Minum Alkohol Berlebihan Picu Risiko Kanker Usus
- 07 Feb 2026 13:54 WIB
- Gorontalo
RRI.CO.ID, Gorontalo - Kebiasaan minum alkohol banyak bisa menambah risiko kanker usus besar. Studi baru menilai risiko meningkat bila pola itu berlangsung sejak dewasa hingga lanjut usia.
Temuan itu dipublikasikan 26 Januari dalam jurnal Cancer. Peneliti menilai pola minum seumur hidup, bukan hanya kebiasaan sesaat.
Tim melacak kebiasaan minum lebih dari 88 ribu orang Amerika. Mereka berasal dari uji skrining kanker NCI pada 1990-an hingga awal 2000-an.
Selama pemantauan, tercatat 1.679 kasus kanker usus besar dan rektum. Angka itu dipakai membandingkan kelompok peminum ringan dan peminum berat.
Peminum berat didefinisikan sebagai yang rutin 14 gelas atau lebih per minggu. Kelompok ini punya risiko lebih tinggi dibanding yang jarang atau tidak minum.
Studi melaporkan peningkatan risiko kanker usus besar sekitar seperempat pada peminum berat. Risiko kanker rektum bahkan hampir dua kali lipat.
Peneliti juga menyorot pola minum berat yang konsisten sepanjang masa dewasa. Kelompok ini menunjukkan risiko kanker usus besar jauh lebih tinggi.
BACA JUGA: Minuman Alkohol Bisa Picu Tekanan Darah Naik
Studi: Konsumsi Alkohol Berkaitan dengan Peningkatan Risiko Demensia
Kabar baiknya, berhenti minum tampak terkait peluang lebih rendah munculnya polip prakanker. Polip adalah benjolan kecil yang dapat menjadi cikal bakal kanker.
Peneliti senior Erikka Loftfield menyebut temuan mantan peminum memberi harapan. Ia berkata, “Risiko mereka mungkin kembali seperti peminum ringan.”
Tim menduga alkohol memicu zat berbahaya saat diproses di usus. Alkohol juga bisa mengganggu keseimbangan kuman baik di saluran cerna.
| Baca juga: Jangan Mudah Percaya Mitos Tentang Rambut |
Studi juga menemukan kaitan unik pada konsumsi sedang. Peneliti meminta riset lanjutan sebelum menarik kesimpulan untuk kebiasaan sehari-hari.
Untuk menurunkan risiko, batasi alkohol dan pilih hari tanpa minum. Jika Anda berisiko, bicarakan skrining usus dengan tenaga kesehatan.
Penelitian ini bersifat pengamatan, sehingga tidak membuktikan sebab akibat secara mutlak.
Berita ini diolah dan disunting dengan melibatkan teknologi AI.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....