Dari Penggergajian Klaten, Langkah Citra Fajar Utama Menembus Pasar Global
- 04 Sep 2026 16:10 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Doddik Sulistiono mendirikan Citra Fajar Utama (CFU) pada tahun 1998 dengan menyewa sebuah penggergajian sederhana di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.
- Perusahaan CFU berkembang pesat dari tempat sederhana hingga mampu membeli lahan dan membangun pabrik sendiri pada tahun 2012.
- Produk kayu dari CFU telah berhasil menembus pasar global melalui pertumbuhan usaha yang konsisten dan strategis.
RRI.CO.ID, Jakarta - Di sebuah penggergajian sederhana di Klaten, langkah kecil Citra Fajar Utama (CFU) mulai menorehkan cerita panjang. Dari tempat itulah Doddik Sulistiono merintis usaha hingga produk kayunya perlahan menembus pasar global.
Doddik membangun CFU pada 1998 dengan menyewa sebuah tempat penggergajian di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Dari ruang sederhana tersebut, usahanya terus bertumbuh hingga mampu membeli lahan dan membangun pabrik sendiri pada 2012.
“Kami berdiri pada 1998, itu awal mula jualan, kemudian, pada 2005 kami mulai ekspor. Ekspor pertama saat itu ke Taiwan, produknya flooring kayu,” ujar Doddik dalam keterangannya, Jumat, 4 September 2026.
Pintu perdagangan internasional CFU terbuka pada 2005, jauh sebelum perusahaan memiliki pabrik sendiri di Klaten. Produk flooring kayu menjadi langkah pertama yang membawa nama CFU menyeberangi batas Indonesia menuju Taiwan.
Dari Taiwan, jejak CFU kemudian semakin panjang dengan menjangkau sejumlah pasar di Asia, Eropa, dan Afrika. Perusahaan itu kini menghadirkan kerajinan kayu, produk berbahan kayu jati, furnitur, hingga finger-joint laminated board.
“Saat ini, kami juga ekspor ke Tiongkok dan Eropa, kami pun telah mendapat proyek di Ghana. Eropa saat ini menjadi pasar terbesar kami, dan saat ini kami sedang menjajaki pasar Eropa Timur,” kata Doddik.
Di balik perjalanan menuju pasar dunia, CFU juga menghadapi tantangan berupa perubahan regulasi perdagangan. Perubahan aturan tersebut dapat memengaruhi biaya sekaligus waktu yang dibutuhkan dalam proses ekspor.
“Harapan saya kepada pemerintah, terutama Kementerian Perdagangan. Agar semakin menyederhanakan regulasi,” ucap Doddik.
Selain regulasi, Doddik juga berharap pelatihan pemerintah mampu mengikuti denyut kebutuhan industri pengolahan kayu. Ia menilai pengembangan industri tersebut membutuhkan sinergi lintas kementerian karena melibatkan banyak sektor yang saling berkaitan.
“Pelatihan-pelatihan harus diadakan sehingga industri kita bisa berkembang,” ujar Doddik. Harapan itu menjadi bagian dari ikhtiar CFU agar industri pengolahan kayu terus bertumbuh menghadapi kebutuhan pasar.
Di pasar domestik, perjalanan CFU kemudian menemukan lembar cerita baru setelah mengikuti sebuah pameran pada 2015. Dari ruang pameran tersebut, CFU menawarkan finger-joint laminated board yang kemudian membuka jalan menuju kesempatan bersama Starbucks.
Setahun berselang, sebuah kesempatan datang ketika CFU mendapat pesanan membuat meja untuk gerai Starbucks di kawasan Menteng, Jakarta. Pesanan pada 2016 itu menjadi pintu awal bagi CFU untuk membuktikan kualitas produk kepada calon pelanggan.
“Awal mulanya, pada 2016, kami mendapat pesanan pertama kali di Menteng. Kalau memang lolos, tidak pecah, lanjut enam bulan, kami kuatkan lemnya dan kualitas pekerjaannya, akhirnya lolos,” ujar Doddik.
Ujian tersebut akhirnya berbuah kepercayaan yang membuat langkah CFU semakin panjang di pasar domestik. Setelah berhasil memenuhi standar kualitas, CFU kemudian dipercaya mengerjakan kebutuhan perlengkapan berbagai gerai Starbucks.
“Dari situlah mereka mempercayakan ke CFU untuk mengerjakan setiap gerai. Sampai hari ini, total hampir 900 gerai dan semuanya memang dari sini, dari CFU,” ujar Doddik.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....