Literasi SDN Semanan 03 Tumbuhkan Keberanian dan Potensi Siswa

  • 28 Agt 2026 23:05 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Setiap Rabu pagi, halaman sekolah tidak hanya menjadi tempat berkumpul siswa.
  • SDN Semanan 03 Jakarta Barat, semua itu sedang dibangun dari sesuatu yang sederhana: membiasakan anak membaca, lalu memberi mereka keberanian untuk menceritakan apa yang telah dibacanya.

RRI.CO.ID, Jakarta - Buku berada di tangan seorang siswa. Di atas kertas, beberapa kalimat tertulis sebagai ringkasan dari bacaan yang baru saja diselesaikannya.

Tak lama kemudian, ia berdiri di hadapan teman-temannya dan mulai bercerita. Suasana seperti itu menjadi pemandangan yang semakin akrab di SDN Semanan 03 Jakarta Barat.

Setiap Rabu pagi, halaman sekolah tidak hanya menjadi tempat berkumpul siswa. Ruang terbuka itu berubah menjadi panggung literasi.

Anak-anak membaca buku, menyampaikan kembali isi bacaan, membaca puisi, bernyanyi, hingga menunjukkan kemampuan yang mereka miliki. Bagi sebagian siswa, berdiri di depan teman-teman bukan hal mudah.

Ada rasa malu dan gugup yang harus dilawan. Namun, dari keberanian kecil itulah budaya literasi dibangun.

Kepala SDN Semanan 03 Jakarta Barat, Yoyon Pujo Utomo, mengatakan gerakan literasi di sekolah sebenarnya telah berlangsung cukup lama, berkolaborasi dengan SDN Semanan 01. Sebelumnya, kegiatan lebih banyak dilakukan di dalam kelas melalui aktivitas membaca, meringkas, dan menulis.

“Anak-anak membaca buku, kemudian meringkas dan meresensi buku bacaan di lapangan. Itu setiap hari Rabu pagi. Ada yang membaca puisi, menyampaikan ringkasan bukunya, bernyanyi dan sebagainya,” kata Yoyon kepada RRI.

Perubahan tersebut kemudian diarahkan menjadi sebuah kebiasaan. Sekolah membentuk tim penggerak literasi yang melibatkan para guru, termasuk guru-guru muda.

Tujuannya sederhana, tetapi tidak mudah, yakni membuat literasi menjadi kebiasaan. Kebiasaan tersebut diharapkan tumbuh dalam keseharian anak, bukan sekadar program sekolah.

Literasi untuk Menemukan Potensi Anak

Guru SDN Semanan 03 Jakarta Barat, Eka Nopita Sari, melihat literasi sebagai proses pembiasaan. Menurutnya, kegiatan membaca tidak hanya dilakukan pada Rabu pagi.

Pada hari-hari tertentu, siswa juga mendapatkan kegiatan literasi di kelas masing-masing. Sekolah bahkan secara rutin menghadirkan perpustakaan keliling pada minggu kedua.

“Kalau ada perpustakaan keliling, anak-anak antusias banget,” kata Eka.

Dalam kegiatan tersebut, siswa tidak berhenti setelah membaca buku. Mereka diberi kesempatan untuk menceritakan kembali apa yang dibacanya menggunakan bahasa sendiri.

Mereka bisa bercerita di depan kelas maupun di hadapan teman-temannya di lapangan. Bagi Eka, kebiasaan tersebut penting karena kemampuan memahami bacaan menjadi salah satu tantangan anak-anak saat ini.

“Kalau soalnya panjang, anak itu suka kebingungan. Tetapi itu bisa kita lakukan melalui pembiasaan. Jadi anak terbiasa lagi,” katanya.

Dari kebiasaan membaca dan berbicara, guru juga dapat melihat bakat serta minat siswa. Ada anak yang mulai terlihat memiliki kemampuan membaca puisi.

Ada yang percaya diri berbicara. Ada pula yang tertarik menulis atau tampil dalam kegiatan tertentu.

“Literasi itu luas. Dia jadi lebih bisa mengeksplorasi diri, bisa berbicara dan terlihat bakat serta minatnya, seperti minat pidato, puisi atau menulis,” kata Eka.

Pendampingan dilakukan bersama-sama. Para guru secara bergantian memberikan ruang kepada siswa untuk berkembang sesuai kemampuan masing-masing.

Dibangun Sejak Kelas Awal

Yoyon menjelaskan, penguatan literasi di SDN Semanan 03 dilakukan secara bertahap sesuai perkembangan siswa. Pada Fase A, yakni kelas 1 dan 2, anak mulai diperkenalkan dengan gambar dan tulisan.

Mereka berada pada tahap awal untuk mengenal bacaan. Memasuki Fase B, kelas 3 dan 4, siswa mulai diarahkan menemukan kreativitas, bakat, dan minat.

“Contohnya membaca puisi. Mereka harus tampil di depan kelas. Nantinya mereka mengikuti lomba dan event literasi,” kata Yoyon.

Upaya itu mulai membuahkan hasil. Siswa SDN Semanan 03 telah mengikuti kegiatan Hari Anak Jakarta Membaca atau Hanjaba dan berhasil melaju ke tingkat DKI Jakarta.

Sementara siswa kelas 5 dan 6 yang berada pada Fase C mulai diarahkan memahami bacaan secara lebih mendalam. Mereka tidak hanya membaca, tetapi juga belajar menemukan informasi dan menarik kesimpulan.

Kemudian, siswa menyampaikan kembali apa yang telah dipahami. Kemampuan tersebut menjadi bekal penting bagi siswa menghadapi berbagai tantangan akademik, termasuk Tes Kemampuan Akademik atau TKA.

“Prosesnya mulai dari Fase A, B dan C. Jadi tidak tiba-tiba ketika kelas 6 baru kita persiapkan,” kata Yoyon.

Ketika Anak Mulai Berani Bicara

Perubahan itu salah satunya dirasakan Talita Farda Annaila, siswi kelas 5 SDN Semanan 03 Jakarta Barat. Di luar jam sekolah, Talita mengikuti kegiatan mengaji dan les.

Ia juga aktif dalam ekstrakurikuler menari dan pramuka. Sementara dalam kegiatan literasi, Talita tidak hanya membaca buku, tetapi juga mengikuti podcast “Obrolan Santai”.

Dari kegiatan tersebut, Talita mendapatkan pengalaman baru untuk berbicara dan tampil di hadapan orang lain.

“Saya dapat menambah pengetahuan dan lebih berani tampil. Saya dibantu sama Bu Eka,” kata Talita.

Bagi Talita, literasi membuat dirinya semakin percaya diri. “Saya dapat lebih mengetahui dan berani tampil bicara,” katanya.

Pengalaman Talita menunjukkan bahwa literasi tidak selalu berakhir di halaman buku. Apa yang dibaca kemudian menjadi bahan untuk berbicara, berdiskusi, bahkan tampil di depan publik.

Bukan Sekadar Mengejar Piala

Yoyon menegaskan, keberhasilan gerakan literasi tidak boleh hanya diukur dari jumlah perlombaan yang dimenangkan siswa. Prestasi memang penting, tetapi proses perubahan pada diri anak jauh lebih utama.

“Jangan sampai sekadar meramaikan dan sekadar nongol saja. Tujuan sekolah itu menumbuhkembangkan minat dan bakat anak. Kalau ada lomba, menang atau kalah itu belakangan,” katanya.

Menurutnya, keberhasilan justru terlihat ketika anak yang sebelumnya tidak terbiasa membaca mulai tertarik membuka buku. Anak yang semula enggan berbicara perlahan berani menyampaikan gagasan.

Siswa yang awalnya hanya membaca kemudian mampu memahami, menceritakan kembali, dan menghasilkan karya.

“Yang bagus itu prosesnya, dari awalnya kosong menjadi hasil yang baik. Keberhasilan itu dari nol menjadi hasil yang luar biasa,” katanya.

Sekolah pun terus membuka ruang bagi siswa untuk menghasilkan karya, termasuk melalui pembuatan buku. Siswa juga mengikuti berbagai kegiatan literasi di tingkat Jakarta hingga nasional.

Tantangan dari Balik Layar Gadget

Membangun kebiasaan membaca di tengah perkembangan teknologi bukan perkara mudah. Gadget telah menjadi bagian dari keseharian anak, sementara berbagai konten digital cepat menarik perhatian mereka.

Yoyon mengakui, kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan terbesar dunia pendidikan.

“Jujur, literasi dengan numerasi itu jauh lebih berat karena memang perang terhadap gadget ini sangat besar buat dunia pendidikan, khususnya di SD Semanan 03,” katanya.

Karena itu, sekolah memilih tidak berhenti pada satu kegiatan. Pembiasaan dilakukan secara konsisten agar buku dan aktivitas literasi tetap memiliki ruang dalam keseharian siswa.

Namun, sekolah menyadari bahwa upaya tersebut tidak dapat dilakukan sendirian. Kepala sekolah menjadi penggerak, sementara guru mendampingi siswa di sekolah.

Orang tua memberikan dukungan dari rumah. Sementara siswa menjadi bagian terpenting karena mereka sendiri yang harus berani mengeksplorasi kemampuan dan minatnya.

“Kalau kepala sekolah menggerakkan dan guru berkontribusi, tetapi orang tua tidak mendukung, akan sulit juga. Jadi semuanya saling berkaitan,” kata Yoyon.

Dukungan pemerintah, termasuk Suku Dinas Pendidikan Jakarta Barat, juga menjadi bagian penting. Dukungan tersebut membuka ruang bagi siswa untuk mengikuti berbagai kegiatan dan perlombaan.

Pada akhirnya, gerakan literasi di SDN Semanan 03 Jakarta Barat bukan sekadar aktivitas setiap Rabu pagi. Gerakan tersebut merupakan proses panjang.

Dimulai dari satu halaman buku yang dibaca, beberapa kalimat yang diringkas, hingga sebuah cerita yang disampaikan. Semua itu kemudian berujung pada keberanian seorang anak berdiri di hadapan teman-temannya.

Sebab, literasi bukan hanya tentang membaca kata. Literasi adalah tentang memahami, berpikir, berbicara, menemukan potensi diri, dan mengubah pengetahuan menjadi karya.

Di SDN Semanan 03 Jakarta Barat, semua itu sedang dibangun dari sesuatu yang sederhana. Anak-anak dibiasakan membaca, lalu diberi keberanian untuk menceritakan apa yang telah dibacanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....