Dari Wayang Buto, Theo Temukan Jalan Menjaga Tradisi
- 29 Agt 2026 14:00 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Theo Adya Pranaja, bocah berusia 12 tahun dari Dusun Ngloro, Gunungkidul, adalah pelajar SMP yang berdedikasi mempelajari seni pedalangan wayang.
- Perjalanan Theo mengenal dunia wayang dimulai dari sebuah wayang kecil yang dibawanya pulang dari Gembira Loka.
- Di tengah kesibukan sekolah, Theo memilih menghabiskan waktu untuk mempelajari kesenian tradisional wayang yang masih jarang diminati anak seusianya.
SEBUAH wayang kecil berbentuk buto mungkin terlihat biasa. Namun, bagi Theo Adya Pranaja, benda sederhana itu justru menjadi pintu yang membawanya memasuki dunia pedalangan.
Wayang itu dibawa pulang tantenya dari Gembira Loka, ketika Theo masih duduk di kelas 3 SD pada akhir 2022. Namun tak disangka, oleh-oleh sederhana tersebut kelak menumbuhkan rasa ingin tahu yang mengubah keseharian seorang bocah di Dusun Ngloro, Kalurahan Ngloro, Kecamatan Saptosari, Gunungkidul.
Theo kini berusia 12 tahun dan duduk di kelas 1 SMP. Di tengah kesibukan sebagai pelajar, ia memilih mengisi waktu dengan sesuatu yang mungkin terasa asing bagi sebagian besar anak seusianya.

Wayang
Bukan sekadar dimainkan sebagai mainan, wayang bagi Theo perlahan berubah menjadi dunia yang ingin ia kenali lebih jauh. Rasa penasaran terhadap sosok buto yang pertama kali dilihatnya membuat Theo mulai mencari jawaban sendiri.
“Saya penasaran, pas itu kan saya masih bocil, rasa ingin tahu yang besar. Saya cari-cari terus, search, search, lama-lama jadi suka,” kata Theo kepada RRI, Senin, 24 Agustus 2026.
Dari layar internet dan YouTube, Theo mulai mengenal tokoh, cerita, hingga berbagai pertunjukan wayang. Rasa ingin tahu yang semula hanya membuatnya mencari informasi, perlahan berubah menjadi keinginan untuk memiliki dan memainkan wayang.
Sang ayah, Mulyono, masih mengingat perubahan itu. Tanpa banyak disadari keluarga, kegemaran Theo tumbuh semakin kuat dari hari ke hari.
“Tahu-tahu minta dibeliin wayang, beliin wayang bahan kardus itu, Pandawa Lima. Terus tahu-tahu minta dibikinin kelir, pokoknya perlengkapan pewayangan,” ujar Mulyono.
Di rumah, dunia kecil itu kemudian tumbuh. Kardus, kelir, wayang, dan cerita-cerita pewayangan menjadi bagian dari masa kecil Theo.
Namun, kegemaran itu tidak selalu mudah ditemukan di lingkungan terdekatnya. Di sekolah, hampir tak ada teman sekelas yang memiliki kesukaan yang sama.
“Kalau sekelas itu nggak ada sama sekali, desa nggak pernah ada. Tapi kalau di luar kecamatan atau di luar desa ada banyak,” ujar Theo.
Barulah ketika masuk sanggar pedalangan, Theo menemukan ruang yang berbeda. Di sana, ia bertemu anak-anak lain yang juga memilih wayang sebagai bagian dari dunianya.
“Setelah masuk sanggar, setelah mengikuti les atau sanggar wayang. Kemudian itu saya sudah ketemu banyak dalang cilik yang sefrekuensi,” ucapnya.
Di antara nama-nama yang menjadi inspirasinya, terdapat almarhum Ki Seno Nugroho dan Yusof Ansor, dalang asal Kapanewon Nglipar. Sementara di antara begitu banyak tokoh pewayangan, Bima atau Werkudara menjadi sosok yang paling menarik perhatiannya.
Kecintaan itu bahkan pernah dibawa Theo ke sekolah dengan tampil memainkan wayang di hadapan teman-temannya. Ia memperlihatkan bahwa kesenian yang dianggap kuno itu masih bisa menghadirkan rasa ingin tahu di tengah generasi seusianya.

Perjalanan Theo menuju panggung ternyata juga tidak dirancang sejak awal.
Pada 2024, ia mengikuti sebuah festival setelah sebelumnya diajak mengenal teater anak. Dari kegiatan itu, Theo berkenalan dengan sejumlah anak yang sudah lebih dahulu menekuni pedalangan.
“Dari festival itu kan dikumpulin anak-anak sekecamatan. Salah satunya ada dalang cilik yang sudah juara satu Gunungkidul," kata Mulyono.
"Nah, kenal itu sama bapaknya. Didaftarin festival wayang golek, Theo,” ujarnya.
Theo kemudian memberanikan diri mengikuti festival wayang golek. Saat itu, ia bahkan belum rutin belajar di sanggar pedalangan.
Hasilnya mengejutkan. Theo berhasil meraih juara lima tingkat Kabupaten Gunungkidul.
Prestasi itu menjadi semacam pintu berikutnya. Banyak pihak kemudian mendorongnya untuk belajar lebih serius melalui sanggar.
Pada 2025, Theo kembali mengikuti festival. Kali ini ia datang bukan lagi sebagai anak yang sekadar penasaran, tetapi sebagai dalang cilik yang telah menjalani latihan.
Persaingan pun semakin berat. Ia harus berhadapan dengan peserta yang lebih senior, sekaligus menghadapi tantangan menghafalkan lakon dan menyesuaikan materi pertunjukan dengan perlombaan.

Di balik panggung, ada rutinitas yang tak kalah penting. Theo tetap menjalani sekolah seperti anak-anak lainnya, tetapi hampir setiap hari menyempatkan diri berlatih di rumah.
“Kalau di rumah hampir setiap hari latihan sendiri. Cuma kalau untuk di sanggar, karawitannya hari Minggu,” kata Mulyono.
Latihan pedalangan dilakukan setiap Sabtu. Ketika ada pertunjukan, intensitas latihan meningkat.
Lakon harus dihafalkan, naskah dipersiapkan, bahkan gerakan dan dialog dimatangkan. Ketika diperlukan, Mulyono memanggil pelatih untuk membantu Theo mempersiapkan penampilan.
“Kalau mau pentas, kan harus matangkan lakonnya, itu baru saya panggilkan pelatih. Sekalian bikin naskah, terus belajar di rumah, menghafalkan,” ujarnya.
Perjalanan itu juga mendapat ruang dari Pemerintah Kabupaten Gunungkidul. Setiap tahun, workshop dan pelatihan dalang digelar sebagai bagian dari pembinaan anak-anak yang menekuni pedalangan.
Dalam festival tingkat kabupaten, Theo harus lebih dulu membawa nama kapanewon. Jika berhasil menjadi juara pertama, kesempatan mewakili Gunungkidul ke tingkat berikutnya pun terbuka.
Bagi seorang anak berusia 12 tahun, dunia pedalangan tentu bukan perkara sederhana. Ada cerita yang harus dipahami, pakem yang harus dipelajari, dialog yang harus diingat, hingga keberanian berdiri di balik kelir dan berbicara kepada penonton.
Namun, Theo menjalaninya tanpa harus kehilangan dunia masa kanak-kanaknya. Ia masih memiliki cita-cita lain.
Kelak, ia justru membayangkan dirinya bekerja sebagai pekerja kantoran. “Saya ingin jadikan pekerjaan cadangan atau lebih saja, tapi kalau jadi pekerjaan utama, paling ingin jadi pekerja kantoran,” kata Theo.
Pedalangan, bagi Theo, mungkin bukan jalan utama untuk mencari nafkah. Tetapi ada sesuatu yang jauh lebih penting yang ingin ia bawa dari balik kelir.

Ingin wayang tetap dikenal anak-anak seusianya.
Theo menyadari, memperkenalkan wayang kepada generasi muda bukan pekerjaan mudah. Untuk menikmati pertunjukan wayang, seseorang perlu mengenal cerita, memahami tokoh, mengerti pakem, sekaligus menikmati proses panjang di balik sebuah pertunjukan.
Tetapi justru di situlah keinginan Theo tumbuh. Ia tidak ingin kesenian yang telah ia kenal sejak kecil berhenti menjadi kegemaran pribadi.
Sang ayah pun tidak pernah memaksanya menjadi dalang profesional. Mulyono hanya ingin anaknya terus berkembang, selama kecintaan itu dijalani dengan sungguh-sungguh.
Jika suatu hari Theo benar-benar menjadi dalang, Mulyono berharap perjalanan anaknya tidak berhenti ketika pertunjukan selesai. “Kalau seandainya Theo nanti bisa terus ada di jalur pedalangan dan bisa jadi dalang beneran," ucap Mulyono.
"Jadi bukan cuma jadi dalang. Tapi dia juga bisa sebagai pelopor, pelatih,” katanya, seraya berharap.
Baginya, seorang dalang memiliki kesempatan lebih besar untuk menularkan kecintaan terhadap budaya. Bukan hanya memainkan wayang di atas panggung, tetapi juga mengajak anak-anak lain mengenal tradisi yang sama.
“Jangan cuma jadi dalang doang. Tapi bisa menularkan, jadi contoh Yusof Ansor,” katanya.
Kini, perjalanan Theo masih panjang.
Semuanya bermula dari sebuah wayang kecil berbentuk buto yang dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Dari benda sederhana itu, tumbuh rasa penasaran yang kemudian berubah menjadi latihan, panggung, prestasi, dan kecintaan terhadap sebuah tradisi.
Theo belum tahu apakah kelak akan menjadi dalang atau justru pekerja kantoran. Tetapi setiap kali tangannya menggerakkan wayang di balik kelir, ia sedang menjaga sebuah cerita agar tidak berhenti sampai di generasinya.
Barangkali, masa depan pedalangan memang tidak selalu dimulai dari panggung besar. Bisa jadi, ia bermula dari rasa penasaran seorang bocah terhadap sebuah wayang kecil.
Dan di Dusun Ngloro, Gunungkidul, rasa penasaran itu kini sedang tumbuh menjadi harapan. Melalui tangannya, tradisi pedalangan menemukan satu lagi generasi muda yang bersedia mengenal, memainkan, dan menjaganya tetap hidup.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....