Beda Generasi, Satu Arena: Sepuh dan Anak Muda Taklukkan Lokapasar Digital Dunia
- 30 Agt 2026 00:34 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Pemerintah memperkuat regulasi ekosistem digital melalui Permendag Nomor 19 Tahun 2026 untuk melindungi konsumen dan mengutamakan produk dalam negeri.
- Kementerian Komdigi dan Kementerian UMKM mendorong transformasi usaha mikro agar beralih dari sekadar masuk platform digital menuju peningkatan produktivitas serta adopsi kecerdasan buatan.
- Pelaku usaha rumahan Sambal RoaRia membuktikan pentingnya penguatan standar mutu dan kejujuran produksi di sektor hulu guna menjamin keberlanjutan pasar domestik maupun ekspor.
RRI.CO.ID, Depok – Uap panas mengepul dari wajan di dapur kediaman kawasan Raffles Hills, Kota Depok, Jawa Barat. Aroma pedas cabai rawit menguar dengan gurihnya ikan roa asap asal perairan Sulawesi Utara.
Seorang wanita yang bukan lagi separuh baya berdiri di meja dapur granit abu-abu. Tangannya perlahan menuang adonan sambal berminyak ke dalam toples kaca mini berukuran 115 gram.
"Saya Titin Wala. Saya udah sepuh, 65 tahun," kata Titin Wala sembari tertawa saat ditemui RRI pada Kamis, 20 Agustus 2026.
Ingatannya melayang pada peristiwa sembilan tahun silam saat usaha rumahan bermerek RoaRia bermula. Kala itu keluarganya menerima kiriman ikan roa asap dari Gorontalo yang sangat keras dan kering.
"Jadi udah produksi Sambal Roa tuh udah 9 tahun lah. Itu juga ya tanpa sengaja sih, kejeblos aja gitu," ujar Titin Wala.
Ikan laut kering tersebut sempat tersimpan lama di sudut lemari es tanpa pernah disentuh. Sang suami mengingatkan agar kiriman berharga dari tanah rantau itu tidak berakhir menjadi mubazir.
"Terus suami bilang, 'Bikin dong, sayang masa dikasihin sama keluarga enggak dibikin,' gitu. Akhirnya dibikinlah, dikupas (bumbu-red) ya, pembantu juga sembari cemberutlah karena (ikannya-red) keras itu. Jadi ditumbuk, dibikin," kata Titin Wala.
Ikan roa merupakan hasil tangkapan nelayan perairan laut timur di Maluku dan Sulawesi bagian utara. Bentuk tubuhnya memanjang menyerupai ikan kembung dengan cucut panjang pada bagian bawah mulutnya.
"Mirip gergaji, tapi ini tidak bergergaji. Nah itu ditangkap, kemudian diasap lama sampai kering garing," ujar Clay Wala, suaminya.

Titin membuang bagian kepala serta kulit lalu menumbuk kasar daging punggung ikan yang padat. Kala itu, ia memadukannya dengan racikan bumbu dapur seadanya berupa cabai rawit merah, bawang merah, dan garam.
"Ada yang bilang pakai serai, pakai terasi, kasihin tomat yang banyak. Tapi ya akhirnya udah, karena pada waktu itu dibikin ternyata taste-nya oke, ya itulah yang dipertahankan," kata Clay Wala.
Racikan sambal perdana itu langsung memikat selera seluruh anggota keluarga saat bersantap di rumah. Titin kemudian membagikan sebagian botol olahannya kepada teman-teman satu perkumpulan olahraga senam kebugaran.
"Dia bilang, 'Saya tahu roa itu mahal, Tin. Saya enggak mau gratis.' 'Ya oke.' Kasihin ke dia, dia bilang, 'Oh enak,' dan dia orang ngomongnya pakai bahasa Sunda, 'Ngeunah, Tin. Sambalnya ngeunah (enak-red),' gitulah, cocok, dah," ucap Titin Wala, menceritakan respons sejawatnya.
Bahkan, tetangganya warga perantau asal Gorontalo di kompleks perumahan beralih menjadi pelanggan tetap sambal Titin. Pelanggan tersebut rutin memesan kemasan dus berisi enam hingga 12 botol untuk buah tangan.
"Biasanya dia suka bikin di rumah atau dapat kiriman dari Gorontalo, tapi sekarang enak katanya dekat, pesan di saya. Saya kan siapkan tuh dus yang isi satu, enam, 12, jadi untuk oleh-olehlah," kata Titin.
Tahun 2017 menjadi titik awal bagi pasangan suami istri ini untuk menekuni usaha itu secara serius. Titin mulai menyiapkan 25 botol kaca untuk dibagikan secara cuma-cuma saat mencoba uji pasar.
Suaminya dengan rambut kelabu dan kaus oblong putih berlogo BSN mendampinginya selama perbincangan bersama RRI. Pria bernama Clay Wala ini telah menginjak usia 71 tahun.
"Saya sebagai driver-nya. Ibu mau ke mana-mana, ngantarin. Ya, jadi selama ini bantuin Ibu sebagai suporter, penyemangat," ujar Clay Wala.
Sebagai pensiunan akademisi di bidang grafika, Clay mengambil peran sentral dalam penjaminan mutu kemasan. Ia merancang tata letak brosur promosi dan mencetak label stiker berperekat untuk wadah kaca.
Clay juga yang menolak penggunaan metode sterilisasi bersuhu 121 derajat Celsius untuk produk Sambal RoaRia ini. Suhu setinggi itu terbukti merusak tekstur dan mematikan kenikmatan cita rasa asli olahan ikan roa.
"Pasteurisasi itu artinya kita harus masukkan itu di atas 80 derajat dan langsung ditutup. Dengan begitu, minim oksigen, temperatur tinggi, kedap, dan kadar airnya rendah," ucap Clay Wala.
Tutup botol ulir logam berlapis plastisol karet dipasang rapat saat adonan sambal masih mengepul panas. Ketika mendingin, ruang dalam botol mengedap hampa udara sehingga bakteri berbahaya tidak sanggup berkembang biak.
"Makanya ini kalau (disimpan-red) di suhu ruang 2,5 tahun aman. Tanpa pengawet lho. Tapi ini diakui setahun. Jadi hanya ditulis satu tahun awetnya, kami yang ambil safety-nya aja," kata Clay Wala.
Menurutnya, petugas Dinas Kesehatan Kota Depok mendatangi kediaman mereka untuk menguji higienitas produknya. Alhasil, produk ini dinyatakan lolos uji sertifikasi dengan diberikannya nomor Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT).
Bahkan, Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (DKUM) Kota Depok turut memfasilitasi penerbitan sertifikasi halal resmi. Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) untuk merek dan logo RoaRia pun didaftarkan.
Tidak main-main, Badan Standardisasi Nasional (BSN) turut membina pasutri lansia ini untuk mendapatkan pengesahan Standar Nasional Indonesia (SNI). Clay menceritakan bagaimana usaha yang termasuk kategori rumahan ini harus menyusun 23 dokumen sistem manajemen mutu secara mandiri.
Dokumen tersebut merinci alur baku proses pengolahan sambal, penanganan keluhan pembeli, hingga penarikan produk cacat. Clay juga melengkapi dapurnya dengan timbangan digital yang telah teruji akurasi kalibrasi resminya.
"Saya punya anak timbangan yang sudah dapat cap segilima dari Metrologi, yang 100 gram dan 200 gram. Dan saya bilang bahwa ini legal lho, terkalibrasi," kata Clay Wala.
Mempertegas keamanan produknya, sampel sambal dikirim ke laboratorium Balai Pengujian Penerapan Produk Kelautan dan Perikanan di Surabaya. Hasil laboratorium menyatakan sambal bebas dari cemaran logam berat merkuri, timbal, arsen, serta kadmium.

"Jadi pertama itu dites karena ingin tahu sebenarnya sambal ini layak sertifikasi apa enggak. Begitu diuji ternyata ini bagus, Surabayanya langsung senang. Sampai ada yang komentar, 'Wah ini ada emas di Depok,' katanya," ucap Clay Wala.
Sertifikasi SNI 9106:2022 untuk kategori sambal ikan akhirnya berhasil mereka genggam pada tahun 2025. Titin menjadi yang pertama pemegang sertifikat standar nasional tersebut di Indonesia.
Langkah mereka merambah dunia perdagangan digital sendiri tidak menunggu lama, yakni setahun setelah memulai. Namun, tantangan utama pasangan lansia ini adalah dihantui rasa rendah diri terhadap perkembangan teknologi gawai pintar.
"Tadinya kan enggak kepikiran mau jualan online. Karena ya biasalah, seuzur, seumur gini selalu bilangnya saya gaptek," ujar Clay Wala sembari terkekeh.
Dan jalan hidup penjualan digital mereka pun menjadi berbeda kala tokoh Asosiasi Belimbing Kota Depok mendatangi mereka. Mereka diperkenalkan dan didaftarkan untuk masuk ke dalam aplikasi Shopee.
Bahkan, Titin mengajak para pelaku usaha mikro di sekitar lingkungannya untuk ikut mendaftarkan produk mereka. Berbagai produk olahan makanan khas Depok lantas didaftarkan bersamaan ke dalam sistem lokapasar digital tersebut.
Berikutnya, Titin mengundang seorang rekanan fotografer untuk membuat dokumentasi produk botol kaca miliknya. Menurutnya, kejelasan visual kemasan tersebut menjadi pemikat utama calon pembeli di etalase lokapasar daring.
"Seminggu bersorak di grup WA itu karena mulai pecah telur. RoaRia-nya terjual satu. Terus, yang pertama, kedua, produk teman-teman menyusul ikut terjual," kata Clay Wala.
Prestasi konsistensi mutu yang dijaga tersebut mengantarkan pasutri sepuh ini diundang ke panggung perayaan mall Kota Kasablanka. Clay mengatakan produk sambal rumahan asal Depok ini berdiri sejajar menerima penghargaan bersama jenama Samsung dan Philips.
Kami mengamati bagaimana Titin menimbang sambal-sambal tersebut ke atas timbangan digital bersertifikat metrologi di dapur bersihnya. Ada banyak cerita menantang di balik setiap toples-toples kaca yang kini merambah lokapasar digital.
|
Selanjutnya,
Platform lokapasar Shopee
|
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....