Permainan Tradisional Terbukti Bentuk Karakter dan Jaga Budaya di Era Digital
- 31 Jul 2026 21:33 WIB
- Gorontalo
RRI.CO.ID ,Gorontalo - Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, permainan tradisional mulai semakin jarang dimainkan oleh anak-anak. Kehadiran gawai dan permainan berbasis layar membuat banyak anak lebih akrab dengan permainan digital dibandingkan permainan warisan budaya seperti congklak, engklek, gobak sodor, hingga lompat tali. Padahal, berbagai penelitian terbaru menunjukkan bahwa permainan tradisional memiliki manfaat yang jauh lebih luas, mulai dari perkembangan fisik, sosial, hingga pelestarian budaya.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Ilmiah Potensia (2025) mengungkap bahwa perkembangan teknologi membuat siswa semakin kurang mengenal permainan tradisional yang sarat nilai budaya. Anak-anak kini lebih terbiasa memainkan permainan digital, sehingga peluang mereka untuk mengenal budaya daerah melalui aktivitas bermain menjadi semakin berkurang. Kondisi ini dikhawatirkan dapat mengurangi rasa memiliki terhadap budaya lokal dan berpotensi mengikis warisan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Temuan serupa juga dipublikasikan dalam Jurnal BLAZE (2025) yang menyoroti manfaat permainan tradisional bagi anak usia dini. Permainan seperti ketapel, lompat tali, dan gobak sodor terbukti mampu meningkatkan koordinasi tubuh, keseimbangan, serta keterampilan sosial anak melalui interaksi langsung dan kerja sama. Selain memperkuat kemampuan motorik, permainan tersebut juga membantu membentuk karakter seperti sportivitas, disiplin, kejujuran, dan kemampuan bekerja sama.
Keunggulan permainan tradisional juga diperkuat oleh penelitian observasional terhadap anak prasekolah yang membandingkan aktivitas bermain digital dan tradisional. Hasilnya menunjukkan bahwa permainan tradisional secara konsisten lebih efektif dalam mendorong kreativitas, kolaborasi, serta perkembangan keterampilan motorik dibandingkan permainan digital pada kelompok usia yang sama.
Sementara itu, Jurnal Ilmiah Cahaya PAUD (2026) menyoroti dampak perubahan pola bermain anak di era digital terhadap perkembangan sosial dan emosional. Penelitian tersebut menyebutkan bahwa meningkatnya aktivitas berbasis layar telah mengurangi interaksi langsung antaranak sehingga berpotensi menurunkan kemampuan berkomunikasi, empati, dan pengendalian emosi. Sebaliknya, permainan tradisional terbukti mampu meningkatkan kesejahteraan sosial-emosional anak secara signifikan karena mendorong interaksi, kerja sama, dan komunikasi secara langsung.
Lebih dari sekadar sarana bermain, permainan tradisional juga menjadi media efektif dalam mengembangkan literasi budaya sejak usia dini. Melalui permainan seperti congklak, engklek, dan gobak sodor, anak tidak hanya melatih kemampuan fisik dan sosial, tetapi juga mengenal nilai-nilai budaya, kebersamaan, serta identitas bangsa yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Di tengah meningkatnya penggunaan gawai pada anak, para peneliti menilai permainan tradisional layak kembali dihadirkan dalam lingkungan keluarga, sekolah, maupun ruang publik. Selain mendukung tumbuh kembang anak secara menyeluruh, permainan tradisional menjadi cara sederhana namun efektif untuk menjaga warisan budaya Indonesia agar tetap hidup di tengah arus digitalisasi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....