Mengenal Jage Telok Buaya Warisan Permainan Tradisional Kalimantan Barat

  • 12 Jul 2026 22:53 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID ,Gorontalo - Indonesia memiliki beragam permainan tradisional yang lahir dari kehidupan masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Salah satunya adalah Jage Telok Buaya, permainan khas masyarakat pesisir di Kalimantan Barat yang terinspirasi dari perilaku induk buaya saat menjaga telur-telurnya.

Permainan ini dahulu menjadi hiburan favorit anak-anak ketika mengisi waktu luang. Selain menyenangkan, Jage Telok Buaya juga mengandalkan aktivitas fisik, sehingga mampu melatih kelincahan, kerja sama, serta strategi para pemain. Permainan ini banyak dikenal dan dimainkan oleh masyarakat pesisir, khususnya di wilayah Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.

Meski namanya mengandung kata "buaya", permainan ini sama sekali tidak melibatkan hewan asli. Nama tersebut hanya menggambarkan peran salah satu pemain yang bertugas menjadi "induk buaya" dan menjaga telur-telurnya dari pemain lain yang berusaha mengambilnya.

Inspirasi permainan ini berasal dari kebiasaan buaya di alam liar. Saat musim bertelur, induk buaya dikenal sangat protektif terhadap sarangnya. Siapa pun yang mencoba mendekati atau mengambil telur berisiko mendapat serangan dari induknya. Gambaran perilaku inilah yang kemudian diadaptasi menjadi sebuah permainan tradisional yang menghibur sekaligus mengajarkan kewaspadaan.

Dalam permainan Jage Telok Buaya terdapat tiga perlengkapan utama, yaitu buah pinang, sebatang kayu, dan pelepah pisang atau tali rafia. Buah pinang digunakan sebagai simbol telur buaya yang harus dijaga. Kayu ditancapkan ke tanah sebagai lambang sarang buaya, sedangkan tali digunakan untuk mengikat pemain yang berperan sebagai induk buaya dengan kayu tersebut agar ruang geraknya terbatas.

Sebelum permainan dimulai, seluruh pemain terlebih dahulu menentukan siapa yang akan menjadi induk buaya melalui undian. Setelah itu, buah pinang disusun di sekitar kayu yang telah ditancapkan sebagai sarang. Pemain yang menjadi induk buaya kemudian diikat menggunakan tali pada kayu sehingga hanya bisa bergerak sejauh panjang tali yang digunakan.

Tugas induk buaya adalah melindungi telur-telurnya dari pemain lain yang berusaha mengambil buah pinang tanpa tertangkap. Sementara itu, pemain lain harus mencari celah untuk mengambil sebanyak mungkin "telur" dengan tetap menghindari sentuhan induk buaya.

Apabila seorang pemain berhasil disentuh atau ditangkap oleh induk buaya, maka pada putaran berikutnya ia akan berganti peran menjadi penjaga sarang. Namun jika induk buaya gagal mempertahankan telurnya, permainan akan diulang hingga tiga putaran.

Setelah tiga putaran, apabila induk buaya masih belum mampu menjaga seluruh telurnya, maka pemain yang memperoleh telur paling sedikit akan ditunjuk menjadi induk buaya berikutnya. Permainan terus berlangsung secara bergantian hingga seluruh pemain merasa lelah atau sepakat mengakhiri permainan.

Lebih dari sekadar hiburan, Jage Telok Buaya menjadi warisan budaya yang mencerminkan kedekatan masyarakat pesisir Kalimantan Barat dengan lingkungan alamnya. Melalui permainan ini, nilai-nilai kebersamaan, sportivitas, ketangkasan, dan strategi diwariskan kepada generasi muda dalam suasana yang penuh keceriaan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....