Mengenal Belacik, Permainan Tradisional Anak Bengkulu

  • 05 Okt 2026 08:16 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID ,Gorontalo - Beragam permainan tradisional menjadi bagian dari kehidupan anak-anak di masa lalu. Salah satunya adalah belacik, permainan khas Bengkulu yang menggunakan kelereng sebagai alat utama dan dapat dimainkan secara berkelompok.

Belacik dikenal sebagai permainan yang berkembang di tengah masyarakat Melayu Bengkulu dan diwariskan secara turun-temurun. Dilansir dari GNFI, berdasarkan buku Inventarisasi Perlindungan Karya Budaya: Permainan Tradisional Anak Bengkulu karya Seno Undri Rahmadona, istilah belacik merujuk pada kelereng yang digunakan sebagai bagian utama dalam permainan.

Permainan ini umumnya dimainkan anak-anak pada waktu senggang, terutama pada sore hari setelah pulang sekolah. Jumlah pemainnya tidak harus banyak. Sedikitnya dua orang sudah dapat memainkan belacik, meski permainan biasanya berlangsung lebih meriah jika diikuti sekitar enam hingga sepuluh orang.

Untuk bermain, setiap peserta perlu menyiapkan kelereng sebagai buah permainan. Selain itu, pemain membutuhkan gundu yang dapat dibuat dari batu pipih atau pecahan genteng. Peralatan yang sederhana tersebut membuat belacik mudah dimainkan tanpa membutuhkan perlengkapan khusus.

Area permainan biasanya berupa halaman rumah atau tempat terbuka dengan permukaan tanah. Pada salah satu sisi dibuat gambar segitiga sama kaki berukuran cukup besar. Bagian tengah segitiga kemudian diberi garis memanjang dari puncak menuju alas.

Di sisi lainnya dibuat sebuah garis lurus yang berfungsi sebagai batas tempat pemain melemparkan gundu.

Sebelum permainan dimulai, setiap peserta menentukan jumlah kelereng yang akan dipertaruhkan. Misalnya, enam pemain masing-masing memasukkan dua kelereng, sehingga terdapat 12 kelereng yang menjadi sasaran permainan.

Kelereng tersebut kemudian disusun berurutan di sepanjang garis tengah dalam area segitiga. Setelah semua persiapan selesai, pemain menentukan urutan giliran melalui undian.

Pemain yang mendapat giliran berdiri di belakang garis batas dan melemparkan gundunya ke arah kelereng yang berada di dalam segitiga. Tantangannya, gundu harus mengenai sasaran dan membuat kelereng target keluar dari area segitiga.

Jika lemparan tidak berhasil mengeluarkan kelereng dari segitiga, pemain dinyatakan gagal dan giliran berpindah kepada peserta berikutnya. Namun, jika berhasil, kelereng yang terkena menjadi milik pemain tersebut.

Menariknya, jumlah kelereng yang diperoleh bergantung pada posisi sasaran yang berhasil dikenai. Semakin awal urutan kelereng yang terkena, semakin banyak pula kelereng yang dapat dibawa pulang pemain.

Sebagai contoh, jika terdapat 12 kelereng dan seorang pemain berhasil mengenai kelereng pada urutan keenam, maka kelereng dari urutan keenam hingga kedua belas menjadi miliknya. Sementara itu, kelereng pada urutan pertama hingga kelima tetap berada di arena permainan.

Permainan dilanjutkan secara bergantian hingga seluruh kelereng di dalam arena berhasil dikuasai para pemain. Peserta yang mengumpulkan kelereng paling banyak kemudian dinyatakan sebagai pemenang.

Selain menjadi hiburan, belacik juga mengandung unsur keterampilan. Pemain dituntut mampu memperkirakan arah lemparan, mengatur kekuatan, sekaligus menentukan sasaran yang tepat. Permainan sederhana ini menjadi salah satu contoh kekayaan permainan tradisional Bengkulu yang menarik untuk terus dikenalkan kepada generasi muda.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....