Menemukan Suara dari Sekolah Rakyat

  • 03 Okt 2026 15:09 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

“SAYA harus berdiri di depan karena saya harus melawan ketakutan saya.”

Pagi itu, perjalanan menuju Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Sampang memakan waktu sekitar 40 menit dari hotel. Jalanan relatif lancar, matahari mulai meninggi, dan udara Madura terasa cukup terik meski hari masih pagi.

Dari kejauhan, bangunan Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Sampang sudah terlihat. Kompleksnya luas dengan bangunan-bangunan berwarna cerah yang tampak menonjol di tengah kawasan yang masih didominasi kebun. Tidak banyak bangunan lain di sekitarnya. Sejauh mata memandang, yang terlihat justru lahan dan kebun yang mengelilingi kompleks sekolah.

Kami bertiga datang untuk memberikan materi jurnalistik dan public speaking sekaligus melakukan talent mapping. Sekitar pukul delapan pagi, kami langsung diarahkan menuju sebuah aula yang cukup besar. Di sana, siswa-siswi SMA sudah duduk rapi menunggu kegiatan dimulai.

Perkenalan berlangsung singkat. Setelah melihat kondisi ruangan, kami kemudian memutuskan memindahkan kegiatan ke sebuah kelas di lantai dua. Ruangan itu terasa lebih sesuai untuk berinteraksi langsung dengan para siswa.

Mereka kemudian duduk lesehan. Suasana yang semula terasa seperti pertemuan resmi berubah menjadi lebih santai. Jarak antara kami dan siswa menjadi lebih dekat. Pagi itu, dari sebuah kelas di lantai dua, 99 siswa kelas 10 mulai diajak melihat sesuatu yang sebenarnya sudah sangat dekat dengan kehidupan mereka sendiri.

SRT 1 Sampang (Foto: Dokumentasi SRT 1 Sampang)

Sekolah Baru di Desa Sejati

SRT 1 Sampang memiliki 307 peserta didik, terdiri dari 40 siswa SD, 168 siswa SMP, dan 99 siswa SMA. Pada kegiatan talent mapping hari itu, sebanyak 99 siswa kelas 10 mengikuti seluruh rangkaian materi jurnalistik dan public speaking.

Sekolah ini masih sangat baru. SRT 1 Sampang mulai beroperasi pada 2026 sebagai bagian dari program Sekolah Rakyat pemerintah.

Pemerintah Kabupaten Sampang menyediakan lahan sekitar 8,4 hektare di Desa Sejati, Kecamatan Camplong, untuk mendukung pembangunan sekolah tersebut. Sebelumnya, lahan itu direncanakan untuk pembangunan stadion kabupaten.

Kini, di atas lahan tersebut, berdiri sebuah lingkungan pendidikan yang menggabungkan kegiatan belajar dengan kehidupan berasrama.

Sekolah Rakyat menggunakan sistem boarding school. Para siswa tidak hanya mengikuti pelajaran di dalam kelas, tetapi juga menjalani kehidupan bersama di lingkungan asrama. Mereka belajar mandiri, menjaga kebersihan diri dan lingkungan, membangun disiplin, mengembangkan keterampilan, serta mendapatkan pembinaan karakter dan keagamaan.

Pada tahun ajaran perdana 2026, SRT 1 Sampang menerima peserta didik dari empat kabupaten di Madura, yakni Sampang, Pamekasan, Sumenep, dan Bangkalan.

Bagi anak-anak itu, sekolah bukan hanya tempat belajar. Di tempat yang sama mereka tinggal, beraktivitas, bertemu teman, dan menjalani rutinitas sehari-hari.

Karena itu, ketika materi jurnalistik dimulai, lingkungan sekolah dan asrama mereka sendiri menjadi sesuatu yang menarik untuk dilihat.

Berita Ada di Sekitar Mereka

Jurnalistik menjadi materi pertama yang kami sampaikan.

Anak-anak diajak memahami pekerjaan seorang jurnalis dengan bahasa yang sederhana. Mereka belajar bahwa berita berawal dari peristiwa dan informasi yang ditemukan di sekitar kita.

Mereka kemudian dikenalkan dengan konsep dasar 5W1H. Apa yang terjadi, siapa yang terlibat, kapan dan di mana peristiwa berlangsung, mengapa peristiwa itu terjadi, serta bagaimana kejadiannya.

Hal-hal yang selama ini mereka lihat setiap hari ternyata bisa menjadi bahan cerita. Kegiatan sekolah, kehidupan asrama, kebersihan lingkungan, aktivitas teman, hingga berbagai kejadian yang berlangsung di sekitar mereka bisa menjadi bahan untuk sebuah berita. Sebab, yang dibutuhkan adalah kemauan untuk memperhatikan.

Para siswa juga diajak memahami bahwa seorang reporter tidak cukup hanya melihat sebuah kejadian. Ia harus mencari informasi, menggali keterangan, kemudian mengolah informasi tersebut sebelum menyampaikannya kepada publik.

Di sinilah mereka mulai mencoba menjadi reporter cilik. Beberapa siswa maju dan mencoba menyampaikan informasi. Ada yang terlihat cukup lancar. Ada pula yang masih mencari-cari kata sebelum menyelesaikan kalimatnya.

Tidak semua langsung percaya diri, tetapi justru di situlah prosesnya. Mereka mulai belajar bahwa menjadi reporter bukan hanya tentang berbicara di depan mikrofon. Ada pekerjaan mencari informasi sebelum suara mereka sampai kepada pendengar atau penonton.

Kegiatan di SRT 1 Sampang (Foto: RRI/Rudi Zein)

Ketika Mereka Menjadi Reporter Cilik

Suasana kelas semakin hidup ketika materi masuk ke praktik. Anak-anak diminta mencoba menyampaikan informasi layaknya seorang reporter. Cerita yang diangkat pun tidak perlu jauh-jauh. Sekolah dan asrama mereka sendiri sudah menyediakan banyak bahan.

Ada cerita tentang kegiatan siswa, kebiasaan sehari-hari, aktivitas di lingkungan sekolah, hingga berbagai hal yang mereka alami selama tinggal bersama di asrama. Mereka belajar memilih informasi mana yang penting, kemudian menyampaikannya dengan bahasa yang mudah dipahami.

Bagi sebagian siswa, pengalaman itu mungkin menjadi kali pertama mereka melihat lingkungan sekolah dari sudut pandang seorang reporter. Tempat yang setiap hari mereka datangi ternyata menyimpan banyak cerita.

Teman yang setiap hari mereka temui bisa menjadi narasumber. Kegiatan yang mereka jalani bisa menjadi bahan berita. Peristiwa sederhana yang sebelumnya dianggap biasa ternyata bisa diceritakan kembali kepada orang lain.

Dari sana, jurnalistik menjadi lebih dekat dengan kehidupan mereka. Tidak berhenti pada teori 5W1H.

Mereka mulai belajar mengamati. Mereka mulai belajar bertanya. Dan, mereka mulai belajar menyampaikan.

Dari Mencari Cerita Menjadi Berani Bicara

Menemukan cerita saja ternyata tidak cukup. Cerita harus bisa disampaikan. Karena itu, materi kemudian berlanjut pada public speaking.

Para siswa diajak belajar berani berbicara, menyusun apa yang ingin disampaikan, menggunakan suara dengan jelas, mengatur intonasi, serta membuat penyampaian lebih menarik. Namun bagi anak-anak yang belum terbiasa berbicara di depan banyak orang, ada satu persoalan yang lebih dulu harus dihadapi.

Rasa gugup.

Berdiri di depan teman sendiri ternyata tidak selalu mudah. Ada yang malu. Ada yang takut salah. Ada yang khawatir ditertawakan. Ada pula yang merasa lebih nyaman tetap duduk di belakang.

Padahal kemampuan berbicara akan menjadi bekal yang mereka perlukan dalam banyak situasi. Kelak mereka mungkin harus melakukan presentasi di sekolah atau perguruan tinggi, mengikuti wawancara kerja, berbicara dalam organisasi, menyampaikan gagasan, menjelaskan pekerjaan, atau berhadapan langsung dengan masyarakat.

Profesi mereka nanti pun bisa sangat beragam. Tidak semua harus menjadi penyiar, reporter, atau pembicara. Tetapi hampir semua bidang membutuhkan kemampuan menyampaikan pikiran dengan baik.

Karena itu, latihan public speaking pagi itu bukan semata-mata tentang bagaimana tampil bagus di depan kelas. Anak-anak sedang diberi kesempatan untuk membangun rasa percaya terhadap dirinya sendiri. Dan, di antara mereka ada Vinalia Agustin Rahmadani.

Vinalia Melawan Rasa Gugup

Vinalia, siswi kelas 10 SRT 1 Sampang, awalnya merasa sangat gugup ketika diminta maju ke depan. Ia bahkan merasakan tubuhnya gemetar. “Saya sebelum maju ke depan tuh rasanya sangat gugup, terus kayak tremor banget,” kata Vinalia.

Namun ia tetap maju. Ada alasan sederhana di balik keputusannya. Ia ingin melatih kepercayaan diri. Bagi Vinalia, berdiri di depan teman-temannya menjadi kesempatan untuk belajar mengatasi rasa malu. Ia ingin bisa berbicara di depan banyak orang tanpa terus merasa minder.

“Saya mau belajar untuk maju ke depan biar makin percaya diri, biar nggak minder sama yang lain,” ujarnya. Setelah selesai, perasaannya berubah.

Vinalia, siswi kelas 10 SRT 1 Sampang (Foto: RRI/Rudi Zein)

Ia merasa mendapatkan pengalaman baru dari materi public speaking dan jurnalistik yang diberikan pagi itu. Rasa takut yang sebelumnya muncul sebelum maju ternyata bisa dilewati. Mungkin belum hilang seluruhnya, tetapi Vinalia sudah tahu satu hal. Ia bisa maju.

Bagi orang yang terbiasa berbicara di depan umum, pengalaman itu mungkin terlihat sederhana. Namun bagi seorang anak yang sebelumnya merasa tubuhnya gemetar hanya karena harus berdiri di depan kelas, keberanian tersebut punya arti tersendiri.

Yusuf dan Cara Melawan Ketakutan

Cerita berbeda datang dari Yusuf Arshadi. Siswa kelas 10 itu maju ke depan dan berbicara menggunakan bahasa Inggris dengan fasih. Kemampuannya menarik perhatian karena ia mampu menyampaikan pikirannya dengan cukup lancar di hadapan teman-temannya.

Namun ketika ditanya mengapa ia memilih berdiri di depan, jawabannya justru bukan tentang kemampuan bahasa. Ia berbicara tentang ketakutan.

Bagi Yusuf, berdiri di depan adalah cara untuk melawannya. “Saya harus berdiri di depan karena saya harus melawan ketakutan saya,” ujarnya.

Menurut Yusuf, jika terus berada di belakang karena takut, seseorang tidak akan pernah mendapatkan kesempatan untuk berdiri di depan. Karena itu, ia memilih mencoba.

Ada keberanian yang berbeda dalam cara Yusuf melihat persoalan tersebut. Ia tidak mengatakan bahwa dirinya sama sekali tidak takut. Ia justru menjadikan rasa takut itu sebagai alasan untuk maju.

Di akhir penyampaiannya, Yusuf juga bercerita tentang dirinya yang merasa tidak berasal dari tempat tersebut. Ia menyebut kemungkinan suatu hari akan kembali ke negara atau daerah asalnya.

Cerita itu masih menyisakan pertanyaan tentang latar belakang Yusuf. Namun pagi itu, yang terlihat jelas adalah seorang anak yang menggunakan kesempatan di depan kelas untuk menunjukkan kemampuan dirinya.

Dan mungkin, itulah inti sederhana dari public speaking. Bukan sekadar membuat seseorang pandai berbicara, tetapi memberinya keberanian untuk menyampaikan apa yang ada di dalam dirinya.

Talent Mapping untuk Mengenali Potensi

Jurnalistik dan public speaking menjadi bagian dari kegiatan talent mapping yang diikuti 99 siswa kelas 10 SRT 1 Sampang. Pemetaan bakat dilakukan untuk membantu mengenali minat, kemampuan, potensi, dan kekuatan seseorang. Bagi para siswa, proses itu hadir bersama berbagai kegiatan yang membuat mereka harus mencoba.

Ada yang menunjukkan kemampuan berbicara. Ada yang mampu menyampaikan informasi.

Ada yang masih malu. Ada pula yang mulai menemukan keberanian setelah beberapa kali mencoba.

Kemampuan setiap anak memang berbeda. Tidak semua harus memiliki bakat yang sama. Tidak semua pula harus mengambil jalan yang sama ketika mereka dewasa nanti. Justru karena itulah mereka perlu diberi ruang untuk mencoba berbagai hal.

Di dalam kelas itu, talent mapping tidak hanya terasa sebagai proses untuk melihat kemampuan. Ia menjadi kesempatan bagi anak-anak untuk mengenali diri sendiri.

Mungkin ada kemampuan yang selama ini belum mereka sadari. Mungkin ada keberanian yang selama ini tertutup rasa malu. Dan, mungkin ada minat yang baru terlihat ketika mereka diberi kesempatan untuk tampil.

Harapan yang Tidak Berhenti di Kelas

Auliya Nurul Achyani, guru SRT 1 Sampang, melihat kegiatan tersebut sebagai kesempatan bagi anak-anak untuk mengembangkan potensi diri. Menurutnya, kemampuan public speaking penting agar siswa lebih percaya diri ketika menyampaikan pendapat.

“Anak-anak bisa mengembangkan potensi dirinya, melatih percaya dirinya, untuk melakukan public speaking,” ujar Auliya. Harapannya, pengalaman yang diperoleh dalam kegiatan tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Anak-anak diharapkan semakin berani mengutarakan pendapat, berkomunikasi dengan orang lain, dan menggunakan kemampuan yang mereka miliki di berbagai kesempatan. Harapan itu menjadi penting karena kehidupan para siswa di SRT 1 Sampang tidak hanya berlangsung di ruang kelas.

Mereka akan tumbuh bersama lingkungan asrama, berinteraksi dengan teman dari daerah berbeda, menjalani berbagai kegiatan, dan pada waktunya meninggalkan sekolah untuk memasuki kehidupan yang lebih luas.

Apa yang mereka pelajari hari itu mungkin hanya berlangsung beberapa jam, tetapi kemampuan yang mereka latih bisa mereka bawa jauh lebih lama.

Pagi yang Berakhir, Pelajaran yang Berlanjut

Jarum jam mendekati pukul 11.30 ketika seluruh rangkaian kegiatan berakhir. Hampir tiga setengah jam berlalu sejak kami memulai kegiatan di aula sekitar pukul delapan pagi. Dari aula, pindah ke kelas lantai dua, duduk lesehan, mendengarkan materi, mencoba menjadi reporter, lalu berlatih berbicara di depan teman-teman.

Pagi itu tidak ada yang tiba-tiba menjadi reporter profesional. Tidak pula ada yang langsung berubah menjadi pembicara yang mahir, tetapi ada sesuatu yang mulai tumbuh. Keberanian untuk mencoba.

Vinalia datang dengan rasa gugup dan tubuh yang gemetar, lalu memilih maju. Yusuf berdiri di depan karena ia ingin melawan rasa takutnya. Teman-teman mereka pun mendapat pengalaman yang sama, dengan cara masing-masing. Bagi kami, pengalaman itu memperlihatkan bahwa jurnalistik dan public speaking punya hubungan yang dekat.

Seorang reporter harus berani bertanya untuk mendapatkan cerita. Ia juga harus mampu mengolah informasi sebelum menyampaikannya kepada publik. Begitu pula seorang pembicara. Ia harus berani menyampaikan apa yang ada dalam pikirannya dan membuat orang lain memahami pesan yang dibawanya.

Sebelum semua itu dilakukan, seseorang harus lebih dulu percaya bahwa suaranya layak didengar.

SRT 1 Sampang baru memulai perjalanan pada 2026. Bangunannya masih terasa baru, kehidupan sekolahnya pun masih mencari bentuk.

Namun di dalam kelas lantai dua itu, ada anak-anak yang sedang memulai perjalanan mereka sendiri. Mereka belajar mencari berita dari lingkungan sekitar. Mereka belajar mengolah informasi.

Mereka belajar menjadi reporter cilik. Mereka belajar berbicara. Dan, perlahan mereka belajar mengenali suara mereka sendiri.

Pukul 11.30, kegiatan selesai. Para siswa kembali pada rutinitas mereka, tetapi bagi sebagian dari mereka, pagi itu mungkin belum benar-benar berakhir.

Sebab ketika suatu hari nanti mereka harus berdiri di depan kelas, di ruang kerja, di sebuah forum, dalam wawancara, atau di tengah masyarakat, mereka akan tahu bahwa rasa gugup bukan alasan untuk mundur. Mereka pernah merasakannya. Mereka pernah menghadapinya. Dan, mereka pernah memilih untuk maju.

Di Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Sampang, pagi itu mereka tidak hanya belajar tentang berita dan cara berbicara. Mereka sedang belajar menemukan suara dari dalam diri mereka sendiri.

Penulis: Rudi Zein (Penyiar RRI Pro 3)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....