gorontalo, tetapi secara umum aktivitas panen mulai melambat. Selain itu, mulai terlihat gejala kekeringan, awalnya di Kabupaten Pohuwato dan kini sudah meluas ke beberapa kabupaten lainnya," kata Bambang.

Di sektor perdagangan, BI Gorontalo mencatat adanya penurunan aktivitas perdagangan jagung pada triwulan II 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Temuan tersebut diperoleh melalui Focus Group Discussion (FGD) bersama asosiasi pedagang jagung. Meski demikian, BI tetap optimistis lapangan usaha perdagangan akan tetap tumbuh positif hingga akhir triwulan kedua.

"Perdagangan jagung memang mengalami penurunan cukup tajam secara tahunan dibandingkan triwulan II 2025. Namun kami tetap optimistis lapangan usaha perdagangan akan mencatat pertumbuhan yang positif dan tetap berada pada level yang cukup tinggi," pungkas Bambang. (RA)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....