Sabang Merauke 2026, ketika Budaya Menyalakan Panggung Ekonomi Kreatif

  • 25 Agt 2026 10:30 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Pagelaran Sabang Merauke 2026 melibatkan sekitar 1.700 pelaku seni dan pekerja kreatif.
  • Raisa dan Yura Yunita menghadirkan karakter Srikandi dan Mahadewi dalam kemasan pertunjukan modern.
  • Pagelaran menunjukkan budaya dapat berkembang sekaligus membuka ruang bagi ekosistem ekonomi kreatif.

RRI.CO.ID, Jakarta – Cahaya berganti warna, musik mengalun, lalu ratusan penari memenuhi panggung Indonesia Arena. Malam itu, budaya Nusantara hadir bukan sebagai kenangan, melainkan energi yang terus bergerak.

Pagelaran Sabang Merauke 2026 membawa penonton menyusuri keberagaman melalui kisah Hikayat Srikandi Nusantara. Seni tradisional dipertemukan dengan teknologi, musik modern, dan kreativitas ribuan pekerja di balik panggung.

Penyelenggara memandang budaya sebagai warisan yang perlu terus dirawat sekaligus dikembangkan. “Budaya tidak cukup hanya diwariskan, tapi harus dirawat, bahkan dikembangkan, supaya ekonominya juga bisa turut tumbuh,” ujarnya.

Di balik kemegahan tersebut, sekitar 1.700 pelaku seni dan kreatif bekerja membangun satu cerita besar. Mereka datang sebagai penari, penyanyi, pemusik, desainer, koreografer, hingga teknisi panggung.

Berbulan-bulan persiapan akhirnya bertemu dalam satu malam ketika lampu utama perlahan meredup. Dari sana, Indonesia Arena berubah menjadi ruang cerita yang membawa penonton menyusuri berbagai wajah Nusantara.

Ratusan penari bergerak membentuk gelombang, kemudian berpencar mengikuti perubahan irama dan cerita. Panggung besar mendadak terasa intim ketika sorot cahaya mengikuti perjalanan setiap karakter.

Busana ikut berbicara melalui lebih dari 1.500 kostum rancangan 16 desainer. Warna, tekstur, dan detailnya memperkuat identitas setiap adegan tanpa menenggelamkan akar budaya.

Musik menjadi jembatan berikutnya yang menghubungkan berbagai daerah dan generasi. Sebanyak 60 musisi orkestra dan 119 anggota paduan suara mengisi lanskap suara sepanjang pertunjukan.

Mereka berpadu dengan permainan sekitar 50 jenis alat musik tradisional. Bunyi Nusantara bergerak menuju orkestra dan pop, lalu kembali menemukan jalannya menuju akar.

Di antara kerumunan seniman, Raisa menjalani pengalaman yang berbeda dari panggung biasanya. Malam itu, ia tidak hanya bernyanyi, tetapi juga menjelma menjadi Srikandi.

Raisa menyebut peran tersebut menghadirkan pengalaman baru dalam perjalanan kariernya. “Aku merasa hari ini akhirnya pecah telur juga jadi Srikandi,” ujarnya.

Tepuk tangan penonton menjadi jawaban setelah perjalanan karakter itu selesai dibawakan. Bagi Raisa, sambutan tersebut terasa datang dengan emosi yang lebih dekat dan personal.

Tak jauh dari sana, Yura Yunita menghadirkan dunia berbeda melalui karakter Mahadewi. Ia muncul di atas naga tiga kepala yang diselimuti asap dan permainan cahaya.

Yura menyebut adegan tersebut menjadi bagian paling menantang dalam penampilannya. “Scene Mahadewi kali ini adalah part yang paling menantang,” katanya.

Kostumnya juga tidak sekadar menjadi pelengkap visual di atas panggung. Setiap detail membawa cerita magis yang membantu membangun karakter Mahadewi lebih kuat.

Pertunjukan terus bergerak, sementara pekerjaan rumit berlangsung senyap di belakang panggung. Musisi, penata cahaya, kru teknis, dan pekerja kreatif menjaga setiap perpindahan berjalan tepat.

Di situlah pagelaran memperlihatkan wajah lain budaya yang jarang terlihat penonton. Satu pertunjukan dapat membuka ruang kerja bagi banyak keahlian dalam ekosistem ekonomi kreatif.

Kolaborasi juga melibatkan dunia usaha yang melihat budaya sebagai bagian dari pertumbuhan industri kreatif. Dukungan tersebut membuat panggung budaya memiliki ruang lebih luas untuk terus berkembang.

Presiden Direktur iForte dan Protelindo Group F. Aming Santoso melihat perjalanan pagelaran terus bertumbuh. Lima tahun kolaborasi menunjukkan pertunjukan dapat berkembang melalui kerja bersama berbagai pihak.

F. Aming melihat setiap penyelenggaraan selalu menyisakan ruang untuk berkembang. “Tiap tahun kita selalu bisa menjadi lebih baik,” ujarnya.

Ketika pertunjukan berakhir, panggung perlahan kembali gelap dan suara tepuk tangan mulai mereda. Namun, cerita yang dibawa malam itu tidak ikut berhenti bersama padamnya cahaya.

Sabang Merauke 2026 memperlihatkan budaya mampu berdiri berdampingan dengan teknologi dan industri modern. Tradisi tetap berakar, sementara kreativitas membawanya bertemu generasi dan peluang ekonomi baru.

Malam itu, Indonesia Arena bukan sekadar menjadi tempat sebuah pertunjukan berlangsung. Ia menjadi ruang ketika budaya, pekerjaan kreatif, dan identitas bangsa tumbuh dalam panggung yang sama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....